Tampilkan postingan dengan label tua di jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tua di jalan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Mei 2015

mendengar PEPOHONAN BERBICARA

Bagaimana cara memasukkan seekor gajah ke dalam kulkas? Buka pintu kulkasnya, masukkan gajahnya, tutup pintu kulkasnya. There! problem solved, simple isn't it! Bagaimana cara mendengarkan pepohonan berbicara? Dengarkan. Ya, sesederhana itu. Anda tidak perlu punya ilmu kebatinan untuk mendengarkan pepohonan bicara. Anda hanya perlu hening, diam, biarkan kesan-kesan dari pepohonan itu memasuki pikiran Anda tanpa di proses. Dan pepohonan akan menceritakan ceritanya untuk Anda. Cerita yang membuat Anda terkesan. Pepohonan akan menuturkan rahasianya. Rahasia yang membuat kita sebagai manusia merasa malu. Pepohonan akan mengisahkan kisahnya. Kisah yang bisa membuat kita menitikkan air mata. Pepohonan akan mengungkapkan kekuatannya. Sehingga manusia yang mendengar merasa kurang pantas menjadi khalifah di bumi.

Kalau Anda menganggap ini omong kosong, saya yakin seumur hidup Anda belum pernah mendengarkan pepohonan. Kalau Anda belum pernah mendengarkan pepohonan, saya yakin Anda adalah tipe orang yang sulit untuk hening, diam dan tidak berpikir. Bukankah manusia dan pepohonan diciptakan oleh Pencipta yang sama. Tidak aneh jika antara sesama ciptaan ada benang merah yang menghubungkan semua ciptaan. Yang dengannya antar ciptaan dapat saling berkomunikasi melampaui batasan bahasa dan indrawi.

Jika Anda benar-benar ingin mendengarkan pepohonan, Anda tidak perlu berusaha keras dan menunggu waktu lama. Yang diperlukan hanya diam dan mendengarkan sambil memandang pepohonan. Anda bisa langsung mendengar pepohonan berbicara atau butuh beberapa hari. Tergantung tingkat keterbukaan hati Anda.

Ada sedikit tips yang bisa langsung Anda praktekkan. Esok hari atau nanti sore, ketika Anda pergi atau pulang kerja perhatikan pohon-pohon yang Anda lewati selama perjalanan. Perhatikan keseluruhan pepohonan, bukan hanya satu pohon, tapi keseluruhan pohon-pohon yang Anda  melewati. Perhatikan saja dan katakan dalam hati 'saya ingin dan siap mendengarkan perkataanmu, lalu tunggulah'. Masa penantian ini bisa hanya daalam hitungan menit, jam atau hari, tergantung tingkat kesiapan dan kepasrahan Anda. He will talk when he talk. Nikmati proses menunggu jawaban dengan mengagumi pepohonan di sepanjang jalan. Betapa ada pepohonan yang mungkin sudah bertahan puluhan atau ratusan tahun. Bagaimana pohon tersebut menjadi saksi sejarah peristiwa-peristiwa penting di negeri ini. Bagaimana pohon tersebut menyaksikan pergantian generasi dan perubahan gaya hidup. Bagaimana pohon tersebut tetap tenang tak bergeming ditengah hiruk pikuknya manusia, di tengah penatnya para manusia pencari nafkah hilir mudik hampir setiap hari di hadapannya. Ia akan mulai berbicara ketika Anda tulus mendengar dan berhenti berpikir. Sebaliknya, ia akan berhenti berbicara ketika Anda berhenti mendengar dan sibuk dengan pikiran sendiri.


Jadi, selamat mendengarkan.

Kamis, 14 Mei 2015

filosofi BIS JEMPUTAN

Saya dulu punya cita-cita yang konyol, yaitu pergi pulang kerja naik bis jemputan. Sungguh saya sempat iri dengan istri saya yang di perusahaanya memfasilitasi transportasi pergi pulang kerja dengan bis jemputan. Rasanya enak naik bis jemputan, tidur di bis, sampai-sampai sudah di depan kantor. Ga perlu khawatir terlambat, ga perlu takut kelewatan dan yang paling penting ga perlu ditagih kondektur. Cita-cita itu akhirnya tercapai juga di 2012 dan saya menikmatinya. Hanya untuk sementara waktu.

Seperti layaknya sebuah hubungan, saya dengan bis jemputan juga mengawali hubungan kami dengan harmonis, tidak ada masalah, fine-fine aja. Tiap hari naik bis jemputan rasanya enak, bisa dapat tambahan jam tidur, bisa menghemat biaya transport, bisa sambil denger musik, baca buku, ngemil, liat pemandangan, ngobrol. Sampai suatu ketika kejenuhan melanda, di titik itu sebuah suara filosofis terlempar begitu saja entah dari sudut pikiran yang mana. Suara itu berkata :

'Naik bis jemputan itu nyaman memang, tapi kamu tidak bisa menentukan kapan mulai berangkat, kapan mulai pulang, kapan dan dimana mau berhenti di tengah jalan untuk sholat, tidak bisa kentut semaumu. Kamu tidak punya kontrol. Ketika naik bis jemputan kamu harus meninggalkan rumah setengah jam lebih awal dan tiba di rumah setengah jam lebih telat, dibanding dengan menggunakan kendaraan sendiri. Memang benar naik bis jemputan lebih hemat, tapi bukankah uang dapat dicari dan waktu takkan terulang. Berapa rupiah yang bersedia kamu tukar dengan satu jam tambahan di rumah untuk keluargamu? Sadar atau tidak, naik bis jemputan membuatmu punya kebiasaan baru yang kurang baik, yaitu tidur di pagi dan sore hari. Lebih dalam lagi, tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang naik bis jemputan. Mereka adalah golongan para karyawan, golongan yang mengisi lapangan pekerjaan. Bukankah kamu tidak ingin menjadi golongan itu, bukankah kamu justru ingin menjadi golongan yang membuka lapangan pekerjaan. Di sisi lain kamu tidak bisa menyalahkan mereka yang naik bis jemputan. Kita semua punya peran masing-masing. Dan jelas sekali peranmu bukan diantara mereka. Peranmu bukan berada di kursi bis jemputan yang membuatmu kehilangan kendali. Peranmu bukan di perusahaan yang dapat mengatur kerjamu. Takdirmu adalah memegang kendali, bukan terbawa arus.'

Terkadang ada mimpi yang terlihat indah dari kejauhan, dan ketika mimpi itu terwujudkan ternyata mimpi itu hanya sekedar fatamorgana.

Rabu, 13 Mei 2015

Hal positif yang bisa kita lakukan di PERJALANAN PERGI PULANG KERJA

Jika mengendarai mobil sendiri :
  • Mendengarkan murottal Alquran
  • Mendengarkan audio motivasi atau ceramah
  • Mendengarkan pelajaran bahasa asing
  • Mendengarkan audio untuk meningkatkan kompetensi
  • Mendengarkan lagu-lagu yang meingkatkan semangat
  • Mendengarkan siaran radio yang bermanfaat
  • Mendiskusikan hal-hal yang positif
  • Brainstorming ide

Jika menggunakan angkutan umum :
  • Semua hal positif yang bisa dilakukan ketika mengendarai mobil
  • Membaca buku atau tulisan lain yang bermanfaat
  • Menulis hal yang bermanfaat
  • Mengerjakan tugas kantor

Hal umum yang bisa dilakukan setiap orang selama di perjalanan :
  • Mengambil hikmah dari apa yang kita lihat dan alami selama di perjalanan
  • Berdzikir
  • Berdoa

Selasa, 12 Mei 2015

terjebak rutinitas PERGI PULANG KERJA

Adakah Anda jenuh dan bosan melewati jalan yang sama berulang kali, ratusan kali bahkan ribuan kali? Melewati kemacetan yang sama, melalui jarak yang tidak dekat, melintasi jalan rusak yang itu-itu saja hampir setiap harinya. Tanpa makna yang kita berikan pada perjalanan, tentu kita jenuh.

Apakah tidak ada pilihan lain dalam hidup sehingga kehidupan kita bagai sebuah cuplikan film yang diputar berulang-ulang? Senin, berangkat kerja, pulang kerja, istirahat di rumah, berangkat, pulang kerja lagi, weekend dan pola yang sama terulang kembali. Jika kita bosan dengan rutinitas seperti itu maka pilihan untuk keluar dari rutinitas selalu ada. pertanyaannya; beranikah kita untuk memilih? Beranikah kita untuk melangkah keluar dari zona rutintas yang nyaman?

Dimanakah semangat, antusiasme dan gairah ketika pertama kali kita diterima kerja? Luapan energi dan adrenalin ketika hari pertama bekerja di perusahaan yang saat ini telah kita diami bertahun-tahun. Tertelan oleh rutinitas yang entah berarti atau tanpa arti.

Siapakah yang bertanggungjawab atas habisnya waktu kita di perjalanan? Bukankah kita sendiri yang memutuskan untuk bekerja disitu dan bertempat tinggal disana. Lalu mengapa kita mengeluh atas keputusan yang kita ambil sendiri. Sudah jelas kita sendiri yang bertanggung jawab.

Mengapa kita tidak mengambil pilihan lain untuk tidak terjebak dalam perjalanan yang sama setiap harinya? Pindah kerja atau mulai usaha sendiri. Mungkin kita terlalu takut atau sekedar cari aman.

Kapan kita mulai sadar akan jebakan rutinitas yang melumpuhkan jiwa petualang dalam diri kita? Menunggu di PHK, atau pensiun, atau terkena penyakit kronis. Tak perlu seperti itu untuk mulai sadar. Semoga ketika selesai membaca buku ini kita menjadi tersadar.

Bagaimana mengakhiri siklus pergi pulang yang seakan baru akan berhenti di hari pensiun? Meskipun mengakhiri pola dan kebiasaan pasti tidak mudah. Bukan berarti hal yang tak mudah tak pantas dicoba. Mungkin yang dibutuhkan hanya persiapan dan keberanian untuk mengambil langkah atau bahkan lompatan baru.

Senin, 11 Mei 2015

Apa yang kita lakukan diantara RUMAH DAN KANTOR

Beberapa orang membaca judul diatas mungkin terbesit suatu 'persinggahan', entah itu maknanya positif atau negatif. Tapi bukan apa yang kita lakukan di 'persinggahan' yang akan saya bahas disini. Yang ingin saya bahas adalah apa yang kita lakukan selama di perjalanan itu sendiri. Waktu yang kita habiskan untuk tua di jalan

Ada tiga tipe orang dari cara mereka menggunakan waktunya di perjalanan. Pertama, mereka yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Orang seperti ini menggunakan waktu di perjalannya untuk memikirkan apapun yang bisa mereka pikirkan. Permasalahan pribadi, persoalan kantor, memikirkan utang, membayangkan bertemu seseorang, berandai-andai, mengeluh, merasa kesal dan lain-lain. Intinya selama diperjalanan otaknya bekerja, entah itu untuk sesuatu yang positif atau merusak diri mereka sendiri. Tipe orang seperti ini baik atau buruk tergantung apa yang dipikirkannya. Kalau yang dipikirkannya adalah plot novel yang sedang ditulis dan akan menjadi bestseller maka perjalanan pergi pulang membawa manfaat.

Tipe orang yang kedua adalah tipe mereka yang sibuk dengan tools pribadi, seperti gadget, buku atau bahkan laptop. Entah itu membaca status orang lain, membaca berita, main game, posting di media sosial atau lain-lain. Lagi-lagi tipe orang seperti ini bisa positif bisa juga negatif. Jika yang dilakukan dengan gadget Cuma membaca dan membalas komentar-komentar tidak penting maka apa yang dilakukan selama perjalanan juga menjadi tidak penting. Namun jika waktu yang dihabiskan dengan gadget selama diperjalanan adalah untuk menulis artikel atau posting yang dapat memberikan manfaat atau inspirasi untuk orang lain maka waktu kita selama di perjalanan akan bermanfaat.

Tipe orang yang ketiga, dan sepertinya yang paling jarang, yaitu mereka yang berdzikir sambil memperhatikan ayat-ayat Allah selama di perjalanan. Mereka yang mendengar dan merenungkan apa yang mereka lihat dan mereka alami selama di perjalanan. Mereka yang bertanya 'Apa maksud Allah membuat saya melakukan perjalanan ini berulang-ulang kali hingga ratusan bahkan ribuan kali?' Mereka yang curiga atas maksud Allah menempatkan mereka pada waktu antara pekerjaan dan keluarga.  Mereka yang berpikir keras untuk memetik hikmah dari pengalaman dan penglihatan selama di perjalanan. Mereka yang ketika tiba di kantor atau di rumah menjadi lebih bijaksana.


Sudahkah kita memutuskan apa yang kita lakukan diantara perjalanan rumah dan kantor? 

Sabtu, 09 Mei 2015

mendefinisikan kembali kata JAUH

Pertama kalinya saya menyusuri jalan dari rumah ke tempat kerja seakan tidak sampai-sampai. Dari Serang ke Tangerang terasa sangat jauh sekali. Selang beberapa bulan bekerja, pergi pulang rumah kantor seakan menjadi lebih singkat. Saat ini setelah 2 tahun lebih pergi pulang, entah mengapa jarak mulai terasa jauh lagi. Pastinya tanah tidak memanjang dan ukuran kilometer tidak berubah. Karena rumah atau kantor saya tidak pindah. Namun perasaan jauh itu riil terasa ketika pertama kali menempuh perjalanan ke kantor dan ketika telah 2 tahun menempuh perjalanan yang sama. Anehnya, peasaan jauh itu tidak terasa ketika baru beberapa bulan bekerja.

Kalau begitu ukuran jauh seharusnya bukan kilometer. Karena kilometer yang saya tempuh selama dua tahun terakhir ini sama. Namun hati tak bisa dibohongi, saya merasa perjalanan ini bertambah jauh. Ada benarnya juga jika mendefinisikan 'jauh' itu bukan sekedar dari ukuran kilometer, tapi dari ukuran hati juga. Ketika kita punya perasaan semangat, antusias, ikhlas, tulus dan cinta maka ukuran kilometer menjadi kurang relevan. Ketika perasaan tersebut meredup maka ukuran kilometer mulai menjadi masalah. Jalan rusak, macet, jauh, panas dan kendala-kendala di perjalanan mulai menjadi keluhan kita ketika perasaan tersebut perlahan hilang.

Bahkan jarak 90 kilometer pergi pulang yang saya tempuh setiap harinya bukan apa-apa jika dibanding dengan orang lain di belahan dunia ini yang bisa menempuh perjalanan pergi pulang ratusan bahkan ribuan kilometer. Dari tempatnya mencari nafkah menjuju tempat dimana keluarganya berada. Padahal sepanjang perjalanan, jika kita cukup berani untuk merenung, bersedia untuk berpikir dan mau berendah hati untuk mendengar. Ada banyak guru-guru utusan Allah yang siap mengajarkan kita makna-makna  kehidupan diantara jarak rumah dan kantor. Guru-guru berupa pepohonan di tepi jalan, lubang dan kubangan di tengah jalan, pengendara motor yang ugal-ugalan, bahkan pengemis yang duduk di trotoar. Mereka hadir disitu bukan sekedar untuk kita lewati, barangkali ada secuil mutiara kehidupan yang kita ambil darinya.

Jadi lain kali kita merasa perjalanan pergi pulang kita terasa jauh, jangan mengukur kilometer, ukurlah hati kita. Jauh itu bukan masalah kilometer tapi lebih pada hati.