Jumat, 18 Maret 2011

Bertengkar [lagi [dan lagi]]

Sudah berapa puluh kali dalam kurun waktu hampir tiga tahun, saya dan istri (not we or us) bertengkar karena berbeda pendapat, salah paham, dan karena kesalahan saya (coz, jika disebabkan karena kesalahan istri, saya cenderung cepat memaafkan sebelum pertengkaran berlarut-larut). Tetap saja, walaupun telah terjadi berulang kali rasanya diri ini masih berat menghadapi pertengkaran, terlebih jika harus lebih dahulu mengalah. Satu hal yang sudah bosan saya lakukan karena telah saya lakukan puluhan kali, entah karena murni saya yang salah atau karena saya tidak ingin perang dingin berlangsung terlalu lama.

Lelah, bosan dan cape menghadapi masalah-masalah yang serupa berulang kali. Baginya ini masalah besar, dan karenanya ia marah. Bagi saya ini masalah kecil, yang olehnya dibesar-besarkan, yang karenanya saya ikutan marah. Karena saya tidak suka orang yang membesar-besarkan masalah kecil. Komunikasi mencari siapa yang benar pasti menemui jalan buntu jika tidak ada pihak yang mengalah, dan berdasarkan pengalaman masalah tersebut pudar seiringnya dengan waktu dan kelelahan kedua belah pihak untuk saling berseteru. Jadi untuk kasus kali ini, tak usah mencari siapa yang benar. Biarkan waktu yang menyelesaikan dengan caranya sendiri.

Memang pertengkaran adalah bumbu dalam rumah tangga, namun jika terlalu banyak bumbu juga rasa masakan bisa jadi tak karuan.

Menunggu Jadi Manajer

Dulu ketika masih kuliah di jurusan manajemen, ada harapan dan kemungkinan tinggi untuk mengisi posisi sebagai manajer. Setelah DO dari kuliah harapan itu berangsur-angsur sirna. Kurang lebih tujuh tahun, bukan waktu yang sebentar, harapan atau bahkan pikiran untuk menjadi manajer sama sekali tidak terlintas. Still, I hope to be CEO of my own business for that period.

Sekarang, tahun 2011, tak dinyana tak disangka. Ada tawaran untuk mengisi jabatan sebagai Manajer Koperasi. Why not, I think. Walaupun belum punya pengalaman sebelumnya, walaupun segala materi kuliah tentang manajemen telah berlalu lebih dari 8 tahun lalu, tetap saja masih tertinggal jejak-jejak ilmu manajemen di otak saya yang sudah agak berkarat ini.

Koperasi yang nantinya saya kelola (boleh dong optimis duluan) adalah koperasi yang baru berdiri. Jadi ketika saya diangkat menjadi manajer nanti (Amiiin) maka bawahan saya nanti adalah kursi, meja, lemari dan komputer. Ya, koperasi itu belum punya karyawan.... Jadi pada mulanya saya merangkap bekerja sebagai manajer, staf administrasi, bag. rumah tangga, bag. IT, bag. keuangan, bag. pemasaran, etc. But, it's okay as beginning. Pastinya jika dikelola dengan efektif dan efisien koperasi ini akan berkembang dan membutuhkan personil-personil tambahan (yang pastinya dibawah manajer). And finally, untuk pertama kali dalam hidup saya, saya akan punya bawahan, hahahha..... (evil laugh)

Sudah sebulan sejak saya menitipkan lamaran, namun belum ada panggilan wawancara, Katanya koperasinya masih dalam tahap mengurus badan hukum. I understand that, I'll keep waiting, but please don't hang me for a long time.I need kepastian though. There's must be a series of tough task to be completed when those dream come true. There will be a lot of problem and opportunity.

Me-Remove Saudara Sendiri dari FB

Sudah sekitar sebulan sejak saya me-remove adik saya sendiri dari friend list di facebook. Penyebabnya adalah karena ada sedikit lumayan banyak kesalahpahaman di dunia nyata. Me-remove seseorang ternyata bisa jadi pelampiasan tersendiri terhadap kekesalan kita terhadap seseorang, menurut saya itu cara yang lebih baik daripada memakai kata-kata makian dari kebun binatang kepada orang bersangkutan. Dikarenakan facebook sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup saya, maka dengan me-remove seseorang dari friendlist dengan sendirinya saya merasa telah me-remove seseorang tersebut dari hidup saya. problemo solved.

Walau saat ini saya tidak lagi merasa kesal atas perilaku adik saya yang satu itu, tapi sampai dengan saat ini saya masih belum menambahkan dia dalam friend list saya. Alasan jujurnya, ia terlalu idealis dan cerewet jikalau mendapati saya berkomentar bodor, terutama komentar di status seseorang yang lawan jenis. You better not know what I'm doing in facebook.

Permintaan Maaf

Bagi seorang yang mengaku blogger. Tidak mem-posting sesuatu yang original diblognya dalam jangka waktu lama (lebih dari sebulan) adalah sebuah dosa. Dan saya dengan sangat menyesal, mengaku telah melakukan dosa tersebut.

Dengan ini saya meminta maaf secara terbuka kepada dunia per-blog-an di Indonesia, masyarakat blogger sedunia umumnya, juga kepada blogger.com yang telah memberi saya lapak gratis di dunia maya. Sebagai tanda permintaan maaf dan penyesalan saya, maka saya berjanji akan memposting minimal 1x dalam 1 minggu.

Jika ternyata dikemudian hari didapati saya tidak menepati janji tersebut maka saya bersedia membuat permintaan maaf lagi di blog saya ini.

Kamis, 10 Maret 2011

Celine Dion di Mesjid

Suatu saat aku pernah bermimpi, dalam mimpiku aku sedang menjadi makmum dalam shalat berjamaah. Di saat seharusnya imam membacakan surat Al-Fatihah, justru yang terdengar adalah lantunan lagu dari grup band 'Sheila on 7' (aku lupa lagunya). Saat terbangun aku berpikir sungguh konyol mimpiku itu, dan tak pernah terlintas dalam pikiran bahwa hal semacam itu bisa terjadi di dunia nyata.

Bertahun kemudian, suatu kejadian kembali mengingatkan aku pada mimpiku tadi. Ketika shalat berjamaah, tiba-tiba dari handphone seseorang terdengar bunyi ringtone lagu. Setelah shalat aku baru tersadar bahwa mimpiku itu bukan sesuatu yang mustahil terjadi di dunia nyata. Bisa saja, di suatu tempat suatu waktu, seorang yang menjadi imam shalat lupa (atau lalai) mematikan handphonenya, dan di saat yang sama ada telepon masuk, kebetulan ringtone yang di set adalah lagu dari Sheila on 7. Betapa teknologi telah banyak mendistorsi kehidupan kita.

Dan tadi ketika jumatan, walau sudah diingatkan berulang kali setiap jumat bahwa alat telekomunikasi harap di nonaktifkan. Tetap saja ada orang yang lupa/lalai/bandel tidak menonaktifkan hapenya barang sesaat. Dan jadilah lantunan lagu dari Celine Dion membuyarkan kekhusuan para jamaah di rakaat terakhir.

Tired Being Employee

Pekerjaan pertama dan pekerjaan satu-satunya selam hidupku adalah menjadi seorang karyawan, orang gajian, bekerja di sebuah institusi. Aku bersyukur kepada Allah tidak ditempatkan pada institusi yang memanjakan karyawannya dengan gaji yang tinggi, berbagai macam tunjangan, rencana masa depan, dan fasilitas-fasilitas pendukung kesejahteraan. Aku bersyukur kepada Allah yang mentakdirkan diriku bekerja pada sebuah 'tempat' (aku keberatan jika menyebutnya perusahaan) yang 'asal menggaji' karyawannya. Sehingga dari pengalaman bekerja selama kurang lebih lima tahun aku merasakan bagaimana tidak enaknya menjadi seorang karyawan.

Yang ada di pikiranku sekarang, mereka yang setiap harinya berkeliling komplek dan kampung mendorong gerobak, menjajakan jualannya adalah lebih baik. Karena mereka merdeka dari campur tangan orang lain, karena mereka tidak punya seseorang kecuali diri sendiri yang harus dituntut supaya diri mereka sejahtera. Dan kini tiba saatku untuk mempersiapkan diri menjadi salah seorang dari wirausahawan.

Rabu, 16 Februari 2011

Pasca Kondangan

Siang ini saya habis menghadiri resepsi pernikahan temen kantor yang sudah nikah tapi pastinya belum kawin (kalo yang udah nikah pasti tau apa bedanya nikah ma kawin). Bagi pengunjung undangan yang masih singel pastinya terbesit pertanyaan dalam hati 'kapan ya gw kaya gitu?'. Dan bagi yang sudah dobel tetep aja pertanyaannya sama 'kapan ya gw kaya gitu (lagi)?' hehehe.... just kidding.

Sebenernya bagi orang yang sudah mengalami moment resepsi, sebenernya resepsi itu agak-agak seperti penyiksaan yang indah (at least based on my experience). Bayangin aja, harus berdiri dari pagi sampe malem, kerjanya cuma empat hal: bangun, duduk, senyum, salaman, begitu seterusnya dari jam 10 pagi sampe jam 8 malem, dan juga menahan diri dari makan dan mengeluarkan sesuatu dari tubuh (u know what I mean...). Kebayang ga capenya? Buat yang resepsinya di gedung mungkin ga seberapa berat karena hanya beberapa jam, paling-paling cuma berat di kantong. Namun yang membuat 'penyiksaan' tersebut tertahankan adalah kehadiran sang istri baru di sisi dan khayalan-khayalan indah tentang apa yang terjadi malam nanti.

Bagi orang tua, momen paling ditunggu-tunggu dalam prosesi pernikahan adalah acara resepsi itu sendiri. Dimana kebanyakan tamu-tamu undangan yang datang adalah handai taulan dari orang tua itu sendiri. Orang tua akan sangat bangga dan senang apabila tamu-tamu yang diundang berdatangan tidak terlalu kurang dan tidak terlalu lebih dari jumlah undangan yang telah disebar, acara resepsi berjalan dengan lancar tanpa kurang suatu apapun, terutama kekurangan nasi putih dan daging.

Bagi mempelai wanita, momen yang paling dinanti-nanti adalah acara akad nikah. Karena setelah akad nikah wanita biasanya tidak terlalu merisaukan lagi masa depannya, satu beban terangkat dari pundaknya. Juga kehadiran seorang pria yang diharapkan akan menjadi imam dan pemimpin dalam hidupnya (mudah-mudahan bukan cuma sekedar harapan... amin).

Dan bagi mempelai pria, momen yang paling diidam-idamkan dari prosesi pernikahan adalah......... setelah semua acara resepsi selesai, setelah para tamu undangan dan saudara-saudara pamit pulang, setelah langit gelap, setelah piring-piring selesai dicuci, setelah pintu kamar pengantin ditutup, ....... Klo yang satu ini ga usah dijelasin secara detail, pasti dah pada ngerti semua.

Udah ah nulisnya, kerja dulu... tar diterusin lagi.