Seberapa besar sih porsi pekerjaan dalam kehidupan seorang pria?
Sebelum menjawab pertanyaan diatas, biarkan saya memaparkan fakta berikut:
Dalam sehari ada 24 jam, dan waktu untuk bekerja normalnya adalah 8 jam. Bahkan seringkali lebih dari 8 jam jika ada lembur. Di tempat saya bekerja, seseorang bisa bekerja dari jam 7 pagi hingga jam 24 tengah malam. Itu berarti orang yang bersangkutan menghabiskan waktunya 17 jam sehari. Lebih dari 70% waktunya dihabiskan di tempat kerja, dan kurang dari 30% di rumah, itu pun pasti sebagian besar digunakan untuk istirahat.
Delapan jam sehari atau sepertiga waktu yang dimiliki seorang pria hanya habis untuk satu jenis kegiatan: yaitu bekerja. Sedangkan yang dua per tiga nya baru digunakan untuk aktivitas yang lain seperti: ibadah, bercengkrama dengan keluarga, hiburan, istirahat, tidur, makan, mandi, belajar, interaksi sosial, dll. Bayangkan apa yang terjadi jika terdapat masalah yang signifikan terhadap aktivitas yang menyita waktu sepertiga harinya?
Jika, dalam pekerjaannya seorang pria merasa tidak melakukan sesuatu yang berarti, tidak menyumbang apa-apa dalam kehidupan pribadinya berarti pria ini telah membuang sepertiga harinya. Membuat hidupnya hanya tinggal dua per tiganya. Yang juga belum tentu bisa digunakan secara maksimal.
Terlebih lagi bagi seorang kepala rumah tangga muslim yang menyadari bahwa ia mempunyai kewajiban mencari nafkah yang halal dan berkah bagi anak istrinya. Halal berarti bahwa rupiah yang dihasilkan berasal dari pekerjaan yang tidak bertentangan dengan perintah dan larangan Allah. Berkah berarti bahwa ia memberikan kualitas terbaik yang bisa diberikan untuk mendapat rupiah tersebut.
Bekerja di perusahaan adalah halal, namun bisa menjadi tidak berkah jika pekerjaan yang dilakukan di perusahaan itu dilakukan dengan setengah-setengah dan ada unsur korupsi waktu. Menjadi dilema bagi seorang pria jika ia seolah terperangkap dalam pekerjaan dimana ia tidak bisa atau tidak tahu bagaimana memberikan yang terbaik dari dirinya. Sedang keadaan mengharuskan ia tak bisa pindah pekerjaan.
Hanya Allah lah yang Maha Bijaksana yang mampu menjawab segala pertanyaan dan kondisi yang rumit.
Senin, 22 November 2010
aku tak pernah memilihmu menjadi istri
Suatu hari sepasang suami istri bertengkar. Diantara perkataan yang terlempar dari pikiran-pikiran yang penuh emosi itu adalah "Mengapa kamu memilihku menjadi istri?". Sang suami terdiam, tak mampu menjawab. Membiarkan refleksnya bekerja dan memuntahkan kata-kata begitu saja. "Aku tak pernah memilihmu menjadi istri, Allah yang memilihkanmu untukku".
Setelah kalimat itu berlalu, keduanya terdiam. Sang istri merenung atas perkataan suaminya. Dan sang suami pun terheran dengan kata-kata yang ia ucapkan secara refleks tadi. Barulah sang suami mendapati kebenaran di balik kata-kata yang sebenarnya tak terencana. Bahwa, walaupun sang istri bukanlah wanita tercantik dan terpandai yang ia temui, walaupun sang istri memiliki banyak perbedaan dengan dirinya, walaupun sang istri seringkali membuat jengkel dirinya, toh ada satu alasan mengapa saat ini kami bersanding dalam bingkai pernikahan. Ada alasan yang jelas mengapa Allah menjodohkan kami. Dan Allah, pasti dan pasti, tak mungkin bisa salah memasang-masangkan makhluknya.
Mungkin, kehadirannya dalam hidupku semata-mata untuk memberiku pelajaran:
Sesaat pun aku tak pernah bertanya "Mengapa Allah menjodohkanku dengan perempuan ini?". Karena ku yakin jawabannya pasti masuk akal, meski saat ini aku belum mengerti pasti jawabannya. Tapi aku yakin.
Setelah kalimat itu berlalu, keduanya terdiam. Sang istri merenung atas perkataan suaminya. Dan sang suami pun terheran dengan kata-kata yang ia ucapkan secara refleks tadi. Barulah sang suami mendapati kebenaran di balik kata-kata yang sebenarnya tak terencana. Bahwa, walaupun sang istri bukanlah wanita tercantik dan terpandai yang ia temui, walaupun sang istri memiliki banyak perbedaan dengan dirinya, walaupun sang istri seringkali membuat jengkel dirinya, toh ada satu alasan mengapa saat ini kami bersanding dalam bingkai pernikahan. Ada alasan yang jelas mengapa Allah menjodohkan kami. Dan Allah, pasti dan pasti, tak mungkin bisa salah memasang-masangkan makhluknya.
Mungkin, kehadirannya dalam hidupku semata-mata untuk memberiku pelajaran:
- Pelajaran untuk sabar
- Pelajaran untuk menghadapi orang yang berbeda
- Pelajaran untuk menahan emosi
- Pelajaran untuk dapat mengambil pelajaran dalam setiap takdir kehidupan
Sesaat pun aku tak pernah bertanya "Mengapa Allah menjodohkanku dengan perempuan ini?". Karena ku yakin jawabannya pasti masuk akal, meski saat ini aku belum mengerti pasti jawabannya. Tapi aku yakin.
Sabtu, 20 November 2010
Anthony de Mello Collection
Anthony de Mello lahir di Bombay, India, 4 September 1931 – meninggal di New York, Amerika Serikat, 2 Juni1987 pada umur 55 tahun. Adalah seorang tokoh yang menjadi inspirasi bagi diri saya. Meskipun beliau berbeda agama dengan saya, namun apa yang disampaikan mengena dan cocok di hati dan pikiran saya. Pemikirannya pun bersifat multi agama, tidak berpihak pada agama manapun. Inti dari pemikiran beliau adalah untuk 'bangun', sadar diri, to be aware.
Disini saya hanya ingin berbagi mengenai apa yang berguna bagi saya dan mungkin juga berguna bagi saudara-saudara saya yang lain. File-file yang saya kumpulkan disini sebenarnya bisa di download gratis dari internet, namun jika Anda merasa repot dan tak punya waktu untuk mendownloadnya satu per satu, saya bisa membantu menyalinnya ke dalam bentuk DVD dan mengirimkannya ke alamat Anda. Berikut koleksi saya:
Link Terkait :
Anthony de Mello Rediscovering Life Pt1 2 of 5
Anthony de Mello Rediscovering Life Pt1 4 of 5
Anthony de Mello Rediscovering Life Pt1 5 of 5
Disini saya hanya ingin berbagi mengenai apa yang berguna bagi saya dan mungkin juga berguna bagi saudara-saudara saya yang lain. File-file yang saya kumpulkan disini sebenarnya bisa di download gratis dari internet, namun jika Anda merasa repot dan tak punya waktu untuk mendownloadnya satu per satu, saya bisa membantu menyalinnya ke dalam bentuk DVD dan mengirimkannya ke alamat Anda. Berikut koleksi saya:
1. Awareness ( part 1 s/d 56 )
- Ukuran : 1,53 GB
- Jumlah File : 69 file
- Tipe File: flv
- Ukuran : 448 MB
- Jumlah File : 24 file
- Tipe File: flv
- Ukuran : 227 MB
- Jumlah File : 12 file
- Tipe File: flv
Bagi Anda yang berminat mendapat salinan file tersebut diatas dalam bentuk DVD silakan hubungi saya melalui email rizkiardibachtiar@gmail.com.
Link Terkait :
- Situs resmi Anthony de Mello (www.demello.org)
- Kumpulan cerita pendek dari Anthony de Mello (www.pondokrenungan.com/anthony.php)
- Kumpulan cerita dari Anthony de Mello (http://media.isnet.org/sufi/Mello/)
- Artikel Anthony de Mello (www.soulwise.net/99adm00.htm)
- Awareness clip on Youtube (www.youtube.com/user/mothnrust)
Anthony de Mello Rediscovering Life Pt1 1 of 5
Anthony de Mello Rediscovering Life Pt1 2 of 5
Anthony de Mello Rediscovering Life Pt1 3 of 5
Anthony de Mello Rediscovering Life Pt1 4 of 5
Anthony de Mello Rediscovering Life Pt1 5 of 5
~ ~ ~
Sang murid bertanya kepada Sang Guru, "Berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menjadi bijaksana?". Sang Guru Menjawab, "Sekejap mata'. Sang murid terlihat bingung dan kembali bertanya, "Lalu mengapa kami harus menghabiskan waktu untuk belajar kebijaksanaan di kuil ini bertahun-tahun bahkan puluhan tahun". Sang Guru tersenyum sambil bertanya balik, "Berapa waktu yang dibutuhkan untuk melihat bulan?"
"Butuh seumur hidup untuk seseorang agar dapat membuka matanya, namun melihat cukup dilakukan dalam sekejap"
Rabu, 17 November 2010
kembali salat subuh berjamaah
Alhamdulillah, setelah sekian lama, saya kembali dikaruniakan Allah kenikmatan untuk salat subuh berjamaah di masjid. Itu semua bukan karena kekuatan dan kemauan dari diri saya, namun semata-mata adalah karunia, rahmat dan nikmat dari Allah. Saya berulang kali mengingatkan diri saya untuk beristighfar jika mendapati pikiran ini menganggap diri ini lebih baik dari mereka yang masih tertidur pulas ketika saya berangkat atau pulang dari masjid. Sama sekali bukan kekuatan dari diri saya yang membuat tubuh ini bangun, berwudhu, dan melangkahkan kaki ke masjid. Sungguh kenikmatan yang sangat besar yang tidak dapat dibandingkan dengan dunia dan seisinya. Sungguh tak pantas kita iri kepada orang yang memiliki rumah seperti istana, seharusya kita jauh lebih iri kepada orang yang istiqomah menjalankan salat subuh berjamaah.
Salah satu penyebab kita kesiangan salat subuh adalah dosa-dosa yang kita lakukan pada siang dan malam hari sebelumnya. Jadi jika besok kita bersungguh-sungguh ingin mulai salat subuh berjamaah, mulailah dari pagi ini untuk tidak melakukan dosa dan memperbanyak ibadah, terutama memperbanyak ingat kepada Allah. Kehadiran seseorang yang telah istiqomah salat subuh dengan tertib juga sangat membantu untuk mengingatkan diri kita untuk salat subuh dengan tertib. Hanya orang yang salat subuhnya sudah benar yang mampu menggugah orang lain untuk mengikuti jejaknya. Seseorang yang salat subuhnya masih belum benar, walaupun ia mengatakan seribu hadist mengenai keutamaan salat subuh, kata-katanya kan terasa hambar.
Salat subuh memang bisa dijadikan indikator keimanan seseorang. Jikalau salat subuh sudah mulai telat atau sudah malas salat di masjid. Tandanya iman kita sudah mulai terkikis. Untuk mengingatkan diri saya dan kita semua untuk menjaga salat subuh berjamaah. Saya kutip beberapa hadist singkat mengenai keutamaan salat subuh yang saya ambil dari berbagai sumber di internet
“Barangsiapa yang sholat Isya’ berjamaah maka seakan-akan dia telah sholat setengah malam. Dan barangsiapa sholat Subuh berjamaah maka seakan-akan dia telah melaksanakan sholat malam satu malam penuh.” (HR Muslim)
“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
“Barangsiapa yang shalat dua waktu yang dingin maka akan masuk surga.” (HR Bukhari)
“Kami sedang duduk bersama Rasulullah, ketika melihat bulan purnama. Beliau berkata, ‘Sungguh, kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan yang tidak terhalang dalam melihatnya. Apabila kalian mampu, janganlah kalian menyerah dalam melakukan sholat sebelum terbit matahari (Subuh) dan sholat sebelum terbenam matahari (Ashar). Maka lakukanlah.” (HR Bukhari dan Muslim)
“Dua rakaat fajar (shalat sunnah sebelum subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya” (HR. Muslim)
”Sholat berjamaah lebih utama dari sholat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh lima lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu sholat Subuh.” (HR Bukhari)
“Barangsiapa yang menunaikan sholat Subuh maka ia berada dalam jaminan (perlindungan) Allah.” (HR Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Terima kasih kepada istri dan adikku yang telah mengingatkan saya untuk kembali ke jalannya.
Salah satu penyebab kita kesiangan salat subuh adalah dosa-dosa yang kita lakukan pada siang dan malam hari sebelumnya. Jadi jika besok kita bersungguh-sungguh ingin mulai salat subuh berjamaah, mulailah dari pagi ini untuk tidak melakukan dosa dan memperbanyak ibadah, terutama memperbanyak ingat kepada Allah. Kehadiran seseorang yang telah istiqomah salat subuh dengan tertib juga sangat membantu untuk mengingatkan diri kita untuk salat subuh dengan tertib. Hanya orang yang salat subuhnya sudah benar yang mampu menggugah orang lain untuk mengikuti jejaknya. Seseorang yang salat subuhnya masih belum benar, walaupun ia mengatakan seribu hadist mengenai keutamaan salat subuh, kata-katanya kan terasa hambar.
Salat subuh memang bisa dijadikan indikator keimanan seseorang. Jikalau salat subuh sudah mulai telat atau sudah malas salat di masjid. Tandanya iman kita sudah mulai terkikis. Untuk mengingatkan diri saya dan kita semua untuk menjaga salat subuh berjamaah. Saya kutip beberapa hadist singkat mengenai keutamaan salat subuh yang saya ambil dari berbagai sumber di internet
“Barangsiapa yang sholat Isya’ berjamaah maka seakan-akan dia telah sholat setengah malam. Dan barangsiapa sholat Subuh berjamaah maka seakan-akan dia telah melaksanakan sholat malam satu malam penuh.” (HR Muslim)
“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
“Barangsiapa yang shalat dua waktu yang dingin maka akan masuk surga.” (HR Bukhari)
“Kami sedang duduk bersama Rasulullah, ketika melihat bulan purnama. Beliau berkata, ‘Sungguh, kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan yang tidak terhalang dalam melihatnya. Apabila kalian mampu, janganlah kalian menyerah dalam melakukan sholat sebelum terbit matahari (Subuh) dan sholat sebelum terbenam matahari (Ashar). Maka lakukanlah.” (HR Bukhari dan Muslim)
“Dua rakaat fajar (shalat sunnah sebelum subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya” (HR. Muslim)
”Sholat berjamaah lebih utama dari sholat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh lima lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu sholat Subuh.” (HR Bukhari)
“Barangsiapa yang menunaikan sholat Subuh maka ia berada dalam jaminan (perlindungan) Allah.” (HR Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Terima kasih kepada istri dan adikku yang telah mengingatkan saya untuk kembali ke jalannya.
Minggu, 14 November 2010
resiko menjadi baik
Saya pernah membaca sebuah kisah, entah dari mana. Tentang seorang ulama yang sedang mengimami shalat lalu tiba-tiba beliau mundur dan memberi isyarat agar orang lain menggantikannya menjadi imam. Setelah shalat selesai beliau ditanya perihal mundurnya beliau dari posisi imam. Sang ulama menjawab, tadi ketika sedang shalat terpetik dalam pikiranku bahwa shalatku ini lebih baik dan lebih khusyu daripada shalat makmumku. Karenanya aku mundur.
Itu juga yang saya takutkan jikalau saya mulai belajar menjadi baik dan soleh. Seiring dengan bertambahnya amal soleh yang saya perbuat, saya takut jikalau saya mulai memandang amal soleh yang dilakukakan orang lain kurang dibandingkan dengan saya. Seiring dengan bertambahnya ilmu yang saya pelajari, saya takut jikalau saya nanti berpandangan 'orang lain lebih bodoh dari saya'. Saya hanya tak ingin merasa diri ini lebih soleh atau lebih pandai dari orang lain.
Jikalau nanti saya menjadi orang yang soleh atau orang yang berilmu. Saya ingin sekali menganggapnya sebagai sebuah keberuntungan, semata-mata rahmat dari Allah. Sama sekali bukan karena usaha dan jerih payah saya. Saya ingin sekali merasa bahwa kebaikan dan ilmu yang dianugerahkan Allah saat ini bisa dengan mudah secara tiba-tiba dicabut dari diri saya. Bahwa Allah berkuasa dengan sangat mudah mengubah seorang pendosa menjadi ulama. Sehingga saya tidak punya alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain.
Itu juga yang saya takutkan jikalau saya mulai belajar menjadi baik dan soleh. Seiring dengan bertambahnya amal soleh yang saya perbuat, saya takut jikalau saya mulai memandang amal soleh yang dilakukakan orang lain kurang dibandingkan dengan saya. Seiring dengan bertambahnya ilmu yang saya pelajari, saya takut jikalau saya nanti berpandangan 'orang lain lebih bodoh dari saya'. Saya hanya tak ingin merasa diri ini lebih soleh atau lebih pandai dari orang lain.
Jikalau nanti saya menjadi orang yang soleh atau orang yang berilmu. Saya ingin sekali menganggapnya sebagai sebuah keberuntungan, semata-mata rahmat dari Allah. Sama sekali bukan karena usaha dan jerih payah saya. Saya ingin sekali merasa bahwa kebaikan dan ilmu yang dianugerahkan Allah saat ini bisa dengan mudah secara tiba-tiba dicabut dari diri saya. Bahwa Allah berkuasa dengan sangat mudah mengubah seorang pendosa menjadi ulama. Sehingga saya tidak punya alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain.
Minggu, 07 November 2010
aku ingin menikahi keheningan
Keheningan, kesunyian that's all what i needed. Di saat-saat seperti ini, when I looking for an answer, when I looking for myself. Solitude, that's the name of my savior. Manusia, entah apa namanya, entah apa julukannya, tak peduli seperti apa rupanya. I'm tired, I'm sick of it.Aku lelah mengandalkan manusia, di satu waktu ia begitu baik, cocok, like an angel from heaven. And one time, they just look like .... tikus yang menggerogoti emosi dan energiku, makhluk yang menuntut ini itu. Homo sapien yang menyandra dirinya sendiri menjadi tidak bahagia jika aku tak memenuhi kebutuhan emosionalnya. God, sometimes I hate my own race!. Tapi tak mengapa, pun aku juga manusia. Aku juga egois, aku juga bodoh, aku juga tolol. Berharap manusia lain untuk peduli, empati, baik hati or whatever adalah suatu ketololan yang luar biasa. You know, I'm human they human, I'm idiot they too.
"You have to suffer enough in relationship to make you say ENOUGH". Cukup atas semua harapan tak masuk akal terhadap sesama manusia. Cukup untuk berharap manusia bersikap selamanya baik. Bukan berarti aku kehilangan harapan atas kebaikan umat manusia. Pada beberapa kesempatan mereka menjadi baik, namun mereka tidak pernah baik padamu. Mereka baik karena mereka dalam kondisi emosi yang bagus atau karena aku tipe orang yang cocok dengan mereka. Otherwise, they would turn to someone else. In some case, human are very predictable, when you say 'I dont care' they surely turn sour to you. But when you say 'I'm sorry, you're right' and then they start giving you a litle bit smile. Human are that simple, you press one button and they turn good on you, and then you press another and then they turn into evil. Am I correct?
Karenanya aku lebih memilih keheningan sebagai sahabat setiaku. Bahkan, sepertinya aku lebih memilih untuk menikahi keheningan daripada manusia. Entah di pinggir pantai atau di kamar kos yang kosong, ia hadir. Ketika di tengah jam kerja atau di tengah malam, ia siap sedia. You know what, aku pernah melewatkan semua waktu-waktu istimewa bersama keheningan. Aku dan keheningan hanya berdua saja ketika hari raya idul fitri, ketika tahun baru, ketika aku ulang tahun, ketika aku DO dari universitas, ketika aku pertama kali diterima kerja, ketika aku pertama kali naik gaji, ketika besok harinya aku akan menikah. Dan ia ada disini bersamaku malam ini.
Satu hal yang paling aku suka dari keheningan adalah: Ia tak membutuhkanku, dan karenanya ia tak bergantung padaku. Jadi, dalam kondisi apapun aku datang padanya, she is welcome. Eventhough I admit that I often came to her when I'm a mess. Aku merasakan seolah-olah ia duduk di sisiku ketika aku duduk di tepi pantai, aku dapat merasakan kehadirannya di depan meja kerjaku ketika aku kerja lembur, aku dapat merasakan ia membonceng di jok sepeda motorku ketika aku pulang malam hari. Namun ia berkata selamat tinggal ketika aku tiba di depan pintu rumah, aku bahkan dapat mengingat senyum sedihnya di hari pernikahanku. Dan di malam ini aku baru tersadar mengapa dia bersedih di hari yang seharusnya bahagia itu. Mulai hari itu, aku tak bisa menghadirkan keheningan kapanpun dimanapun aku mau.
Malam ini rasanya kami seperti mantan pacar yang sudah lama tidak bertemu. Dan kembali bertemu sebagai sepasang sahabat. Satu pesan terpenting yang kuingat dari keheningan adalah ketika ia berkata: "Kamu harus mencintai dan berbuat baik manusia bukan karena mereka juga mencintai dan berbuat baik padamu. Kamu harus tetap mencintai dan berbuat baik kepada sesama manusia tanpa melihat perlakuan mereka padamu. Dan kamu hanya bisa mencapai hal itu ketika kau tidak lagi membutuhkan dan menggantungkan emosi dan kebahagiaanmu pada manusia lain".
"You have to suffer enough in relationship to make you say ENOUGH". Cukup atas semua harapan tak masuk akal terhadap sesama manusia. Cukup untuk berharap manusia bersikap selamanya baik. Bukan berarti aku kehilangan harapan atas kebaikan umat manusia. Pada beberapa kesempatan mereka menjadi baik, namun mereka tidak pernah baik padamu. Mereka baik karena mereka dalam kondisi emosi yang bagus atau karena aku tipe orang yang cocok dengan mereka. Otherwise, they would turn to someone else. In some case, human are very predictable, when you say 'I dont care' they surely turn sour to you. But when you say 'I'm sorry, you're right' and then they start giving you a litle bit smile. Human are that simple, you press one button and they turn good on you, and then you press another and then they turn into evil. Am I correct?
Karenanya aku lebih memilih keheningan sebagai sahabat setiaku. Bahkan, sepertinya aku lebih memilih untuk menikahi keheningan daripada manusia. Entah di pinggir pantai atau di kamar kos yang kosong, ia hadir. Ketika di tengah jam kerja atau di tengah malam, ia siap sedia. You know what, aku pernah melewatkan semua waktu-waktu istimewa bersama keheningan. Aku dan keheningan hanya berdua saja ketika hari raya idul fitri, ketika tahun baru, ketika aku ulang tahun, ketika aku DO dari universitas, ketika aku pertama kali diterima kerja, ketika aku pertama kali naik gaji, ketika besok harinya aku akan menikah. Dan ia ada disini bersamaku malam ini.
Satu hal yang paling aku suka dari keheningan adalah: Ia tak membutuhkanku, dan karenanya ia tak bergantung padaku. Jadi, dalam kondisi apapun aku datang padanya, she is welcome. Eventhough I admit that I often came to her when I'm a mess. Aku merasakan seolah-olah ia duduk di sisiku ketika aku duduk di tepi pantai, aku dapat merasakan kehadirannya di depan meja kerjaku ketika aku kerja lembur, aku dapat merasakan ia membonceng di jok sepeda motorku ketika aku pulang malam hari. Namun ia berkata selamat tinggal ketika aku tiba di depan pintu rumah, aku bahkan dapat mengingat senyum sedihnya di hari pernikahanku. Dan di malam ini aku baru tersadar mengapa dia bersedih di hari yang seharusnya bahagia itu. Mulai hari itu, aku tak bisa menghadirkan keheningan kapanpun dimanapun aku mau.
Malam ini rasanya kami seperti mantan pacar yang sudah lama tidak bertemu. Dan kembali bertemu sebagai sepasang sahabat. Satu pesan terpenting yang kuingat dari keheningan adalah ketika ia berkata: "Kamu harus mencintai dan berbuat baik manusia bukan karena mereka juga mencintai dan berbuat baik padamu. Kamu harus tetap mencintai dan berbuat baik kepada sesama manusia tanpa melihat perlakuan mereka padamu. Dan kamu hanya bisa mencapai hal itu ketika kau tidak lagi membutuhkan dan menggantungkan emosi dan kebahagiaanmu pada manusia lain".
Kamis, 04 November 2010
Laut Pagi Ini
![]() |
| Pantai Kelapa Tujuh, Suralaya - Merak. Hari Jumat, tanggal 4 November 2010. Pukul 07.15. Keindahan yang tak terlukiskan ketika aku berada di sana saat itu |
Langganan:
Postingan (Atom)


