Tampilkan postingan dengan label Pekerjaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pekerjaan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Mei 2015

WALK the Talk

Salah satu hal yang dikhawatirkan manajer adalah kalau anak buah tidak mau mendengarkan arahan dari atasannya. Masuk kuping kanan keluar kuping kanan. Jadi tidak ada waktu untuk masuk ke otak. Jangankan dilaksanakan, didengarkan saja sepertinya enggan. Kejadian ini pernah terjadi dengan saya. Ketika saya mendengar selentingan bahwa apa yang saya katakan tidak dianggap.

Saya pernah bilang ke anak buah untuk men-standby-kan HP. Jika suatu saat atasan, rekan kerja atau pihak terkait menghubungi bisa langsung kita respon. Atau minimal menelpon atau mengirim pesan balik ke pihak yang menghubungi. Pada saat di kantor maupun di luar kantor. Tapi arahan saya itu ternyata hanya dianggap angin oleh anak buah saya. Mengapa? Karena HP saya, beberapa bulan terakhir, jarang bisa dihubungi. Apalagi kalau sudah diluar kantor. Saya seperti hilang dari peredaran. Anak buah yang ingin menelpon saya untuk menanyakan keputusan, meminta saran atau meminta pertimbangan, tidak bisa bisa menghubungi saya. Itulah penyebabnya.


Karena saya tidak melakukan apa yang saya katakan. Kalau istilah kerennya tidak walk the talk. Antara pembicaran dan tindakan tidak sejalan. Padahal apa yang saya katakan ke anak buah adalah apa yang saat ini dan akan saya lakukan. Tapi anak buah tidak melihat itu, mereka tidak bisa melihat apa yang akan saya lakukan. Anak buah hanya bisa melihat apa yang pernah dan selalu saya lakukan di masa lalu. Betapapun semangat saya untuk berubah saat ini, itu kurang berarti dibanding apa yang selama ini telah mereka lihat dari tingkah lalu atasannya. Karenanya penting sekali bagi seorang pemimpin untuk mencontohkan apa-apa yang mereka ingin lihat dari bawahannya. Jika atasan memberi teladan yang baik, pasti ada anak buah yang mengikuti, terinspirasi, termotivasi dari teladan yang diberikan oleh pimpinan. Meskipun tidak semua anak bisa dan mau mengikuti. Jika kita tidak memberikan teladan yang baik kepada anak buah, maka dipastikan kita tidak bisa medapatkan sikap yang diinginikan.

Ada kutipan yang sangat mengena sekali, talk is cheap, walk the talk. Ya, bicara itu mudah, gampang, gampil. Yang sulit itu bertindak secara konsisten sesuai apa yang dibicarakan.

Jumat, 01 Mei 2015

POLITIK Kantor

Dengan semakin besar ukuran sebuah perusahaan, dengan semakin kompleksnya susunan organisasi, dengan semakin bertambahnya jumlah karyawan. Ada satu fenomena yang mungkin tak terhindarkan, yaitu politik kantor. Dalam tulisan ini saya ingin membahas dari sudut pandang pribadi mengenai politik kantor. Berdasarkan pengalaman, hal yang menimbulkan poltik kantor adalah :
  1. Adanya kepentingan individu yang berbeda dari kepentignan organisasi
  2. Rasa egoisme yang berlebihan
  3. Sikap mau menang sendiri, tidak mencari win-win solution
  4. Ketidakcocokan atau kesalahpahaman dengan sesama rekan kerja, atasan atau bawahan
  5. Sistem, peraturan, kebijakan atau keputusan yang dinilai tidak adil bagi sebagian orang atau kelompok di kantor
  6. Rasa senioritas
  7. Gosip
  8. Rasa tidak aman

Dampak dari politik kantor adalah :
  1. Dapat memecah belah individu maupun kelompok yang ada di suatu perusahaan
  2. Membahayakan kerjasama tim
  3. Membuat karyawan tidak fokus terhadap tujuan perusahaan, lebih terfokus pada ambisi pribadi maupun kelompok
  4. Menurunkan tingkat kenyamanan kerja
  5. Membuat karyawan yang berorientasi terhadap hasil tidak betah

Politik kantor ini seperti wabah penyakit. Mudah timbulnya namun sulit untuk diobati. Namun begitu, keberadaan politik kantor baik sedikit atau banyak, pasti ada di setiap kantor. Politik kantor hampir tidak dapat dihindari. Pertanyaannya bukanlah bagaimana cara menghindarinya. Pertanyaannya adalah bagaimana cara agar kita sebagai pemimpin atau manajer cepat tanggap dan cepat menangani politik kantor agar dampaknya tidak menyebar kemana-mana dan tidak menjadi penyakit akut.

Di saat organisasi sibuk memikirkan tantangan-tantangan dari luar, seperti pesaing, kondisi ekonomi makro, tuntutan pelanggan dan lain-lain. Ada tantangan dari dalam yang lebih berbahaya dan mematikan bagi sebuah organisasi, yaitu politik kantor. Jika diibaratkan penyakit, maka politik kantor ini adalah penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh menjadi rawan terhadap banyak penyakit lainnya. Dengan adanya politik kantor yang tidak terkendali. Maka penyakit seperti kemalasan, ketidakdisiplinan, sabotase pekerjaan, gosip, KKN, ketidakjujuran, dll dapat mudah hinggap.


Beware of office politic! You can't avoid it, but you can handle it. So, handle with care.

Minggu, 19 April 2015

PR 2015 : job and CAREER

Karena kemungkinan ini adalah tahun terakhir saya, sebagai manajer di koperasi tempat ini. Maka otomatis ada dua hal yang menjadi PR saya. Yaitu :
  1. Leaving a legacy. Membereskan segala sesuatunya di koperasi. Mulai dari organisasi, manajemen, keuangan, SDM, general affair, unit usaha, CSR. Setelah hampir tiga tahun membenahi koperasi, Alhamdulillah semuanya tinggal proses finishing.
  2. Preparing for next career. Karir berikutnya kemungkinan masih di sektor koperasi. Sebagai manajer di koperasi dengan skala yang lebih besar. Ada beberapa hal yang perlu disiapkan, antara lain resume & CV, networking, portofolio, skill & knowledge.

Untuk mengingatkan diri saya, dan sebagai memoar atas moment ini. Saya tuliskan beberapa hal yang menjadi PR saya di tahun ini.

LEAVING A LEGACY
  • Mengelola akuntansi dan menyajikan laporan keuangan sesuai SAK ETAP
  • Memenuhi semua kewajiban perpajakan
  • Merapihkan data simpanan dan pinjaman anggota
  • Revitalisasi rekening-rekening milik koperasi
  • Melaksanankan perencanaan dan pengendalian anggaran
  • Merapihkan arsip-arsip dari tahun 2012 s/d 2015, hardcopy & softcopy
  • Melaksanakan sistem manajemen kearsipan yang rapih dan profesional
  • Melakukan manajemen kantor yang profesional
  • Melaksanakan semua langkah-langkah perlindungan aset dan infrasturktur koperasi
  • Membuat format database stakeholder
  • Merancang sistem informasi yang reliable beserta pemeliharaannya
  • Menyusun draft anggaran rumah tangga
  • Menyempurnakan 90 lebih peraturan khusus dan petunjuk teknis
  • Mempelopori pembentukan forum komunikasi dengan koperasi karyawan PT. Indonesia Power
  • Memantapkan skill, attitude dan teamwork pengelola koperasi (supervisor, staf dan personil pendukung)
  • Membentuk tim jasa teknik
  • Mengurus pemisahan manajemen koperasi dan PT
  • Menginisiasi bisnis external koperasi

PREPARING FOR NEXT CAREER
  • Menulis buku mengenai koperasi
  • Membuat blog/website mengenai koperasi
  • Networking ke potential employer
  • Menyusun portofolio
  • Mempelajari kembali NLP
  • Mempelajari kembali materi sertifikasi manajer KJK
  • Mempelajari SAK ETAP
  • Mempelajari balance scorecard
  • Mempelajari business model generation
  • Memantapkan pengetahuan dan keterampilan yang sudah dimiliki
  • Beeing good person


Sementara itu saja dulu ...

Minggu, 29 Maret 2015

Tugasmu TUGASKU Juga, Tugasku Tugas Siapa?

Saya seringkali mengatakan kepada rekan-rekan staf bahwa tugas kalian adalah tugas saya juga, tanggung jawab kalian adalah tanggung jawab saya juga. Jika pada akhirnya kalian tidak mengerjakan tugas dengan benar maka saya yang pada akhirnya memperbaiki tugas tersebut agar menjadi benar. Jika ternyata kalian tidak memenuhi tanggung jawab yang harusnya kalian laksanakan, saya juga ikut bertanggung jawab. Jadi saya harus bisa mengerjakan tugas dan memikul tanggung jawab sembilan orang staf. Saya terima itu, meskipun berat, karena memang itu bagian dari tugas dan tanggung jawab seorang manajer. Itu mengapa manajer dibayar berkali-kali lipat dari staf, karena tuntutan kerjanya juga berkali-kali lipat dari staf.

Lalu pertanyaannya, jika ternyata waktu dan pikiran saya habis untuk memperbaiki tugas staf yang kurang sempurna, membimbing mereka supaya mereka bisa mandiri, memfasilitasi mereka supaya pekerjaannya lancar. Lalu kapan waktu saya untuk mengerjakan tugas saya: yaitu membangun sistem. Membangun sistem bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi dibuat dari nol dan dikerjakan seorang diri. Siapa yang membantu saya membuat sistem? Siapa yang menggantikan saya membuat sistem jika saya berhalangan? Disitu kadang saya merasa sedih.

Bahkan pekerjaan membangun sistem itu sendiri pekerjaan yang saya berikan kepada diri sendiri, tidak ada yang memerintahkan saya untuk membangun sistem, tidak ada yang mengontrol saya dalam membangun sistem, ketika sistem ini selesai saya tidak punya kewajiban melaporkan hasilnya kepada siapa-siapa.


Apakah salah mereka yang belum punya kesadaran membangun suatu sistem? Atau salah saya yang belum mengajak mereka bersama-sama membangun sistem? Waktu dan energi akan habis jika harus menyalahkan ini itu. Sebaiknya waktu yang ada digunakan untuk melaksanakan tugas yang ada, sebisa mungkin meskipun seorang diri.

Sabtu, 28 Maret 2015

segerombolan ANAK BARU

Sungguh luar biasa koperasi ini menurut saya, dikelola oleh segerombolan anak-anak baru yang tidak berpengalaman, termasuk manajernya. Orang-orang yang tidak punya pengalaman di koperasi, orang-orang yang tidak punya pengalaman bekerja di kantoran, orang-orang yang tidak punya pengalaman bekerja sama sekali, orang-orang yang tamatan SMA. Orang-orang itu lah yang diserahkan tanggung jawab untuk mengelola koperasi, bisa dibayangkan bagaimana kacaunya. Pada kenyataannya, untungnya tidak sekacau itu. Tentu masih banyak hal yang belum dilakukan segerombolan anak-anak baru ini, namun kembali lagi: apa yang kamu harapkan dari segerombolan anak baru?

Segerombolan anak-anak baru yang tidak berpengalaman ini ditugaskan mengelola Koperasi layaknya segerombolan domba yang ditugaskan memburu babi hutan, entah kenapa berhasil menangkap beberapa babi hutan. Saya percaya segerombolan domba ini kelak kemudian akan menjelma menjadi sekelompok serigala. Segerombolan anak-anak baru ini kelak akan menjadi tim yang terdiri dari para profesional. Bagaimanapun juga sampai saat ini, anak-anak baru ini mampu mengelola koperasi sampai dengan seperti ini.

Tidak ada lagi yang harus diperintah untuk pekerjaan yang sifatnya rutin. Tidak ada lagi yang masalah miskomunikasi karena pekerjaan yang tidak terkoordinasi dengan baik. Tidak ada lagi lingkungan kerja, tumpukan berkas dan file yang berantakan. Tidak ada lagi yang bekerja dengan lambat. Tidak ada lagi yang tidak jelas mengenai tugas dan tanggungjawabnya. Tidak ada lagi masalah kedisiplinan. Pada akhirnya segerombolan akan-anak baru ini yang tadinya tidak tahu apa yang harus dilakukan, yang harus selalu diingatkan, yang pekerjaannya kurang memuaskan, akan menjadi profesional yang tahu betul apa tugas dan tanggung jawabnya, mampu bekerja secara mandiri dan dapat memberikan hasil kerja yang memuaskan.


Entah bagaimana caranya saya cuma punya firasat bahwa anak-anak baru ini akan menjelma menjadi para profesional dan membawa koperasi menjadi organisasi yang profesional.

Jumat, 27 Maret 2015

I'm sorry GOODBYE

Maafkan jika nanti saya harus mengundurkan diri dari koperasi.
Bukan karena saya tidak cinta dengan koperasi, organisasi yang telah bersama-sama kita besarkan.
Bukan karena saya tidak ingin bersama-sama dengan kalian lagi, meskipun menyenangkan.
Bukan karena saya tidak sanggup lagi, saya masih sanggup.
Bukan karena saya tidak dibayar cukup, sedari awal saya bekerja disini saya tidak terlalu mempersoalkan bayaran.
Bukan karena tugas saya selesai, tugas memelihara dan mengembangkan koperasi tidak akan pernah selesai.
Dan bukan karena alasan-alasan lainnya yang kalian pikirkan.

Hanya saja jika nanti saya harus mengundurkan diri dari koperasi.
Karena memang sudah sunatullah ada pertemuan dan ada perpisahan, dan ini adalah waktunya perpisahan.
Karena memang sudah cukup waktu saya di koperasi, jangan tanyakan mengapa.
Karena memang ada jalan lain yang harus saya tempuh, dan itu bukan di koperasi ini.
Karena manusia harus senantiasa hijrah dari tempat yang baik ke tempat yang lebih baik.
Dan terkadang sebuah perpisahan tidak butuh alasan supaya kita bisa menerimanya.

Kelak Ini adalah sebuah perpisahan antara saya dan koperasi.
Kelak ini adalah sebuah perpisahan antara saya dan rekan-rekan semua.
Tidak perlu ada jawaban atas pertanyaan mengapa.
Hanya butuh pengertian dan penerimaan.
Dan saya titipkan koperasi ini kepada rekan-rekan semua.


Koperasi bukan sekedar koperasi. Koperasi adalah alasan mengapa kita bertemu, kenal satu sama lain dan menjadi keluarga.

Kamis, 26 Maret 2015

FIRST to come

Salah satu alasan mengapa saya tidak ikut bis jemputan untuk pergi pulang kerja adalah karena seringkali bis jemputan sampai kantor lebih dari pukul 7.30 pagi, bahkan bisa lebih dari pukul 7.45 pagi, yang berarti terlambat. Meskipun belum masuk kategori terlambat, namun saya lebih memilih untuk datang lebih pagi, pukul 7.00 atau paling lambat 7.15 sudah tiba di kantor. Untuk apa? Untuk shalat dhuha, untuk mempersiapkan kerja, untuk mengetahui siapa-siapa yang punya kebiasaan datang lebih pagi. Secara psikologis datang lebih  pagi membuat kita lebih siap untuk menghadapi pekerjaan di hari itu, ada waktu 15 sampai 30 menit sebelum jam kerja resmi yang dapat kita gunakan untuk beres-beres meja kerja, merencanakan pekerjaan, sarapan dan lain-lain. Datang di waktu pas-pasan juga membuat efek psikologis kita tidak siap untuk kerja.





Lagipula sebagai seorang pemimpin, harus bisa mencontohkan apa yang baik-baik bagi bawahannya. Jika saya menginginkan rekan-rekan staf, bahkan karyawan koperasi datang pagi dengan disiplin, saya harus mencontohkan lebih dari itu.

Rabu, 25 Maret 2015

kehilangan PRODUKTIVITAS

Ada kalanya saya kehilangan gairah dan semangat kerja yang berakibat pikiran buntu, level energi rendah dan menurunkan produktivitas. Bahkan ada waktu ketika produktivitas hilang sama sekali, di waktu kerja yang harusnya dialokasikan untuk pekerjaan malah melakukan hal lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Apa mau dikata, saya bekerja menggunakan pikiran, jika pikiran mandek apa yang mau dikerjakan. Ibarat tenaga kerja yang bekera murni dengan tenaga jika ia sakit dan tidak punya tenaga mau bekerja bagaimana?


Disinilah letak pentingnya mengelola pikiran, mengelola gairah dan semangat kerja yang terus menerus.

Senin, 23 Maret 2015

TOTALITAS kerja

Dari suatu kejadian yang nanti saya ceritakan, saya jadi teringat kutipan dari Martin Luther King Jr., dia pernah berkata yang artinya kurang lebih: Jika kamu adalah penyapu jalan, maka bekerjalah sedemikian rupa sehingga malaikat-malaikat di langiit tercengang dengan baiknya hasil kerjamu. Sebuah kutipan yang sangat mengena mengenai totalitas dalam bekerja. Bahkan di jenis dan posisi seperti apapun kita mesti memberikan yang terbaik, memberikan segala yang kita mampu, bekerja tanpa perhitungan, bekerja extra, beyond job description, bekerja sampai-sampai malaikat pun terkagum-kagum dengan hasil kerja kita. Karena bukan hanya pekerja profesional yang butuh totalitas, komitmen, dan dedikasi penuh. Tak peduli apapun profesi dan posisi kita saat ini, apakah supir, buruh pabrik, penjaga warung, pelayan restoran, staf kantoran, penyanyi, dokter, manajer, semuanya perlu totalitas dalam bekerja, diri kita dan orang disekeliling kita dapat merasakan apakah kita telah total dalam bekerja atau bekerja hanya sekedarnya saja. Perilaku luar mungkin dapat ditiru, namun manusia punya sensor yang dapat merasakan apakah dirinya atau orang lain telah bekerja dengan sepenuh hati dan usaha.

Totalitas berarti bersedia berpikir, bersikap dan berbuat lebih. Lebih dari apa yang diperintah, lebih dari apa yang dibutuhkan, bahkan lebih dari apa yang diharapkan. Saya pernah membaca buku dari Hermawan Kertajaya, seorang maestro marketing di Indonesia. Bahwa perusahaan yang sukses dengan produknya adalah perusahaan yang tidak hanya memproduksi apa yang dibutuhkan oleh konsumen, juga bukan perusahaan yang hanya memproduksi apa yang diinginkan konsumennya. Perusahaan yang sukses dengan produknya adalah perusahaan yang mampu membuat produk yang bahkan konsumen sendiri tidak menyadari kalau mereka membutuhkan dan menginginkannya. Oke, kalau secara definisi terdengar rumit, langsung saya beri contoh: Ipod, siapa konsumen yang menyatakan keinginan memerlukan device portabel yang dapat menyimpan dan memutar ratusan bahkan ribuan lagu dengan bentuk yang simple dan elegan. Apple memproduksi IPod jauh melebihi ekspektasi dari konsumennya.

Sebagaimana perusahaan yang ingin produknya sukses, begitu juga pribadi kita jika ingin sukses harus bisa memberikan lebih dari yang diharapkan. A willingness to give something beyond expectation.


O iya, hampir terlupa. Tulisan ini terinspirasi dari Pa Jafar, supir koperasi tempat saya bekerja. Ketika beliau mendapat perintah untuk menjemput jam 5 pagi, beliau sudah sampai di rumah saya jam 5 kurang 15. Sementara yang dijemput masih baru bangun tidur, sedangkan rumah pa Jafar jaraknya 1,5 jam dari rumah saya jika ditempuh dengan mobil. Saya salut terhadap beliau yang paling tidak jam 3 pagi sudah berangkat dari rumah untuk bekerja. Ya, memberikan totalitas berarti menuntut pengorbanan lebih. Entah itu harus berangkat lebih pagi dari rumah, meninggalkan keluarga untuk jangka waktu lama, lembur di kantor sampai malam atau bahkan sampai pagi, mau mengerjakan tugas orang lain yang berhalangan, mau membantu pekerjaan rekan kerja, memberikan dan menjalankan ide-ide baru, dan lain-lain. 

Minggu, 16 Februari 2014

kantor NERAKA

Pernahkah Anda bangun tidur di hari senin dan berkata pada diri Anda sendiri: 'malesnya berangkat kerja'; 'coba ini masih hari libur'; 'coba hari ini ujan deres, cuaca buruk, banjir jadi gue punya alasan buat ga berangkat kerja'. Atau mencari-cari alasan lain untuk tidak masuk kerja. Itu salah satu tanda bahwa pekerjaan yang sekarang bukan pekerjaan yang benar-benar sesuai passion Anda. Atau, ada bagian-bagian dari pekerjaan yang ingin Anda hindari. Untuk alasan yang pertama beralih pekerjaan adalah ide yang bagus. Untuk alasan yang kedua sebaiknya Anda hadapi apapun itu yang membuat Anda menghindari pekerjaan. Bisa itu atasan, bawahan, rekan kerja, mitra kerja, pelanggan, beban pekerjaan yang berat, deadline atau apapun itu. Pada intinya Anda masih bisa menerima pekerjaan Anda yang sekarang, hanya saja Anda tidak suka bagian-bagian tertentu dari pekerjaan tersebut. Bagian-bagian tersebut ada yang bisa secara fisik dipisahkan, seperti memutasi bawahan yang menyebalkan, mendelegasikan tugas yang membosankan, menolak mitra kerja yang tidak kooperatif, dll. Dan ada bagian-bagian yang tidak bisa di hilangkan, seperti atasan yang bossy,  beban kerja yang tidak bisa dihindarkan, pelanggan yang harus dilayani. Untuk bagian-bagian yang tidak bisa dihindarkan tersebut, terima sajalah dengan keikhlasan karena memang begitu adanya. 'Lawan' dengan sikap terbaik yang kita bisa. Dan jika sudah tidak tertahankan lagi seperti neraka, sebaiknya Anda segera menyusun escape plan, rencana untuk keluar dari pekerjaan yang sekarang dan mencari pekerjaan yang lebih manusiawi menurut ukuran Anda. Pekerjaan dimana Anda dengan senang hati bangun tidur di senin pagi, siap-siap berangkat kerja dan bersinar.


Ada ungkapan you create your own hell, mungkin ada benarnya. Jika kita menghadapi sesuatu yang tidak kita sukai mengapa kita tidak mengubahnya, atau paling tidak mencari kondisi lain yang lebih bersuasana surga daripada yang terasa seperti neraka. Jika hidup ini bisa menyenangkan, mengapa harus menyusahkan.

Rabu, 08 Juni 2011

antara BEKERJA dan TIDUR

Tidur ga harus di kasur. Bila kantuk telah menyerang orang bisa tidur hampir dimana saja, bisa di pelataran masjid, di dalem angkutan umum, di ruang tunggu, bahkan bisa di ruang sidang. Begitu juga bekerja, yang selama ini ditanamkan di mindset kebanyakan kita bekerja berarti di kantor, di pabrik, di toko atau tempat-tempat resmi lainnya. Dan mimpi saya adalah, melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan hampir di mana saja, tidak harus di tempat dan lokasi tertentu. Thanks to internet, hal itu dimungkinkan dan sudah banyak orang yang membuktikan bahwa itu bisa dilakukan.

Being online freelancer is one of the option. Work virtually anywhere, anytime, (wearing) anything, and still can serve global market. sounds cool hah...

Selasa, 24 Mei 2011

pentingnya IMAJINASI dalam bekerja

Pagi ini saya merasa stuck di kantor. Tidak ada tugas dari atasan, tak ada yang 'harus' dikerjakan. Namun saya sadar pekerjaan yang saya lakukan perlu banyak pembenahan, mulai dari arsip-arsip hardcopy maupun softcopy yang tidak rapih, kertas-kertas yang tertumpuk begitu saja di meja tanpa kategori yang jelas, hingga prosedur kerja yang hanya tersimpan di memori otak. Hanya saja bingung harus mulai dari mana dan pembenahan seperti apa yang mesti dilakukan. Dua jam saya hanya memandangi monitor, sambil terkadang browsing chating ga jelas sambil memikirkan apa yang bisa saya lakukan untuk kantor.

Pukul 10 saya mengambil rehat sejenak, salat dhuha dan sedikit merenung. Membiarkan imajinasi mengambil alih. Dan alhamdulillah muncul suatu titik terang. Muncul sebuah pertanyaan yang bisa menjadi motor dan penggerak untuk melakukan pembenahan dalam bekerja. Pertanyaan itu adalah "Seandainya sebulan lagi saya tidak lagi bekerja disini, kondisi kerja apa yang ingin saya tinggalkan untuk orang yang akan menggantikan posisi saya nantinya? Apakah kondisi kerja yang berantakan, semerawut, tanpa prosedur kerja yang jelas; ataukah kondisi kerja yang teratur, file-file mudah untuk dicari dan ditemukan, segalanya sudah berjalan dengan lancar dan hanya tinggal melanjutkan.

Sekali lagi saya berimajinasi untuk bekerja seolah-olah sebulan lagi saya sudah tidak bekerja disini lagi. Saya ingin hasil kerja saya bukan hanya sekedar pekerjaan sambil lalu, namun harus menjadi sebuah masterpiece.

Rabu, 18 Mei 2011

software SEARCHER

Salah satu job desc tidak resmi saya disini adalah melayani pencarian file, mulai dari ebook sampe software. Hari ini dapet pesenan untuk nyari software kelistrikan (electrical software). Pesennya sih cari yang sederhana-sederhana aja, ga terlalu ribet kaya autocad electrical. Browsing-browsing, nemu link Mengenal software untuk Electrical Engineer di blog duniaengineering.blogdetik.com.

pencarian berlanjut .... 

dan ternyata tidak menemukan link download untuk software kelistrikan yang simple dan ringan. Rata-rata semuanya berukuran besar. Dan pencarian pun dihentikan.

overPAID or underPAID

Seberapa banyak dari kita yang merasa bekerja lebih daripada gaji yang kita terima, atau merasa dibayar tidak sesuai dengan beban pekerjaan? Beberapa tahun yang lalu saya merasa seperti itu, hingga akhirnya saya dengan sengaja menurunkan tingkat kinerja sesuai dengan bayaran yang diterima. Namun yang terjadi bukan malah saya bekerja sesuai dengan gaji yang saya terima, namun ironisnya saya justru bekerja kurang dari apa yang diterima; atau dalam kata lain overpaid. Akhirnya saya mengambil kesimpulan, akan sulit menurunkan kinerja sesuai dengan bayaran, yang akan terjadi malah kinerja kita merosot jauh dibawah standar gaji kita.
Memang selama saya dengan sengaja menurunkan kinerja, tidak memberikan yang terbaik yang saya bisa, saya merasa ada  kepuasan kerja yang terambil dari pekerjaan, dan juga kehidupan. Di sisi lain, ketika memutuskan untuk memberikan yang terbaik dalam pekerjaan, saya terlanjur sakit hati dengan kantor tempat saya bekerja yang kurang merespon aspirasi pekerjanya. Jangan-jangan kalau saya all out bekerja, justru kantor tempat saya bekerja malah saya menganggap "Tuh, dikasih gaji segitu aja dah getol kerjanya, ngapain di naikin lagi!"
Tapi pagi ini saya menemukan status Pa Mario Teguh di FB, yang menginspirasi untuk mulai memberikan yang terbaik dalam pekerjaan. And here is the status:
Orang-orang yang sibuk
melebihkan pekerjaan di atas bayarannya,
akan lebih berhasil daripada mereka
yang bekerja hanya sesuai dengan bayarannya.

Ada orang yang demikian hitung-hitungan
mengenai kesediaannya untuk bekerja,
sampai dihitung kembali oleh kehidupan
dengan sangat tegas.

Orang yang bekerjanya hanya untuk pas
dengan bayaran, hidupnya akan dibuat pas-pasan.

Yang melebihkan, akan dilebihkan.

Mario Teguh

Selasa, 10 Mei 2011

JOB that suit me


Hampir setiap manusia, terutama laki-laki, memiliki satu hal dominan dalam hidupnya yang disebut profesi atau pekerjaan. Beberapa menemukan profesi yang cocok dengannya ketika masih kecil, ketika di bangku kuliah, atau setelah bertahun-tahun menggeluti suatu profesi yang ternyata bukan ditakdirkan untuk dirinya. Tidak ada satu profesi yang lebih baik dari profesi yang lain, seorang penyapu jalan tidak lebih rendah posisinya dari seorang enjinir senior. Selama orang tersebut melakukan pekerjaanya dengan sepenuh hati. Pekerjaan yang baik tidak dilihat dari kompensasi berupa materi yang diterima, bukan dari tingkat keamanan secara finansial, karenanya dokter tidak lebih tinggi derajatnya daripada tukang jahit misalnya. Pekerjaan terbaik adalah yang sesuai dengan panggilan hati, dan dilakukan dengan sepenuh hati.

Mengutip pernyataan dari Marthin Luther King Jr., "Jika seseorang bekerja sebagai penyapu jalanan, ia selayaknya menyapu jalan seperti layaknya Michelangelo melukis, atau seperti Beethoven bermain musik, atau Shakespeare menulis puisi. Ia selayaknya menyapu jalanan dengan sebegitu baiknya sehingga penghuni surga dan bumi berhenti sejenak dan berkata, disini tinggal penyapu jalanan yang luar biasa yang melakukan pekerjaanya dengan sangat baik".


Adapun saya saat ini, belum berada dalam posisi dimana saya bekerja sesuai dengan profesi yang sesuai dengan panggilan hati saya. Tetap saya berusaha melakukan pekerjaan saya sekarang ini dengan sepenuh hati. Dengan keyakinan hati saya, paling tidak lima tahun kedepan saya sudah mulai menggeluti pekerjaan yang terbaik bagi diri saya.

Panggilan hati saya menginginkan pekerjaan dengan karakteristik :
  • Mandiri, tidak bekerja untuk satu perusahaan tertentu
  • Pekerjaan yang bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain
  • Pekerjaan yang memungkinkan atau bahkan mengharuskan bertemu dan berkenalan dengan berbagai jenis orang
  • Berhubungan dengan komputer dan internet
  • Memerlukan proses berpikir kreatif dan analisa
  • Jam kerja yang tidak terikat
  • Bersifat melayani
Apakah ada di antara Anda yang memiliki masukan mengenai pekerjaan seperti apa yang sesuai dengan karakteristik diatas?

Jumat, 18 Maret 2011

Menunggu Jadi Manajer

Dulu ketika masih kuliah di jurusan manajemen, ada harapan dan kemungkinan tinggi untuk mengisi posisi sebagai manajer. Setelah DO dari kuliah harapan itu berangsur-angsur sirna. Kurang lebih tujuh tahun, bukan waktu yang sebentar, harapan atau bahkan pikiran untuk menjadi manajer sama sekali tidak terlintas. Still, I hope to be CEO of my own business for that period.

Sekarang, tahun 2011, tak dinyana tak disangka. Ada tawaran untuk mengisi jabatan sebagai Manajer Koperasi. Why not, I think. Walaupun belum punya pengalaman sebelumnya, walaupun segala materi kuliah tentang manajemen telah berlalu lebih dari 8 tahun lalu, tetap saja masih tertinggal jejak-jejak ilmu manajemen di otak saya yang sudah agak berkarat ini.

Koperasi yang nantinya saya kelola (boleh dong optimis duluan) adalah koperasi yang baru berdiri. Jadi ketika saya diangkat menjadi manajer nanti (Amiiin) maka bawahan saya nanti adalah kursi, meja, lemari dan komputer. Ya, koperasi itu belum punya karyawan.... Jadi pada mulanya saya merangkap bekerja sebagai manajer, staf administrasi, bag. rumah tangga, bag. IT, bag. keuangan, bag. pemasaran, etc. But, it's okay as beginning. Pastinya jika dikelola dengan efektif dan efisien koperasi ini akan berkembang dan membutuhkan personil-personil tambahan (yang pastinya dibawah manajer). And finally, untuk pertama kali dalam hidup saya, saya akan punya bawahan, hahahha..... (evil laugh)

Sudah sebulan sejak saya menitipkan lamaran, namun belum ada panggilan wawancara, Katanya koperasinya masih dalam tahap mengurus badan hukum. I understand that, I'll keep waiting, but please don't hang me for a long time.I need kepastian though. There's must be a series of tough task to be completed when those dream come true. There will be a lot of problem and opportunity.

Senin, 22 November 2010

makna pekerjaan bagi seorang laki-laki

Seberapa besar sih porsi pekerjaan dalam kehidupan seorang pria?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, biarkan saya memaparkan fakta berikut:

Dalam sehari ada 24 jam, dan waktu untuk bekerja normalnya adalah 8 jam. Bahkan seringkali lebih dari 8 jam jika ada lembur. Di tempat saya bekerja, seseorang bisa bekerja dari jam 7 pagi hingga jam 24 tengah malam. Itu berarti orang yang bersangkutan menghabiskan waktunya 17 jam sehari. Lebih dari 70% waktunya dihabiskan di tempat kerja, dan kurang dari 30% di rumah, itu pun pasti sebagian besar digunakan untuk istirahat.

Delapan jam sehari atau sepertiga waktu yang dimiliki seorang pria hanya habis untuk satu jenis kegiatan: yaitu bekerja. Sedangkan yang dua per tiga nya baru digunakan untuk aktivitas yang lain seperti: ibadah, bercengkrama dengan keluarga, hiburan, istirahat, tidur, makan, mandi, belajar, interaksi sosial, dll. Bayangkan apa yang terjadi jika terdapat masalah yang signifikan terhadap aktivitas yang menyita waktu sepertiga harinya?

Jika, dalam pekerjaannya seorang pria merasa tidak melakukan sesuatu yang berarti, tidak menyumbang apa-apa dalam kehidupan pribadinya berarti pria ini telah membuang sepertiga harinya. Membuat hidupnya hanya tinggal dua per tiganya. Yang juga belum tentu bisa digunakan secara maksimal.

Terlebih lagi bagi seorang kepala rumah tangga muslim yang menyadari bahwa ia mempunyai kewajiban mencari nafkah yang halal dan berkah bagi anak istrinya. Halal berarti bahwa rupiah yang dihasilkan berasal dari pekerjaan yang tidak bertentangan dengan perintah dan larangan Allah. Berkah berarti bahwa ia memberikan kualitas terbaik yang bisa diberikan untuk mendapat rupiah tersebut.

Bekerja di perusahaan adalah halal, namun bisa menjadi tidak berkah jika pekerjaan yang dilakukan di perusahaan itu dilakukan dengan setengah-setengah dan ada unsur korupsi waktu. Menjadi dilema bagi seorang pria jika ia seolah terperangkap dalam pekerjaan dimana ia tidak bisa atau tidak tahu bagaimana memberikan yang terbaik dari dirinya. Sedang keadaan mengharuskan ia tak bisa pindah pekerjaan.

Hanya Allah lah yang Maha Bijaksana yang mampu menjawab segala pertanyaan dan kondisi yang rumit.