Minggu, 12 Juli 2015

sekolah DAKWAH

Ujiannya setiap hari
Gurunya adalah para nabi, sahabat dan ulama
Kepala sekolahnya adalah Allah SWT
Buku panduannya adalah Alquran dan hadist
Masa belajarnya adalah seumur hidup
Poin penilaiannya adalah iman dan amal saleh
Pengawasnya adalah Rokib Atid
Hadiah kelulusannya adalah surga dan ridho Allah
Wisudanya adalah kematian
Ruang kelasnya adalah seisi bumi
Teman sekelasnya adalah seluruh umat manusia

Sabtu, 11 Juli 2015

fresh air of SAWAH LUHUR

Orang-orang kota rela menghabiskan jutaaan rupiah hanya untuk menghirup udara segar, merasakan hawa yang sejuk dan melihat hijaunya hampran padi di wilayah persawahan seperti di wilayah Ubud, Bali. Bagi orang-orang yang tinggal dan beraktivitas di perkotaan, pemandangan dan udara persawahan terutama di pagi hari sangat-sangat memukau dan berharga. Yang dihadapi orang-orang itu setiap harinya adalah bisingnya deru mesin kendaraan, penatnya mobil dan motor yang berhimpit-himpitan di tengah kemacetan, dan udara kotor serta beracun hasil buangan ribuan knalpot. Karenanya ketika dihadapkan dengan suara merdu dari gesekan-gesekan tanaman padi yang dihembus angin, hijau dan kuningnya tanaman padi yang tersusun rapih di petak-petak sawah, dan oksigen yang berlimpah hasil produksi begitu banyak tumbuhan hijau di pagi hari. Itu semua, begitu bernilai harganya di mata orang-orang kota. Sesuatu yang langka, dan karenanya berharga.

Saya beruntung setiap hari dapat memandangi areal persawahan yang luas dan indah, menghirup limpahan oksigen segar pagi hari hasil produksi jutaan tanaman padi, dan mendengar tenangnya dunia setiap pergi kerja. Sesuatu yang indah dan langka bagi banyak orang. Sesuatu yang sayangnya baru saya sadari akhir-akhir ini. Karena terlalu terfokus pada tujuan, yaitu tempat kerja. Pikiran yang sibuk mengantisipasi masalah yang timbul dikantor menghalangi momen-momen ajaib melewati areal persawahan yang luar biasa. Areal persawahan tersebut bernama sawah luhur, salah satu daerah penghasil padi terbesar di Banten yang berlokasi di Kabupaten Serang, Banten.

Jumat, 10 Juli 2015

S1 jurusan SABAR

Apa yang benar-benar kita perlukan dalam hidup, jarang diajarkan di sekolah. Saya tidak mengerti mengapa kurikulum sekolah lebih banyak mengajarkan hal-hal yang teoritis. Bukan hal-hal yang sifatnya praktis seperti manajemen emosi, manajemen pikiran, manajemen waktu dan hal-hal yang kemungkinan besar dapat digunakan oleh setiap orang di hampir setiap keadaan. Berapa banyak dari kita yang menggunakan rumus trigonometri setelah lulus sekolah atau lulus kuliah? Jika kita tidak bekerja di bidang engineering atau bekerja sebagai ilmuwan mungkin hal terakhir yang kita lakukan dengan ilmu trigonometri adalah mengajarkannya ke anak kita yang masih sekolah! Yang anak kita gunakan kelak untuk mengajari anaknya lagi dan seterusnya.

Lalu bagaimana dengan ilmu-ilmu yang justru penting dalam hidup, seperti bagaimana menjaga kesabaran dalam setiap situasi? Atau belajar tentang kebahagiaan? Belajar untuk senantiasa bersyukur? Ilmu yang sejak dipelajari hingga nanti di akhir hayat diperlukan oleh hampir semua manusia. Mengapa tingkah laku, attitude jarang sekali dijadikan kuriklum resmi di sekolah atau di kampus. Saya bermimpi kelak ada sekolah atau kampus yang membuka jurusan kebahagiaan. Mata kuliahnya adalah kebahagiaan 101, kesabaran dasar, ilmu syukur dan semacamnya. Jadi entah sepuluh atau dua puluh tahun lagi, saya bermimpi ada sarjana dengan gelar sarjana kesabaran. Yang melahirkan orang-orang yang benar-benar patut menjadi suri teladan bagi masyarakat tentang kesabaran.

Tapi bagaimana dengan pekerjaannya nanti? Mungkin itu yang akan ditanyakan banyak orang tentang sarjana S1 jurusan kesabaran. Pekerjaan apa yang akan dikerjakan oleh lulusan S1 kesabaran? Saya jawab, pekerjaannya adalah menjadi teladan bagi masyarakat banyak. Karena saat ini kita sudah cukup banyak memiliki dokter, enjinir, manajer, bankir, dll. Namun teladan? Masih segelintir orang yang pekerjaannya adalah menjadi teladan. Lalu siapa yang gaji kalau begitu? Saya jawab, Allah langsung yang akan menggajinya.

Kamis, 09 Juli 2015

ibadah SEADANYA

Pernahkah terlintas dalam pikiran kita. Ketika akan berangkat kerja, kebetulan di hari itu ada meeting penting dengan bos besar atau klien penting.  Pagi itu kita mandi lebih lama dari biasanya, memilih kemeja dan celana terbaik, tidak lupa deodoran dan parfum, rambut diberi pomade dan disisir rapih, sepatu dipastikan semengkilat mungkin, ditambah pengharum nafas. Memastikan penampilan kita adalah penampilan terbaik. Sadarkah kita bahwa apa yang kita lakukan tersebut, semata-mata karena untuk berhadapan dengan sesama manusia. Yang pada hakikatnya tidak mampu memberi manfaat dan mudharat tanpa izin Allah. Demi berhadapan dengan manusia kita rela mengalokasikan setengah jam lebih untuk benar-benar memperhatikan penampilan.

Lalu bagaimana ketika kita akan menghadap Allah, untuk meeting denganNya. Sholat adalah pertemuan Allah dengan hambaNya. Sholat adalah meeting antara kita dan bos besar seluruh alam semesta. Penampilan fisik apa yang biasanya kita siapkan untuk meeting maha penting tersebut. Kalau sholat subuh biasanya bangun tidur, wudhu, pakai sarung, gelar sajadah, langsung sholat. Tidak peduli bahwa pakaian yang kita pakai adalah pakaian yang sudah kusut sehabis dipakai tidur semalaman, tidak peduli bau badan kita setelah semalaman tidur, tidak peduli rambut yang masih acak-acakan, nafas yang bau belum sikat gigi, ditambah sarung kumal yang sudah berapa hari tidak diganti.

Betapa berbeda 360 derajat penampilan kita ketika akan bertemu manusia dan bertemu Allah, Sang Raja Manusia.

Rabu, 08 Juli 2015

peperangan INTERNAL

Telah menjadi kebenaran universal bahwa pertempuran paling besar adalah pertempuran melawan diri sendiri. Peperangan antar suku, antar kubu dan antar negara berawal dari orang-orang yang tak mampu mengalahkan dirinya sendiri. Orang-orang yang kalah oleh nafsu dan ambisinya. Peperangan yang membuat banyak orang terbunuh bermula dari orang-orang yang tak bisa memenangi pertempuran antara bisikan malaikat dan bisikan iblis dalam dirinya. Begitupun banyak impian manusia yang tak kunjung terwujud adalah bukan karena kondisi external. Berapa banyak kita pernah melihat atau membaca berita mengenai penyandang cacat yang mampu berprestasi, memainkan simfoni musik yang indah, melukis karya lukisan yang indah atau menulis buku yang menginspirasi. Sekali lagi, bukan kondisi external seperti cacat tubuh, keterbatasan materi atau lingkungan yang menghalangi kita mencapai impian. Namun apakah kita mampu untuk memenangi peperangan dalam diri yang menentukan apakah kita mampu mencapai impian?

Selasa, 07 Juli 2015

yang penting SELAMAT

Pernahkah kita membaca berita tentang seorang ayah yang berangkat kerja namun tidak pernah sampai di kantor. Atau seorang ibu yang pulang dari kantor namun tak pernah sampai ke rumah. Orang tadi mengalami kecelakaan di perjalanan ketika menuju rumah atau kantor. Kecelakaan fatal yang merenggut nyawa. Orang yang ditunggu-tunggu ternyata tak kunjung datang. Meninggalkan kesedihan mendalam di benak keluarga dan rekan kerja. Pernahkah kita merenung bahwa bisa jadi orang tersebut adalah kita. Pernahkah kita merasa beruntung sampai di rumah atau di kantor dengan selamat?

Seringkali kita mengeluh dengan pelayanan transportasi umum yang buruk, mengeluh mengenai kemacetan di jalan-jalan, mengeluhkan lamanya perjalanan pergi pulang kerja. Coba sesekali kita merenung, berpikir dan bersyukur bahwa tiba di rumah atau di kantor dengan selamat saja sudah menjadi berkah tersendiri. Meskipun harus menempuh perjalanan 2 jam, walaupun harus menembus belantara kemacetan, itu semua hampir tidak ada artinya dengan keselamatan jiwa kita yang bisa saja terenggut di tengah perjalanan.

Dari ribuan perjalanan yang pernah kita tempuh menuju kantor atau rumah, berapa kali kita mengalami kecelakaan? Dan kalau Anda masih bisa membaca tulisan ini berarti anda masih hidup. Bahwa rasio celaka di perjalanan yang Anda tempuh kurang dari 0.01% dan rasio meninggal karena kecelakaan di perjalanan adalah 0%  adalah hal yang sangat patut disyukuri. Kita lebih banyak diselamatkan oleh Allah daripada diberi cobaan berupa kecelakaan.

Mari mulai sekarang kita bersyukur ketika tiba di kantor, ketika sampai di rumah. Bersyukur karena kita telah sampai tempat tujuan dengan selamat. Apa-apa yang terjadi selama di perjalanan adalah kurang penting dan karenanya tidak pantas untuk dikeluhkan. Kita pastinya lebih memilih bermacet-macet ria atau melewati jalan jelek daripada harus dikafankan kan? Jadi syukuri saja fakta bahwa kita masih selamat.

Senin, 06 Juli 2015

lebih KASIHAN kepada siapa

Seringkali kita mengkasihani orang lain. Ketika melewati pengemis anak-anak di trotoar, ketika bertemu mereka yang sudah tua renta masih meminta-minta di tengah kemacetan, ketika melihat orang-orang tua ditelantarkan anaknya di panti jompo, ketika mendapati anak balita yang sudah tidak punya ayah ibu lagi, ketika mendengar anak-anak SD harus bekerja dan putus sekolah karena tak ada biaya. Ketika semua berita itu sampai melalui indra kita, kita merasa kasihan. Ada perasaan terenyuh, sedih, ingin menolong. Orang bilang, ini perasaan empati. Rasa empati ini menandakan kita adalah satu sebagai umat manusia. Kita dan mereka yang setiap harinya mengemis di jembatan penyebrangan hakikatnya adalah sama. Sama-sama manusia. Mereka yang masih memiliki rasa kemanusiaan pasti merasakan empati, merasakan kasihan, tatkala mendapati manusia lain yang jauh kurang beruntung dibanding dirinya. Mereka yang hatinya tak tersentuh, mereka yang tak merasa kasihan atau minimal terenyuh. Mungkin perlu dipertanyakan lagi rasa kemanusiaannya. Kita merasa kasihan karena kita merasa sama-sama manusia. Rasa kasihan yang kita punya menandakan kalau kita masih manusia.

Rasa kasihan yang sebelumnya saya ungkapkan adalah rasa kasihan karena kekurangan hal-hal yang sifatnya fisik. Kekurangan uang, kekurangan makanan, kekurangan tempat tinggal, kekurangan perhatian. Namun ada jenis rasa kasihan lain yang seringkali terlupakan. Adakah dari kita yang pernah merasa kasihan kepada mereka yang kekurangan dalam hal spiritual, dalam hal hubungannya dengan Allah. Pernahkah kita merasa kasihan kepada seorang direktur yang sering melalaikan shalat? Pernahkah kita merasa kasihan kepada orang kaya yang belum juga mengunjungi tanah suci Mekkah? Pernahkah kita merasa kasihan kepada pejabat yang jarang berkunjung ke masjid? Mungkin masih sedikit orang yang mengkasihani golongan orang yang seperti itu. Golongan orang yang jauh dari Allah, golongan orang yang lalai dalam ibadah, golongan orang yang lemah imanya.

Rasa kasihan memberi kita dorongan untuk bertindak membantu mereka lepas dari kondisi keprihatinannya, kondisi yang membuat kita merasa kasihan. Jika kita kasihan terhadap orang yang lapar, kita terdorong untuk memberinya makanan. Jika kita kasihan terhadap orang yang jarang ke masjid, tindakan apa yang lantas kita lakukan? Jika kita kasihan terhadap orang yang melalaikan shalat, lalu apa yang kita perbuat? Jika tidak ada tindakan nyata yang kita perbuat, maka jangan-jangan kita ini belum kasihan kepada golongan orang-orang yang kekurangan secara spiritual. Atau malah kita ini justru termasuk orang-orang yang patut dikasihani secara spiritual.

Padahal kekurangan dalam hal duniawi adalah kekurangan yang sifatnya sementara dan dapat dimaklumi Allah. Jika seorang manusia sakit-sakitan, kelaparan, miskin, hidup terlunta-lunta, sendirian, ditinggalkan, Allah masih tidak marah. Allah masih sayang selama orang tersebut masih taat. Namun jika kekurangannya dalam hal keimanan dan ibadah, maka kekurangan itu akan menjadi masalah besar bukan hanya di dunia namun terlebih lagi di akhirat. Orang yang kekurangan dalam hal iman dan ibadah, di dunia akan merasakan kegelisahan, di akhirat akan merasakan penderitaan yang abadi. Jika seseorang lalai terhadap shalatnya, jarang ke masjid, berakhlak buruk, mengambil yang bukan haknya, menyakiti orang lain, maka Allah akan marah. Tidakkah kita lebih kasihan kepada orang tersebut dibanding orang yang hanya kekurangan masalah dunia.


Sekarang ini, jika kita boleh memilih. Apakah kita lebih kasihan terhadap pengemis yang duduk di trotoar, tiap hari terpapar sinar matahari yang tajam, ketika malam tidur hanya beralaskan tikar dan beratapkan langit, namun ketika adzan berkumandang ia beranjak ke masjid? Ataukah kita lebih kasihan kepada eksekutif muda yang tampan dan mapan, tinggal di apartemen elite, mengendarai mobil keluaran terbaru, namun ketika waktu shalat hampir habis ia tak kunjung beranjak dari kursi kantornya yang empuk? Atau justru kita malah kasihan terhadap diri sendiri karena tak punya keduanya?