Tampilkan postingan dengan label Impian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Impian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Februari 2019

to HEART

Kepada hati
Kuharap hari ini engkau bertahan, lagi
Menjalani rutinitas yang tidak sesuai jati diri

Kepada hati
Kuharap hari ini engkau mengerti, lagi
Bahwa kenyataan hidup itulah yang mesti dihadapi

Kepada hati
Kuharap hari ini engkau pahami, lagi
Menyimpan impian itu dengan hati-hati

Kepada hati,
Kuharap hari ini engkau bersabar, lagi
Karena utopia itu masih ku daki

Kamis, 14 Februari 2019

pohon IMPIAN

Impian-impian itu tak datang sekonyong-konyong atau datang secara tiba-tiba
Impian-impian itu terjadi seiring dengan waktu dan ketekunan
Impian-impian itu bak pohon buah yang perlu waktu belasan, bahkan puluhan tahun
Untuk bisa berbuah dan kita menikmati manisnya

Tapi jangan lupa, layaknya pohon buah
Manisnya impian itu bukan hanya untuk dirimu saja
Terlebih, impian itu akan jauh lebih terasa manisnya
Jika kau ajak orang lain untuk mencicipi manisnya, dan juga menanam kembali bijinya

IMPIAN yang bersembunyi

Makhluk kecil nan lemah itu bernama impian. Ia lahir dari jiwa yang masih muda dan berani. Sekali dilahirkan ia kan tetap ada. Meskipun tuannya berulang kali mencoba mengubur, meninggalkan, dan mengabaikannya. Bagi tuannya ia mungkin sudah mati, hilang, dan lenyap. Tapi tahukah kau, impian itu masih ada, ia hanya bersembunyi.

Bersembunyi karena takut, takut jika ia muncul maka ia akan merusak tatanan hidupmu yang telah mapan. Bersembunyi karena khawatir, khawatir jika ia menampakkan dirinya lagi maka akan ada dilema dalam hidupmu. Bersembunyi karena kecewa, disebabkan dirimu saat ini yang tidak lebih berani dari dirmu yang dulu ketika impian itu lahir.

Ia bersembunyi. Tidak dimana-mana, hanya di sudut gelap hatimu. Tak nampak oleh pikiran yang tersibukkan oleh rutinitas dan keperluan hidup. Ia bersembunyi bukan karena ia ingin bersembunyi. Semata ia lakukan karena ia tahu kebenaran seringkali pahit. Dan impian itu seringkali tidak tega melihat tuannya mengalami kepahitan. Tapi kepahitan apakah yang lebih besar dibanding kepahitan membuang impianmu sendiri.