Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Februari 2019

to HEART

Kepada hati
Kuharap hari ini engkau bertahan, lagi
Menjalani rutinitas yang tidak sesuai jati diri

Kepada hati
Kuharap hari ini engkau mengerti, lagi
Bahwa kenyataan hidup itulah yang mesti dihadapi

Kepada hati
Kuharap hari ini engkau pahami, lagi
Menyimpan impian itu dengan hati-hati

Kepada hati,
Kuharap hari ini engkau bersabar, lagi
Karena utopia itu masih ku daki

Kamis, 14 Februari 2019

HATI yang terkecoh

Masalah hati tak pernah mudah
Ia memang bodoh dan dungu
Jika yang menjadi tolak ukur adalah otak

Hati memang tak dapat berpikir
Hati memang tak mampu berlogika
Yang ia bisa adalah merasa

Karenanya ia seringkali terkecoh
Ke jalan yang semua fakta menyangkal
Ke arah dimana logika menentang

if I follow MY HEART

Jika aku mengikuti hatiku
Jika aku mengikuti pilihan takdirku
Jika aku mengikuti jalan hidupku
Jika aku mengikuti itu semua

Kemudian ia menyelisihi jalan yang diinginkan orang tua atau pasangan
Apakah kemudian aku menjadi orang yang egois
Jika aku tetap berpihak pada hati, takdir dan jalan hidupku
Tidakkah mereka juga egois telah menghalangiku dari hidupku sendiri

Kemudian aku tersentak, bahwa disitulah justru disitulah letak  keindahan hidup
Dalam dilema dan konfliknya, dengan ironi dan juga ketidaksempurnaannya
Dalam frustasi dan kebuntuan, menemukan jalan yang tak disangka-sangka
Bagaikan air yang menemukan celahnya meresap kembali  ke bumi

nasib HATI KECIL

Pernahkah kau melakukan sesuatu hanya ....
Karena kau ingin melakukannya
Karena kau suka
Karena mengikuti sang hati
Karena itulah hidupmu

Dan pernahkah kau melakukan sesuatu ...
Karena itu memang harus dilakukan
Karena tidak ada pilihan lain
Karena kemauan orang terdekat
Karena semua orang juga melakukannya

Melakukan sesuatu dari hati
Tidak semua orang bisa seberuntung itu
Atau lebih tepatnya tidak semua orang seberani itu
Berani untuk jujur dan mengambil resiko
Resiko yang seringkali tidak bisa dihitung dengan angka

Melakukan sesuatu yang tidak dari hati
Kebanyakan kita mungkin hidup seperti ini
Kehidupan yang kita labeli dengan kata 'normal'
Bukahkah kita harus bisa berkompromi dan bermain aman?
Boleh-boleh saja, bagaimanapun itu pilihan

Terakhir, jangan lupakan sang hati
Terutama ia yang paling kecil, yang paling pelan suaranya
Kapan terakhir kali kau mendengarnya bicara
Atau lebih tepatnya kapan terakhir kali kau meluangkan waktu, pikiran, dan rasa
Untuk diam dan mendengarkan, lalu menyimak tanpa membantah

Selasa, 21 April 2015

FEELING lost

Perasaan apa ini, yang menyelimuti hatiku sejak beberapa hari yang lalu! Perasaan seperti berada di kereta yang sedang berjalan tapi tidak tahu ingin kemana atau  harus berhenti di stasiun mana. Sementara kereta terus melaju tanpa bisa dihentikan. Ada kekhawatiran bahwa stasiun sebenarnya yang kita tuju telah terlewat. Saya tidak bisa sembarang bertanya ke orang lain, kemana tujuan saya? Tidak akan ada yang tahu. Satu-satunya orang yang harusnya tahu adalah saya, tapi saya tidak tahu. Bingung!

Dada ini sesak, kaki ini tidak bisa berdiri tegak. Ingin rasanya tertidur dan tahu bahwa ini semua hanya mimpi. Tapi bukan begitu caranya, itu namanya melarikan diri dari kenyataan. Antara terlalu banyak pilihan dan tidak ada pilihan untuk dipilih. Sebagian diri ini ingin cepat melangkah mengikuti waktu, sebagian lagi ingin berdiam diri menunggu ketetapan hati. Separuh hati ini merasa takut, cemas dan gelisah, separuh lagi merasa akan ada sesuatu yang hebat yang kan datang. Pikiran bawah sadar berusaha menyelamatkan pikiran sadar dari gejolak hati yang tak menentu. Dengan cara membiusnya dengan rasa kantuk. Ya, tidur menjadi penyelamat paling mudah ketika hati tak menentu. Namun tidak sekarang, tidak di kantor, tidak di jam kerja.


Aku tersesat. Setidaknya itulah yang kurasakan, meski kenyataan sebenarnya tidak terlihat begitu. Mungkin google bisa membantu. Karena tak seorang pun sepertinya bisa mengerti, tidak juga diriku.