Sabtu, 01 Februari 2014

COMIC 8 movie experience

I think this is the most anticipated movie for this year, at least in my own version. And after I watch it at 30 January 2014 at Atrium XXI, it prove to be absolutely right. Comic 8 is damn hillarious. Ok, write in english may make me seem cooler... but not every reader know the meaning. Can't you write ini Indonesian please...

Ok deh kalo begitu cyiinn.... Jadi film yang dibintangi oleh bintang-bintang stand up comedy ini yaitu ... ( ga usah disebutin ya, coba aja cari di google) dan bercerita tentang... ( lagi-lagi ga usah di ceritain apa ceritanya, bisa search aja di situsnya 21). Sungguh sungguh dan sangat sangat tidak mengecewakan. Heavily reccomended buat pecinta komedi, apalagi pecinta stand up comedy. Itu kaya lo nonton stand up comedy hampir 2 jam nonstop, kebayang ga sih sakitnya perut sama mulut ketawa terus. Sampe-sampe pas nonton gue sempet nunggu-nungguin adegan-adegan yang ga lucunya semata-mata biar mulut sama perut gue bisa istirahat sejenak. Dari sisi komedi film ini top abis, kompor gas. Semua komik memiliki kontribusi masing-masing dalam memancing kelucuan. Dan hebatnya film ini tidak semata-mata hanya menjual sisi komedinya saja, tapi juga menjual sisi ceritanya yang mengandung twist yang tidak bisa ditebak.

Dan dari sisi minusnya, which almost every film has it, ini mungkin yang harus diperbaiki dari kebanyakan film-film Indonesia. Although tidak semuanya. Ada adegan-adegan yang tidak pantas ditonton anak kecil, adegan-adegan yang terlalu berlebihan mempertontonkan aurat wanita ( dan pria ), .adegan yang sebenarnya 18+ dan tidak bagus dilihat dari sudut pandang moral malah menjadi bahan tertawaan. Seperti ada adegan pas wanita yang panik karena jadi sandera perampokan malah buka baju, adegan Nikita Mirzani yang boobsnya terguncang karena menembak. Kemudian adegan yang mempertontonkan kemewahan, mobil mewah, rumah mewah. Rakyat Indonesia sudah muak dengan acara pamer kemewahan di layar berita. Jangan ditambah-tambahkan dengan pamer kemewahan di layar bioskop. Adegan-adegan seperti itu justru menurut saya menurunkan mutu film, walaupun justru menambah rating. Tapi haruskah mengorbankan mutu film dan moral bangsa hanya atas nama rating dan uang? Mereka-mereka yang harus menjawab.


Dari adegan yang tidak perlu itu tadi, saya yang tadinya mau mengajak anak nonton film komedi yang berkualitas jadinya hanya nonton sendirian di bioskop. Padahal tertawa sama-sama itu lebih seru dan menambah keakraban dibanding tertawa sendiri-sendiri.... apalagi sendirian di pinggir jalan.

0 komentar:

Posting Komentar