part 1
Aku melontarkan sebuah pertanyaan pada pohon mangga di samping kantor. Pertanyaan itu adalah "Apakah engkau sempurna?". Tanpa menunggu waktu lama ia menjawab dengan lugunya (lebih tepatnya membalikkan pertanyaan) "Apa itu kesempurnaan?". Sepertinya dunia tumbuhan tidak mengenal apa itu kesempurnaan. Aku pun ikut bingung memikirkan definisi "kesempurnaan". Aku coba menjelaskan, namun kata-kataku terhenti pada kata adalah..... Karena ku tahu kesempurnaan bisa memiliki arti berbeda-beda bagi tiap orang.
Lalu pohon mangga itu menambahkan. "Memang di antara kami ada yang berbuah banyak, ada yang buahnya manis, ada yang batangnya besar, ada yang daunnya rimbun, bahkan ada yang memiliki hampir semuanya. Namun kami tidak tahu apa itu kesempurnaan. Apakah batangku yang patah ini membuatku jadi tak sempurna, jikalau begitu semua pohon mangga di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kami hanya menerima hidup sebagaimana adanya." Aku sedikit berargumentasi; "Apakah aku harus menerima kekuranganku, semua sifat-sifat negatif yang ada pada diriku, sebagaimana adanya???". Pohon mangga itu diam tak berkata. Namun dalam diamnya aku tahu bahwa dia bukannya tak tahu. Entah mengapa ia menyembunyikan jawabannya.
To be continued...
Minggu, 24 Oktober 2010
Rabu, 20 Oktober 2010
Nafkah
Seorang teman berkata kepada seorang mahasiswa, "Untuk apa kamu pergi kepada Sang Guru? Apakah ia akan membantu kamu untuk mendapatkan nafkah?"
"Tidak, tetapi karena beliau saya akan mengetahui apa yang harus saya lakukan dengan nafkah itu saat saya mendapatkannya," jawabnya.
Taken from http://media.isnet.org/sufi/Mello/BasaBasi/index.html
"Tidak, tetapi karena beliau saya akan mengetahui apa yang harus saya lakukan dengan nafkah itu saat saya mendapatkannya," jawabnya.
Taken from http://media.isnet.org/sufi/Mello/BasaBasi/index.html
Selasa, 19 Oktober 2010
YOU'LL BE IN MY HEART - Phil Collins
Come stop your crying
It will be all right
Just take my hand Hold it tight
I will protect you
from all around you
I will be here
Don't you cry
For one so small,
you seem so strong
My arms will hold you,
keep you safe and warm
This bond between us
Can't be broken
I will be here
Don't you cry
'Cause you'll be in my heart
Yes, you'll be in my heart
From this day on
Now and forever more
You'll be in my heart
No matter what they say
You'll be here in my heart, always
Why can't they understand
the way we feel
They just don't trust
what they can't explain
I know we're different but,
deep inside us
We're not that different at all
And you'll be in my heart
Yes, you'll be in my heart
From this day on
Now and forever more
Don't listen to them
'Cause what do they know
We need each other,
to have, to hold
They'll see in time
I know
When destiny calls you
You must be strong
I may not be with you
But you've got to hold on
They'll see in time
I know
We'll show them together
'Cause you'll be in my heart
Yes, you'll be in my heart
From this day on,
Now and forever more
Oh, you'll be in my heart
No matter what they say
You'll be in my heart, always
Always
First Time 2 Puskesmas
Tadi pagi sengaja izin dari kantor untuk antar anak berobat. Ga tau kenapa badannya bentol-bentol dan merah-merah, yang jelas bukan karena nyamuk. Pengennya sih berobat di rumah sakit yang bagus, namun berhubung kondisi keuangan sedang kurang memungkinkan. Pilihan untuk berobat jatuh ke Puskesmas yang kebetulan jaraknya ga jauh dari rumah. Ini pertama kali saya membawa anak berobat ke Puskesmas, sebelumnya kalau anak sakit selalu beribat di dokter langganan.
Tiba di Puskesmas Grogol - Cilegon pukul 08.00, sudah lumayan banyak pasien yang datang. Lalu istri saya mendaftar dengan membayar Rp. 2.500 (dua ribu lima ratus rupiah). Saya dan keluarga hanya menunggu sekitar 20 menit untuk mendapat pelayanan. Tempatnya cukup bersih dan nyaman, walaupun belum bisa dibandingkan dengan rumah sakit tapi sudah cukup bagus untuk level Puskesmas. Dokternya pun cukup ramah dan teliti dalam memeriksa pasien.
Selesai periksa, dikasih resep, dan ditebus di apotik yang jaraknya cuma satu ruangan dari ruang periksa. Dan yang cukup membuat saya kaget dan terpana. Ternyata obatnya GRATIS, untuk empat jenis obat total biaya yang harus dibayarkan hanya sebesar nol rupiah. Coba kalau ke dokter langganan, 300 ribu sudah pasti habis, di Puskesmas cuma DUA RIBU LIMA RATUS RUPIAH. Memang sih obatnya generik, tapi kan yang memberi kesembuhan bukan obat, tapi Allah. Buat apa di periksa dokter spesialis dan dikasih obat mahal tapi ga sembuh.
Terus saya bilang ke istri, 'Bunda, lain kali kita sekeluarga berobatnya kesini aja ya!'. And then tiba-tiba muka cemberutnya muncul ; 'Buat apa ayah kerja, apalagi sampe lembur-lembur, giliran anak istri sakit berobatnya ke Puskesmas'. Well, i can say nothing about that. Saya diem aja sambil senyum-senyum n bilang. 'Ya, mudah-mudahan kita sehat-sehat aja jadi ga perlu berobat kemana-mana'
Hidup Puskesmas, Hidup pelayanan kesehatan terjangkau untuk masyarakat, LANJUTKAN.
Tiba di Puskesmas Grogol - Cilegon pukul 08.00, sudah lumayan banyak pasien yang datang. Lalu istri saya mendaftar dengan membayar Rp. 2.500 (dua ribu lima ratus rupiah). Saya dan keluarga hanya menunggu sekitar 20 menit untuk mendapat pelayanan. Tempatnya cukup bersih dan nyaman, walaupun belum bisa dibandingkan dengan rumah sakit tapi sudah cukup bagus untuk level Puskesmas. Dokternya pun cukup ramah dan teliti dalam memeriksa pasien.
Selesai periksa, dikasih resep, dan ditebus di apotik yang jaraknya cuma satu ruangan dari ruang periksa. Dan yang cukup membuat saya kaget dan terpana. Ternyata obatnya GRATIS, untuk empat jenis obat total biaya yang harus dibayarkan hanya sebesar nol rupiah. Coba kalau ke dokter langganan, 300 ribu sudah pasti habis, di Puskesmas cuma DUA RIBU LIMA RATUS RUPIAH. Memang sih obatnya generik, tapi kan yang memberi kesembuhan bukan obat, tapi Allah. Buat apa di periksa dokter spesialis dan dikasih obat mahal tapi ga sembuh.
Terus saya bilang ke istri, 'Bunda, lain kali kita sekeluarga berobatnya kesini aja ya!'. And then tiba-tiba muka cemberutnya muncul ; 'Buat apa ayah kerja, apalagi sampe lembur-lembur, giliran anak istri sakit berobatnya ke Puskesmas'. Well, i can say nothing about that. Saya diem aja sambil senyum-senyum n bilang. 'Ya, mudah-mudahan kita sehat-sehat aja jadi ga perlu berobat kemana-mana'
Hidup Puskesmas, Hidup pelayanan kesehatan terjangkau untuk masyarakat, LANJUTKAN.
Two Kind of Selfishness
~ Anthony de Mello ~
Betapa Lebih Baik...
Seorang pekerja sosial mencurahkan beban hatinya kepada Sang Guru. Betapa akan lebih banyak dan lebih baik yang dapat dilakukannya bagi kaum miskin, seandainya saja ia tidak harus menghabiskan begitu banyak waktu dan tenaga untuk melindungi diri dan karyanya terhadap fitnah dan salah paham.
Sang Guru mendengarkan penuh perhatian. Ia menjawab dengan satu kalimat. "Tidak seorang pun melemparkan batu pada pohon yang tak berbuah."
Taken from http://media.isnet.org/sufi/Mello/BasaBasi/index.html
Sang Guru mendengarkan penuh perhatian. Ia menjawab dengan satu kalimat. "Tidak seorang pun melemparkan batu pada pohon yang tak berbuah."
Taken from http://media.isnet.org/sufi/Mello/BasaBasi/index.html
Senin, 18 Oktober 2010
You Must Receive Your Demons
~ Anthony de Mello ~
Langganan:
Postingan (Atom)
