Tampilkan postingan dengan label Rumah Tangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Tangga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Maret 2011

Being Like An Angel Is My Only Option


Sorry dear I can’t wipe your tears tonight
Even when you need me so bad
Even when we are one roof
Don’t ask me why I’m not by your side tonight
Don’t ask me why my heart harder than a rock
I won’t and I can’t answer those question
For two reason
Cause I’m sure you not trust me again
And no words that come out from my mouth could ever satisfy you
And last, why I’m hold my self from around you
Cause I’m started to losing trust to myself
Thanks to me that seem always screwing up our marriage
And you who always show me all my mistake even the tiny one
Now I don’t want to tell anything that I will cross by myself later
Now I just trying everyday to be a man like what you want me to be
A man behaving like an angel
And leave no mistake or weakness for you to see in me

Perang Dingin Rumah Tangga

Ada moment-moment pahit dalam rumah tangga dimana istri dan suami saling mendiamkan, mirip seperti perang dingin. Yang keluar hanya kata-kata yang memang sangat-sangat perlu seperti 'Bunda, dah sarapan belum?', atau 'Bunda, dah makan belum'. Yang kadang hanya di respon dengan diam, anggukan atau gelengan kepala. Kondisi seperti ini hanya terjadi ketika masing-masing tak mau mengalah dan merasa benar. Juga tak ada yang memulai pembicaraan.

Sabtu, 19 Maret 2011

Pisah Ranjang

Pisah ranjang merupakan salah satu metode untuk mendidik istri dan menyelesaikan masalah rumah tangga. Ketika cara-cara lain seperti nasehat dan komunikasi telah buntu. Jauh lebih baik daripada terjadi kekasaran secara verbal maupun fisik. Pisah ranjang juga berfungsi memberikan waktu pribadi kepada pasangan masing-masing untuk mengintrospeksi diri, menurunkan kadar emosi dan berpikir dengan lebih jernih. Diharapkan setelah periode pisah ranjang, yang disarankan tidak lebih dari tiga hari, masing-masing akan lebih menyadari porsi kesalahannya terhadap masalah yang timbul. Karena setiap permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga mustahil diakibatkan hanya oleh satu pihak saja. Keduanya pasti punya andil dalam munculnya permasalahan tersebut.

Dalam periode pisah ranjang janganlah berpikir untuk mencari, mengungkit atau memperbesar kesalahan pasangannya. Walaupun pikiran semacam itu cenderung timbul, namun perlu ditepis jauh-jauh. Maksud dari pisah ranjang justru adalah untuk meyadari porsi kesalahan diri kita, memaafkannya dan kemudian memperbaikinya. Akan lebih mudah untuk memaafkan pasangan jika kita telah memaafkan diri sendiri. Jika keduanya melakukan hal yang sama, maka ketika bertemu kembali tidak ada satu pihak pun yang perlu minta maaf. Karena semua sudah termaafkan.

Tinggal mencari jalan keluar agar permasalahan serupa tidak terjadi, tanpa menyalahkan salah satu pihak. Kalaupun ada pihak yang perlu berbenah diri, janganlah mengkoreksinya dengan nada menyalahkan. Karena tidak ada seorang pun, bahkan mereka yang terbukti bersalah, ingin disalahkan.

Selama masa-masa pisah ranjang, seharusnya juga timbul kesadaran bahwa tidak adil untuk menggantungkan kebahagiaan personal kita kepada pasangan. Karenanya pasangan akan merasa terbebani untuk membahagiakan kita. Urusan kebahagiaan, adalah lebih kepada tanggung jawab kita sebagai pribadi. Karenanya ketika kita merasa tidak bahagia, tolak semua pemikiran atau perasaan yang cenderung ingin menyalahkan faktor external, seperti orang lain atau keadaan. Umumnya yang terjadi, target utama yang paling sering disalahkan adalah orang terdekat, yaitu pasangan sendiri.

*Penulis saat ini sedang mengalami masa-masa pisah ranjang. Ketika berangkat dari rumah hati masih terasa berat dan dongkol. Malam pertama penulis habiskan dengan menyenangkan diri sendiri, melupakan masalah yang terjadi. Besoknya pikiran lebih ringan dan mampu memandang permasalahan dari sudut pandang yang lebih luas dan bijaksana. Malam Kedua (which is tonight) penulis merancang rencana untuk membangun ulang semua yang telah runtuh oleh pertikaian yang terjadi, dan mempersiapkan mental jikalau terjadi yang terburuk. Besok pagi penulis akan pulang ke rumah dengan hati lapang. Semoga dia disana baik-baik saja dan lebih ringan hatinya.

Jumat, 18 Maret 2011

Bertengkar [lagi [dan lagi]]

Sudah berapa puluh kali dalam kurun waktu hampir tiga tahun, saya dan istri (not we or us) bertengkar karena berbeda pendapat, salah paham, dan karena kesalahan saya (coz, jika disebabkan karena kesalahan istri, saya cenderung cepat memaafkan sebelum pertengkaran berlarut-larut). Tetap saja, walaupun telah terjadi berulang kali rasanya diri ini masih berat menghadapi pertengkaran, terlebih jika harus lebih dahulu mengalah. Satu hal yang sudah bosan saya lakukan karena telah saya lakukan puluhan kali, entah karena murni saya yang salah atau karena saya tidak ingin perang dingin berlangsung terlalu lama.

Lelah, bosan dan cape menghadapi masalah-masalah yang serupa berulang kali. Baginya ini masalah besar, dan karenanya ia marah. Bagi saya ini masalah kecil, yang olehnya dibesar-besarkan, yang karenanya saya ikutan marah. Karena saya tidak suka orang yang membesar-besarkan masalah kecil. Komunikasi mencari siapa yang benar pasti menemui jalan buntu jika tidak ada pihak yang mengalah, dan berdasarkan pengalaman masalah tersebut pudar seiringnya dengan waktu dan kelelahan kedua belah pihak untuk saling berseteru. Jadi untuk kasus kali ini, tak usah mencari siapa yang benar. Biarkan waktu yang menyelesaikan dengan caranya sendiri.

Memang pertengkaran adalah bumbu dalam rumah tangga, namun jika terlalu banyak bumbu juga rasa masakan bisa jadi tak karuan.

Senin, 22 November 2010

aku tak pernah memilihmu menjadi istri

Suatu hari sepasang suami istri bertengkar. Diantara perkataan yang terlempar dari pikiran-pikiran yang penuh emosi itu adalah "Mengapa kamu memilihku menjadi istri?". Sang suami terdiam, tak mampu menjawab. Membiarkan refleksnya bekerja dan memuntahkan kata-kata begitu saja. "Aku tak pernah memilihmu menjadi istri, Allah yang memilihkanmu untukku".

Setelah kalimat itu berlalu, keduanya terdiam. Sang istri merenung atas perkataan suaminya. Dan sang suami pun terheran dengan kata-kata yang ia ucapkan secara refleks tadi. Barulah sang suami mendapati kebenaran di balik kata-kata yang sebenarnya tak terencana. Bahwa, walaupun sang istri bukanlah wanita tercantik dan terpandai yang ia temui, walaupun sang istri memiliki banyak perbedaan dengan dirinya, walaupun sang istri seringkali membuat jengkel dirinya, toh ada satu alasan mengapa saat ini kami bersanding dalam bingkai pernikahan. Ada alasan yang jelas mengapa Allah menjodohkan kami. Dan Allah, pasti dan pasti, tak mungkin bisa salah memasang-masangkan makhluknya.

Mungkin, kehadirannya dalam hidupku semata-mata untuk memberiku pelajaran:
  • Pelajaran untuk sabar
  • Pelajaran untuk menghadapi orang yang berbeda
  • Pelajaran untuk menahan emosi
  • Pelajaran untuk dapat mengambil pelajaran dalam setiap takdir kehidupan

Sesaat pun aku tak pernah bertanya "Mengapa Allah menjodohkanku dengan perempuan ini?". Karena ku yakin jawabannya pasti masuk akal, meski saat ini aku belum mengerti pasti jawabannya. Tapi aku yakin.