Sabtu, 01 Februari 2014

what is NEO NLP?

Saya sudah dua tahun lebih ingin ikut pelatihan NLP practitioner. Setelah browsing-browsing di internet ternyata dapat saya simpulkan ada dua jenis pelatihan NLP Practitioner di Indonesia. Yang satu pelatihan NLP Practitioner yang dapat sertifikat internasional, berlangsung selama kurang lebih 7 hari dan biayanya lebih dari 10 juta per sesi pelatihan. Yang kedua pelatihan Neo NLP Practitioner, mendapat sertifikat NNLP ( Neo NLP ), berlangsung selama dua hari dan biaya pelatihannya tidak lebih dari tiga juta rupiah. Untuk selanjutnya dalam artikel ini saya menyebutnya dengan NLP dan NNLP.  Bedanya apa antara kedua jenis training tersebut?

Dari yang saya tahu perbedaannya adalah ( selain yang tersebut diatas ) :
  1. NLP Practitioner mendapat sertifikat dengan lingkup internasional dan NNLP Practioner mendapat sertifikat dengan lingkup nasional. Jadi jika kita ikut pelatihan NNLP Practitioner dan ingin melanjutkan pelatihan ke NLP Master Practitioner di luar negri kemungkinan tidak bisa.
  2. Materi yang diajarkan di NLP dan NNLP sebenarnya sama. Sama-sama NLP yang sumbernya dari Richard Bandler dan John Grinder. Mempunyai pillar, presupposition dan teknik yang sama dengan NLP manapun di dunia ini. Yang membedakannya adalah prakteknya. Jika dalam NLP materi yang sama dipraktekkan berulang kali, dalam NNLP karena dipadatkan satu materi hanya satu kali praktek. Namun filosofi dan makna dari NLP itu sendiri tetap disampaikan dalam NNLP. Karena yang paling penting dari NLP bukanlah praktek simulasi saat pelatihan, namun yang lebih penting praktek setelah pelatihan di dunia nyata.
  3. Peserta dalam NNLP dibatasi maksimal sepuluh orang untuk lebih menunjang keefektifan pelatihan dalam waktu yang singkat. Sementara dalam satu kelas NLP bisa dua puluh orang.
 Setahu saya itu perbedaan antara kedua jenis training NLP. Karena yang saya ikuti sekarang adalah NNLP dan menurut praktisinya NNLP lahir dikarenakan praktisi-praktisi NLP di Indonesia merasa NLP ini adalah ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia namun akses terhadap ilmu tersebut masih mahal dan sulit. Jadi para praktisi itu ingin mengusahakan agar NLP ini lebih bisa disebarluaskan ke lebih banyak orang. Lebih mudah dan murah untuk dipelajari. Tidak perlu waktu dan biaya yang besar. Maka muncullah training Neo NLP. Keputusan untuk mengikuti training NLP yang mana sepenuhnya adalah keputusan masing-masing pribadi. Silakan. 

COMIC 8 movie experience

I think this is the most anticipated movie for this year, at least in my own version. And after I watch it at 30 January 2014 at Atrium XXI, it prove to be absolutely right. Comic 8 is damn hillarious. Ok, write in english may make me seem cooler... but not every reader know the meaning. Can't you write ini Indonesian please...

Ok deh kalo begitu cyiinn.... Jadi film yang dibintangi oleh bintang-bintang stand up comedy ini yaitu ... ( ga usah disebutin ya, coba aja cari di google) dan bercerita tentang... ( lagi-lagi ga usah di ceritain apa ceritanya, bisa search aja di situsnya 21). Sungguh sungguh dan sangat sangat tidak mengecewakan. Heavily reccomended buat pecinta komedi, apalagi pecinta stand up comedy. Itu kaya lo nonton stand up comedy hampir 2 jam nonstop, kebayang ga sih sakitnya perut sama mulut ketawa terus. Sampe-sampe pas nonton gue sempet nunggu-nungguin adegan-adegan yang ga lucunya semata-mata biar mulut sama perut gue bisa istirahat sejenak. Dari sisi komedi film ini top abis, kompor gas. Semua komik memiliki kontribusi masing-masing dalam memancing kelucuan. Dan hebatnya film ini tidak semata-mata hanya menjual sisi komedinya saja, tapi juga menjual sisi ceritanya yang mengandung twist yang tidak bisa ditebak.

Dan dari sisi minusnya, which almost every film has it, ini mungkin yang harus diperbaiki dari kebanyakan film-film Indonesia. Although tidak semuanya. Ada adegan-adegan yang tidak pantas ditonton anak kecil, adegan-adegan yang terlalu berlebihan mempertontonkan aurat wanita ( dan pria ), .adegan yang sebenarnya 18+ dan tidak bagus dilihat dari sudut pandang moral malah menjadi bahan tertawaan. Seperti ada adegan pas wanita yang panik karena jadi sandera perampokan malah buka baju, adegan Nikita Mirzani yang boobsnya terguncang karena menembak. Kemudian adegan yang mempertontonkan kemewahan, mobil mewah, rumah mewah. Rakyat Indonesia sudah muak dengan acara pamer kemewahan di layar berita. Jangan ditambah-tambahkan dengan pamer kemewahan di layar bioskop. Adegan-adegan seperti itu justru menurut saya menurunkan mutu film, walaupun justru menambah rating. Tapi haruskah mengorbankan mutu film dan moral bangsa hanya atas nama rating dan uang? Mereka-mereka yang harus menjawab.


Dari adegan yang tidak perlu itu tadi, saya yang tadinya mau mengajak anak nonton film komedi yang berkualitas jadinya hanya nonton sendirian di bioskop. Padahal tertawa sama-sama itu lebih seru dan menambah keakraban dibanding tertawa sendiri-sendiri.... apalagi sendirian di pinggir jalan.

kebijaksanaan LAUT

Tak semua orang punya kesempatan untuk bekerja di tempat yang memungkinkannya untuk duduk di tepi laut setiap sore. Dan tidak semua orang yang punya kesemppatan tersebut menggunakannya dan menikmatinya. Saya adalah orang yang beruntung itu. Setiap sore, selepas kerja, mengunjungi laut, menikmati halusnya hembusan angin laut, mendengarkan merdunya suara ombak, melihat betapa lurusnya cakrawala. Sambil mengistirahatkan pikiran yang seharian berpikir, merenung, mengevaluasi, menulis dan yang terpenting dari itu semua... melihat dan mendengar. Setiap makhluk butuh untuk didengarkan, tidak cuma manusia, alam pun butuh untuk didengarkan. Walaupun yang lebih banyak manfaat dari mendengarkan alam adalah manusia itu sendiri. Namun entah mengapa kebanyakan manusia enggan menyisihkan waktunya barang sebentar untuk mendengarkan alam disekitarnya. Entah karena merasa lebih tinggi dari makhluk lainnya, atau terlalu sibuk!

Salah satu alasan saya suka sekali duduk di tepi laut adalah saya merasa laut memiliki segudang kebijaksanaan yang siap dibagikan kepada manusia, hanya dengan satu syarat... manusia siap untuk mendengarkan. Hanya itu syaratnya, tanpa peduli manusia itu kaya atau miskin, ustadz atau pendosa, muda atau tua, pemenang atau pencundang. Laut tidak memandang itu semua, laut hanya tahu satu kata, yaitu manusia. Siapapun yang bersedia mendengarkannya akan diberinya kebijaksanaan yang sudah ada sejak bumi ini diciptakan, kebijaksanaan yang menghubungkan lima benua, kebijaksanaan yang luas dan dalam layaknnya samudra.


Dan alasan paling utama saya menyukai laut adalah karena saya jatuh cinta padanya. Karena ia ada disaat saya tidak merasa punya siapa-siapa. Sembilan tahun lalu, ketika takdir mengajarkan saya untuk hidup mandiri secara finansial dan emosional. Laut hadir untuk menenangkan hati saya, laut hadir untuk mengatakan bahwa saya tidak pernah sendirian dan jangan sampai saya merasa sendirian. Laut tetap bersikap ramah ketika saya sempat meninggalkannya selama beberapa tahun. Dan di hari ketika saya jatuh cinta pada laut, saya tidak perlu alasan untuk menjelaskan mengapa saya cinta pada laut. I love sea, just it . Cause love don't need a reason. 

quote from ALEPH

Berikut adalah kutipan dari novel berjudul Aleph dari Paulo Coelho :

Pergi dan taklukkan kembali kerajaanmu yang mulai tercemar oleh rutinitas.

Kau harus pergi agar bisa kembali ke masa sekarang.

Kau mulai sadar bahwa jauh di bawah alam bawah sadarmu ada seseoraang yang jauh lebih menarik, penuh petualangan dan lebih terbuka pada dunia serta pengalaman-pengalaman baru.

Kehidupan adalah kereta api, bukan stasiun.

Segala sesuatu yang pernah dan akan kau alami berada pada saat ini.

Pahamilah apa yang terjadi dalam dirimu dan kau akan memahami apa yang terjadi dalam diri semua orang lain.

Aku tidak ingin pergi karena aku tidak tahu kemana aku harus pergi.

Saat perasaan tidak puas itu menetap, itu berarti perasaan itu ditempatkan oleh Tuhan karena satu alasan saja: kau perlu mengubah segalanya dan maju.

Setiap kali aku menolak mengikuti takdirku, hal yang luar biasa sulit untuk dihadapi akan terjadi dalam hidupku.

Saat menghadapi kehilangan dalam bentuk apa pun, tidak ada gunanya berusaha memperbaiki apa yang sudah terjadi; lebih baik memanfaatkan celah besar yang terbuka di depan kita dan mengisinya dengan hal yang baru.

Kita selalu mengartikan sesuatu sesuai dengan apa yang kita inginkan dan bukan sebagaimana mereka sesungguhnya.

Semua orang menyumbangkan satu kata, satu kalimat, satu gambar, namun pada akhirnya semuanya masuk akal: kebahagiaan satu orang menjadi sukacita untuk semua.

Orang bilang, sesaat sebelum maut menjemput, masing-masing dari kita memahami alasan keberadaan kita yang sebenarnya, dan dari momen itu, surga atau neraka lahir.

Neraka adalah saat kita menoleh ke belakang dalam waktu dan menyadari bahwa kita telah membuang kesempatan untuk menhargai mukjizat kehidupan. Surga adalah ketika kita mampu berkata: Aku membuat banyak kesalahan, tapi aku bukan pengecut. Aku menjalani hidupku dan melakukan apa yang perlu kulakukan.

Itukah yang kucari? Kehidupan tanpa tantangan?

Tidak ada kehidupan yang lengkap tanpa sentuhan kegilaan.

Kejahatan apa pun bukan sepenuhnya tanggung jawab si pelaku, melainkan tnggung jawab seua orang yang menciptakan kondisi-kondisi sehingga tindak kejahatan itu dapat terjadi.

Tak seorang pun menjadi nabi di daerahnya sendiri.

Dalam hutan berisi seratus ribu pohon, tidak ada dua daun yang sama.

Tindakan-tindakan kecil sehari-hari inilah yang membawa kita semakin dekat pada Tuhan, sepanjang aku bisa menghargai setiap tindakan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Tinggalkanlah kehidupanmu yang nyaman dan pergilah mencari kerajaanmu.

Hidup berarti mengalami berbagai hal, bukan hanya duduk-duduk dan memikirkan makna hidup.

Waktu bukanlah pita kaset yang bisa digulung atau diputar kebelakangg.

Jangan pikirkan apa yang akan kauceritakan pada orang-orang nanti. Waktunya kini dan sekarang. Manfaatkan sebaik-baiknya.

Satu-satunya hal yang bisa kita capai dengan membalas dendam adalah membuat diri kita sama dengan musuh-musuh kita, sementara dengan memaafkan menunjukkan kebijaksanaan dan kecerdasan.

Kalau kau menghabiskan terlalu banyak waktu berusaha mencari tahu kebaikan atau keburukan orang lain, kau akan melupakan jiwamu sendiri dan akhirnya kelelahan serta dikalahkan oleh energi yang kauhabiskan untuk menghakimi orang lain.

Kalau ingin melihat pelangi, kau harus belajar menyukai hujan.

Apa kau percaya pada dunia spiritual, semesta paralel, dimana waktu dan tempat abadi dan selalu berada pada momen kini.

Apa yang kau butuhkan untuk bisa menuis? Mencintai. Seperti kau mencintai istrimu.

Para pemimpi tidak pernah bisa dijinakkan.

Siapa pun yang mengenal Tuhan tidak dapat menggambarkan-Nya. Siapa pun yang dapat menggambarkan Tuhan tidak mengenal-Nya.

Mungkinkah kita memasang cinta dan membuatnya tetap tidak berubah dalam waktu


setiap buku adalah PETUALANGAN

Petualangan bukan melulu soal raga. Bukan cuma soal tubuh kita yang mengunjungi tempat-tempat baru yang belum dikunjungi. Bukan hanya badan kita yang melakukan hal-hal baru.

Petualangan juga soal pikiran. Jika pikiran ini mampu mengembara ke pemikiran-pemikiran yang selama ini belum terpikirkan itu adalah petualangan. Jika pikiran ini mendapat informasi dan wawasan baru yang belum pernah didapat itu juga sebuah petualangan. Jika pikiran ini dapat mengakses dunia-dunia selain dunia yang selama ini diketahui justru itulah petualangan yang sebenarnya.


Dari sudut pandang ini. Membaca buku yang bagus adalah sebuah petualangan yang mengasyikkan. Kita menjadi berpikir dan mengetahui atas sesuatu yang belum kita ketahui sebelumnya. Kita menjadi terbuka terhadap dunia selain dunia yang kita ketahui saat ini. Kita terbang ke dunia baru dengan membaca.

menuju puncak KESUKSESAN

Saya sampaikan kepada terapis yang mengobati saya bahwa selama ini saya merasa sendirian dalam mencapai target. Seperti pendaki yang mendaki gunung sendiran, ketika puncak gunung tertutup kabut, atau hujan lebat turun tak ada seorang pun yang memberi semangat, seseorang yang mampu meyakinkan bahwa puncak itu masih disana menunggumu, tidak ada seseorang yang berkata bahwa kabut pasti hilang. Saya merasa seorang diri mencapai puncak gunung, dan ketika puncak gunung tak lagi terlihat, dorongan untuk turun dari pendakian timbul, dan tak ada seorang pun disana mencegah saya untuk menghentikan pendakian.

Setelah sesi hypnoterapi saya menyadari bahwa saya tidak sendiri, ada bagian-bagian dari tubuh saya yang juga ikut mencapai puncak. Kesalahan saya selama ini adalah menganggap mereka tidak ada, mengaggap mereka benda mati yang ikut kemana saja saya melangkah. Ternyata,  'mereka': bagian-bagian tubuh saya yang mewakili bagian-bagian dari alam bawah sadar saya, merekalah teman-teman sependakian saya. Teman-teman yang pendapatnya harus didengar, teman-teman yang keperluannya harus dimengerti, teman-teman yang dapat membantu atau menghambat pendakian saya.


Saya sekarang tidak merasa sendiri lagi menuju puncak kesuksesan.

100% chance of SUCCESS

Setelah sesi hypnoterapi saya bertanya kepada sang terapist, pa Rahmadsyah, Pa bagaimana caranya supaya target, rencana dan program yang saya jalankan tidak berhenti di tengah jalan karena disabotase diri sendiri? Beliau menyarankan setelah sesi hypnoterapi dan mengetahui penyebab-penyebab sabotase diri, bahwa ada bagian-bagian dari diri saya yang tidak suka dengan keputusan saya menetapkan target, rencana maupun program yang saya canangkan secara sepihak untuk diri saya. Beliau menyarankan agar saya berdiskusi dan meminta persetujuan terlebih dahulu kepada semua bagian-bagian dari diri dan tubuh saya sebelum menetapkan suatu target atau rencana yang ingin dicapai dan dijalankan.

Setelah itu saya selalu bertanya ke dalam diri setiap saya ingin melakukan kebiasaan baru yang ingin saya lakukan. Meskipun ada sedikit rasa khawatir kebiasaan baru yang ingin dimulai ada kemungkinan kandas di tengah jalan, seperti yang sudah-sudah. Kemudian terbersit pemikiran 'Mengapa tidak tanyakan saja ke bagian-bagian dari diri saya mengapa rasa khawatir itu muncul'. Lalu mulailah saya bertanya kepada bagian-bagian dari diri saya: kepala, panca indra, tangan, kaki, perut, jantung, hati. Tahu jawaban apa yang langsung saya dapatkan dari mereka? Hanyalah senyuman. Seolah-olah saya bertanya sesuatu yang begitu sederhana kepada seseorang sehingga orang tersebut cukup menjawab dengan senyuman menganggap saya sudah tahu. Begitulah yang kira-kira terjadi selama menit-menit pertama saya mengajukan pertanyaan itu. Pertanyaan 'Mengapa saya merasa khawatir kebiasaan-kebiasaan baru yang saya jalankan bisa berhenti di tengah jalan?'

Setelah tersenyum beberapa lama, barulah mereka serentak menjawab dengan jawaban yang membesarkan hati. Katanya: Jika segala keputusanmu, walaupun itu suatu kebaikan menurutmu, jika tidak didiskusikan dan mendapat persetujuan dari kami terlebih dahulu maka kemungkinan keputusan itu akan terlaksana secara konsisten adalah 0%, dalam arti pasti berhenti di tengah jalan. Namun jika segala keputusanmu itu terlebih dahulu didiskusikan, meminta persetujuan dan dukungan dari kami semua, bagian dari dirimu, dan setelahnya kamu mendapat persetujuan dan dukungan dari kami. Maka kemungkinan apa yang kamu putuskan adalah 100% berhasil. Sekeras apapun usaha yang mesti dilakukan, kalau kami mendukung maka akan kami lakukan. Mata siap begadang sampai pagi, otak siap bekerja dengan cepat, seluruh badan siap menjadi sehat, perut siap menahan lapar.


Ternyata sesederhana itu sebuah jawaban yang 10 tahun lebih aku cari.