Minggu, 14 November 2010

resiko menjadi baik

Saya pernah membaca sebuah kisah, entah dari mana. Tentang seorang ulama yang sedang mengimami shalat lalu tiba-tiba beliau mundur dan memberi isyarat agar orang lain menggantikannya menjadi imam. Setelah shalat selesai beliau ditanya perihal mundurnya beliau dari posisi imam. Sang ulama menjawab, tadi ketika sedang shalat terpetik dalam pikiranku bahwa shalatku ini lebih baik dan lebih khusyu daripada shalat makmumku. Karenanya aku mundur.

Itu juga yang saya takutkan jikalau saya mulai belajar menjadi baik dan soleh. Seiring dengan bertambahnya amal soleh yang saya perbuat, saya takut jikalau saya mulai memandang amal soleh yang dilakukakan orang lain kurang dibandingkan dengan saya. Seiring dengan bertambahnya ilmu yang saya pelajari, saya takut jikalau saya nanti berpandangan 'orang lain lebih bodoh dari saya'. Saya hanya tak ingin merasa diri ini lebih soleh atau lebih pandai dari orang lain.

Jikalau nanti saya menjadi orang yang soleh atau orang yang berilmu. Saya ingin sekali menganggapnya sebagai sebuah keberuntungan, semata-mata rahmat dari Allah. Sama sekali bukan karena usaha dan jerih payah saya. Saya ingin sekali merasa bahwa kebaikan dan ilmu yang dianugerahkan Allah saat ini bisa dengan mudah secara tiba-tiba dicabut dari diri saya. Bahwa Allah berkuasa dengan sangat mudah mengubah seorang pendosa menjadi ulama. Sehingga saya tidak punya alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain.

2 komentar:

Unknown mengatakan...

kecerdasan
kepintaran
rasa semangat
fisik yang indah
emosi yang stabil
banyak teman
kebahagiaan
ketekunan
idealitas
pandai berbicara
pandai berkreasi
hidup mandiri
etc,
ALL, COZ ALLAH
semua kelebihaan yang Allah berikan pada masing masing orang dengan penuh perhitungan, dan sesuai kapasitas hambaNya
dan potensi tersebut hakikatnya adalah amanah agar bermanfaat untuk banyak orang, untuk mengajak orang lain,bukan untuk memandang dengan sebelah mata, bukan juga menjadi alasan hati merasa "lebih". perlukah merasa GR atas kelebihan2 kita? sesungguhnya siapa pemberi kelebihan2 itu? jangan puas , tapi bersyukurlah :)

Bayah Traveller mengatakan...

makasih din

Posting Komentar