Ketika aku di tengah senyapnya alam
Ku tak sempat menuliskan apa-apa
Tak mampu dan tak bisa berpikir
Hanya bisa termenung dan terkagum
Tampilkan postingan dengan label Belajar dari Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar dari Alam. Tampilkan semua postingan
Senin, 21 Oktober 2019
Sabtu, 23 Februari 2019
this JOURNEY
Perjalanan ini
Untuk mengenal diriku lebih dalam
Untuk mengenal diriMu lebih dekat
Tanah ini
Untuk mengingatkanku darimana kuberasal
Dan kemana ku kan kembali
Langit ini
Bukti betapa luas kerajaanMu
Dan betapa kecil diri ini
Minggu, 17 Februari 2019
SOUND of nature
Ketika mendengarkan alam maka kamu harus sabar
Mendengarkan setiap hurufnya
Lambat dan sedikit tapi dalam
Tak seperti perkataan kebanyakan manusia
Cepat dan banyak namun dangkal
Kamis, 14 Februari 2019
MERAYAP, melata, menggeliat
Suatu ketika, saat sedang duduk di tepi pantai. Saya mendapati seekor belatung atau ulat kecil. Warnanya putih seukuran mata pensil, panjangnya tidak sampai satu centimeter. Ia merayap, melata, menggeliat seperti sedang berupaya keras mencapai sesuatu. Sambil sesekali angin laut menghempaskan tubuhnya yang tanpa kaki tanpa lengan itu. Terus saja ia merayap, melata, menggeliat seakan tak peduli apakah hempasan tadi membuatnya menjadi lebih dekat atau lebih jauh dari tujuannya, itu pun kalau ia punya tujuan. Tak pula ia peduli akan resiko ombak yang bisa menenggelamkan serta mengakhiri hidupnya, hidup yang entah punya arti atau tidak.
Ia terus merayap, melata, menggeliat entah mau kemana, entah apa tujuannya. Karenanya mengundang diriku untuk bertanya kepada makhluk yang nampak remeh itu. Wahai ulat kecil! Engkau mau kemana? Apa yang engkau tuju? Angin begitu besar, ombak bisa datang kapan saja. Mengapa engkau tak diam saja menunggu rezeki yang sudah pasti dijamin Tuhanmu. Atau menunggu ajal yang pasti. Mengapa engkau seakan masih berupaya begitu keras, padahal usahamu tak seberapa. Sedari tadi kau bergerak, bahkan tak setengah meter pun kau capai. Mengapa kau tak menyerah saja? Berhenti merayap, melata, menggeliat.
Sudah jadi kebiasaanku untuk menyimak, merasa, dan meresapi apa yang alam coba ungkapkan. Sekalipun ia nampak remeh seperti seekor ulat ini, atau sehelai daun yang jatuh, atau sebatang rumput yang kering. Jika aku beruntung maka alam akan membisikkan rahasia-rahasia yang hanya dapat diengar oleh orang-orang yang mau mendengar. Rahasia-rahasia para orang suci. Jadi, apa yang hendak kau sampaikan wahai ulat kecil?
Seperti biasa juga alam tak lantas memberi jawaban. Alam ingin menguji, bukan hanya siapa yang bersedia mendengarkan, tapi siapa yang sabar. Sampai pada akhirnya alam kan memberi jawaban. Bukan melalui gelombang suara yang dapat didengar gendang telinga. Bukan pula melalui tulisan-tulisan. Jawaban itu langsung berupa pemahaman yang menyerap ke hati. Pemahaman baru yang ku yakin itu bukan datang dari diriku sendiri. Pemahaman itu terserap dalam jiwa langsung tanpa perantaraan kata dan pemikiran.Ibarat zat gizi yang langsung diserap oleh tubuh tanpa perlu dikunyah lewat mulut, melalui usus, dan dicerna oleh lambung.
Ulat kecil itu lantas mengajariku tentang makna mengapa ia merayap, melata, menggeliat seperti itu. Ia kemudian menjawab pertanyaan "Mengapa engkau tak menyerah saja?" Jawabannya bijak, dalam, dan menohok. Sekaligus ringkas, sederhana, dan lugas. Begini dia berujar :
"Aku tak diperintahkan untuk diam saja, aku diperintah untuk seperti ini, merayap, melata, menggeliat. Persoalan apakah angin kan menghempaskanu entah kemana. Atau persoalan resiko ombak yang berpotensi menenggelamkanku. Maka aku tak ada urusan dengan itu semua, aku tak peduli. Urusanku hanyalah menjalankan apa yang telah Allah perintahkan untuk dijalankan. Yaitu merayap, melata, menggeliat". Dan hanya sebait paragraf itu yang ulat kecil itu ungkapkan.
Seorang sufi pernah ditanya oleh muridnya, mgengapa guru tak pernah menceritakan hikmah dari suatu cerita. Sang guru balik bertanya kepada muridnya. Maukah kau memakan makanan yang dikunyahkan orang lain untukmu?
Terakhir terdengar sayup-sayup suara, yang sepertinya berasal dari ulat kecil itu; Wabidzalika umirtu wa ana minal muslimiin.
Ia terus merayap, melata, menggeliat entah mau kemana, entah apa tujuannya. Karenanya mengundang diriku untuk bertanya kepada makhluk yang nampak remeh itu. Wahai ulat kecil! Engkau mau kemana? Apa yang engkau tuju? Angin begitu besar, ombak bisa datang kapan saja. Mengapa engkau tak diam saja menunggu rezeki yang sudah pasti dijamin Tuhanmu. Atau menunggu ajal yang pasti. Mengapa engkau seakan masih berupaya begitu keras, padahal usahamu tak seberapa. Sedari tadi kau bergerak, bahkan tak setengah meter pun kau capai. Mengapa kau tak menyerah saja? Berhenti merayap, melata, menggeliat.
Sudah jadi kebiasaanku untuk menyimak, merasa, dan meresapi apa yang alam coba ungkapkan. Sekalipun ia nampak remeh seperti seekor ulat ini, atau sehelai daun yang jatuh, atau sebatang rumput yang kering. Jika aku beruntung maka alam akan membisikkan rahasia-rahasia yang hanya dapat diengar oleh orang-orang yang mau mendengar. Rahasia-rahasia para orang suci. Jadi, apa yang hendak kau sampaikan wahai ulat kecil?
Seperti biasa juga alam tak lantas memberi jawaban. Alam ingin menguji, bukan hanya siapa yang bersedia mendengarkan, tapi siapa yang sabar. Sampai pada akhirnya alam kan memberi jawaban. Bukan melalui gelombang suara yang dapat didengar gendang telinga. Bukan pula melalui tulisan-tulisan. Jawaban itu langsung berupa pemahaman yang menyerap ke hati. Pemahaman baru yang ku yakin itu bukan datang dari diriku sendiri. Pemahaman itu terserap dalam jiwa langsung tanpa perantaraan kata dan pemikiran.Ibarat zat gizi yang langsung diserap oleh tubuh tanpa perlu dikunyah lewat mulut, melalui usus, dan dicerna oleh lambung.
Ulat kecil itu lantas mengajariku tentang makna mengapa ia merayap, melata, menggeliat seperti itu. Ia kemudian menjawab pertanyaan "Mengapa engkau tak menyerah saja?" Jawabannya bijak, dalam, dan menohok. Sekaligus ringkas, sederhana, dan lugas. Begini dia berujar :
"Aku tak diperintahkan untuk diam saja, aku diperintah untuk seperti ini, merayap, melata, menggeliat. Persoalan apakah angin kan menghempaskanu entah kemana. Atau persoalan resiko ombak yang berpotensi menenggelamkanku. Maka aku tak ada urusan dengan itu semua, aku tak peduli. Urusanku hanyalah menjalankan apa yang telah Allah perintahkan untuk dijalankan. Yaitu merayap, melata, menggeliat". Dan hanya sebait paragraf itu yang ulat kecil itu ungkapkan.
Seorang sufi pernah ditanya oleh muridnya, mgengapa guru tak pernah menceritakan hikmah dari suatu cerita. Sang guru balik bertanya kepada muridnya. Maukah kau memakan makanan yang dikunyahkan orang lain untukmu?
Terakhir terdengar sayup-sayup suara, yang sepertinya berasal dari ulat kecil itu; Wabidzalika umirtu wa ana minal muslimiin.
Minggu, 24 Oktober 2010
BERGURU pada POHON MANGGA (part 2)
part 2
Me: Bagimu hidup itu mudah. Kau hanya perlu menjadi pohon mangga sekali untuk seumur hidupmu. Dari sejak benih hingga kau tumbang nanti. Dan lagi kau tak perlu pusing-pusing memikirkan nasibmu di akhirat nanti. Setahuku kau juga tak punya beban dan tanggung jawab. Hidup menjadi sangat sederhana bagimu. Lalu bagaimana dengan aku. Aku harus berperan menjadi seorang anak, seorang suami, ayah, kakak, adik ipar, anggota masyarakat, karyawan, dll. Aku punya tanggung jawab yang mesti ditunaikan. Tanggung jawab yang jika tidak dipenuhi akan memberatkanku di akhirat.
Manggo Tree: Kamu, memang telah diamanati oleh Sang Pencipta dengan tugas dan tanggung jawab yang berat. Jauh lebih berat dari tanggung jawab setiap makhluk yang ada di bawah sinar matahari. Tapi... Tanggung jawab tersebut diiringi dengan anugerah berupa hati, pikiran, dan kebijaksanaan yang lebih luas daripada yang dimiliki semua tumbuhan dan binanatang yang pernah diciptakan. Kamu adalah naga yang dibesarkan sebagai cacing. Pikiranmu yang menciptakan semua masalah dikehidupanmu dan di bumi ini.
Me: Okay, ure right. Lalu bagaimana dengan aku? Apakah aku harus menerima diriku yang seperti ini? Apakah aku harus mengikuti pepatah "You must "receive" your demons, because when you fight them, you empower them." Lalu jika begitu bagaimana dan kapan aku bisa berubah? Aku, bisa sabar menunggu perubahan itu terjadi, namun istri dan atasanku sangat mungkin tidak sabar menunggu bertahun-tahun dalam ketidakpastian. Kalau aku tidak melawannya bagaimana aku mengubahnya? Aku tahu, dengan memahaminya. Namun proses pemahaman adalah proses yang tak terukur. Sementara aku dituntut untuk berubah dalam kerangka waktu tertentu. How could I change?
Manggo Tree: (sambil tersenyum) the answer is in front of you
Me: Can you be more specific?
Manggo Tree: Look at me. Look how I change. Look how I grow. Then you'll understand. The understanding that beyond the thought
Me: (speechless..... and start to think it useless to write this down, and more useful to understand. sambil kembali memandangi pohon mangga)
Me: Bagimu hidup itu mudah. Kau hanya perlu menjadi pohon mangga sekali untuk seumur hidupmu. Dari sejak benih hingga kau tumbang nanti. Dan lagi kau tak perlu pusing-pusing memikirkan nasibmu di akhirat nanti. Setahuku kau juga tak punya beban dan tanggung jawab. Hidup menjadi sangat sederhana bagimu. Lalu bagaimana dengan aku. Aku harus berperan menjadi seorang anak, seorang suami, ayah, kakak, adik ipar, anggota masyarakat, karyawan, dll. Aku punya tanggung jawab yang mesti ditunaikan. Tanggung jawab yang jika tidak dipenuhi akan memberatkanku di akhirat.
Manggo Tree: Kamu, memang telah diamanati oleh Sang Pencipta dengan tugas dan tanggung jawab yang berat. Jauh lebih berat dari tanggung jawab setiap makhluk yang ada di bawah sinar matahari. Tapi... Tanggung jawab tersebut diiringi dengan anugerah berupa hati, pikiran, dan kebijaksanaan yang lebih luas daripada yang dimiliki semua tumbuhan dan binanatang yang pernah diciptakan. Kamu adalah naga yang dibesarkan sebagai cacing. Pikiranmu yang menciptakan semua masalah dikehidupanmu dan di bumi ini.
Me: Okay, ure right. Lalu bagaimana dengan aku? Apakah aku harus menerima diriku yang seperti ini? Apakah aku harus mengikuti pepatah "You must "receive" your demons, because when you fight them, you empower them." Lalu jika begitu bagaimana dan kapan aku bisa berubah? Aku, bisa sabar menunggu perubahan itu terjadi, namun istri dan atasanku sangat mungkin tidak sabar menunggu bertahun-tahun dalam ketidakpastian. Kalau aku tidak melawannya bagaimana aku mengubahnya? Aku tahu, dengan memahaminya. Namun proses pemahaman adalah proses yang tak terukur. Sementara aku dituntut untuk berubah dalam kerangka waktu tertentu. How could I change?
Manggo Tree: (sambil tersenyum) the answer is in front of you
Me: Can you be more specific?
Me: (speechless..... and start to think it useless to write this down, and more useful to understand. sambil kembali memandangi pohon mangga)
BERGURU pada POHON MANGGA (part 1)
part 1
Aku melontarkan sebuah pertanyaan pada pohon mangga di samping kantor. Pertanyaan itu adalah "Apakah engkau sempurna?". Tanpa menunggu waktu lama ia menjawab dengan lugunya (lebih tepatnya membalikkan pertanyaan) "Apa itu kesempurnaan?". Sepertinya dunia tumbuhan tidak mengenal apa itu kesempurnaan. Aku pun ikut bingung memikirkan definisi "kesempurnaan". Aku coba menjelaskan, namun kata-kataku terhenti pada kata adalah..... Karena ku tahu kesempurnaan bisa memiliki arti berbeda-beda bagi tiap orang.
Lalu pohon mangga itu menambahkan. "Memang di antara kami ada yang berbuah banyak, ada yang buahnya manis, ada yang batangnya besar, ada yang daunnya rimbun, bahkan ada yang memiliki hampir semuanya. Namun kami tidak tahu apa itu kesempurnaan. Apakah batangku yang patah ini membuatku jadi tak sempurna, jikalau begitu semua pohon mangga di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kami hanya menerima hidup sebagaimana adanya." Aku sedikit berargumentasi; "Apakah aku harus menerima kekuranganku, semua sifat-sifat negatif yang ada pada diriku, sebagaimana adanya???". Pohon mangga itu diam tak berkata. Namun dalam diamnya aku tahu bahwa dia bukannya tak tahu. Entah mengapa ia menyembunyikan jawabannya.
To be continued...
Aku melontarkan sebuah pertanyaan pada pohon mangga di samping kantor. Pertanyaan itu adalah "Apakah engkau sempurna?". Tanpa menunggu waktu lama ia menjawab dengan lugunya (lebih tepatnya membalikkan pertanyaan) "Apa itu kesempurnaan?". Sepertinya dunia tumbuhan tidak mengenal apa itu kesempurnaan. Aku pun ikut bingung memikirkan definisi "kesempurnaan". Aku coba menjelaskan, namun kata-kataku terhenti pada kata adalah..... Karena ku tahu kesempurnaan bisa memiliki arti berbeda-beda bagi tiap orang.
Lalu pohon mangga itu menambahkan. "Memang di antara kami ada yang berbuah banyak, ada yang buahnya manis, ada yang batangnya besar, ada yang daunnya rimbun, bahkan ada yang memiliki hampir semuanya. Namun kami tidak tahu apa itu kesempurnaan. Apakah batangku yang patah ini membuatku jadi tak sempurna, jikalau begitu semua pohon mangga di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kami hanya menerima hidup sebagaimana adanya." Aku sedikit berargumentasi; "Apakah aku harus menerima kekuranganku, semua sifat-sifat negatif yang ada pada diriku, sebagaimana adanya???". Pohon mangga itu diam tak berkata. Namun dalam diamnya aku tahu bahwa dia bukannya tak tahu. Entah mengapa ia menyembunyikan jawabannya.
To be continued...
Minggu, 10 Oktober 2010
BERGURU pada RUMPUT
Hari minggu kemarin, mumpung libur saya mencabuti rumput liar di halaman rumah. Saya heran kenapa rumput-rumput liar ini cepat sekali tumbuh padahal tidak ada yang menabur benih apalagi yang merawatnya. Lalu saya teringat tentang pelajaran 'hidup bahwa sesuatu dalam alam ini, tumbuhan dan hewan, mempunyai pelajaran bagi manusia'. Lalu saya pandangi rumput-rumput itu sambil mencabutinya, menanti rumput-rumput itu berbicara mengenai kebijaksanaan yang bisa saya petik. Sampai selesai mencabuti rumput, mereka masih enggan berbicara. Yasudahlah, mungkin memang belum waktunya saya mendapat pelajaran tersebut.
Siangnya, ketika hendak ke masjid untuk melaksanakan shalat dzuhur. Saya melewati rumput-rumput yang telah tercabut tadi. Tiba-tiba rumput-rumput itu mulai memberikan nasehatnya kepada saya.
Siangnya, ketika hendak ke masjid untuk melaksanakan shalat dzuhur. Saya melewati rumput-rumput yang telah tercabut tadi. Tiba-tiba rumput-rumput itu mulai memberikan nasehatnya kepada saya.
Itulah sebuah monolog singkat penuh hikmah dari makhluk Allah bernama rumput. Terima kasih rumput. Terima Kasih ya Allah.
Kami tumbuh dengan cepat karena akar kami terhubung dengan tanah sebagai sumber kehidupan kami. Namun lihatlah kami ketika tercabut dari tanah, dalam hitungan jam kami sudah mengering mati. Begitu juga dengan manusia seharusnya terus terhubung dengan sumber kehidupannya, yaitu Allah SWT agar mereka dapat terus tumbuh dan tidak mengering dan mati jiwanya
Kamis, 07 Oktober 2010
BERGURU pada KUCING
Adakah dalam benak seekor kucing
Rasa cemas dan khawatir tidak mendapat rezeki dari Allah
Pernahkah seekor kucing
Merasa lelah dan frustasi dalammencari menjemput rezeki dari Penciptanya
Pernahkah terlintas dalam pikiran seekor kucing
Rasa iri dan cemburu terhadap nikmat yang Allah berikan pada makhluk lain
Rasa cemas dan khawatir tidak mendapat rezeki dari Allah
Pernahkah seekor kucing
Merasa lelah dan frustasi dalam
Pernahkah terlintas dalam pikiran seekor kucing
Rasa iri dan cemburu terhadap nikmat yang Allah berikan pada makhluk lain
Langganan:
Postingan (Atom)



