Kamis, 14 Februari 2019

nasib HATI KECIL

Pernahkah kau melakukan sesuatu hanya ....
Karena kau ingin melakukannya
Karena kau suka
Karena mengikuti sang hati
Karena itulah hidupmu

Dan pernahkah kau melakukan sesuatu ...
Karena itu memang harus dilakukan
Karena tidak ada pilihan lain
Karena kemauan orang terdekat
Karena semua orang juga melakukannya

Melakukan sesuatu dari hati
Tidak semua orang bisa seberuntung itu
Atau lebih tepatnya tidak semua orang seberani itu
Berani untuk jujur dan mengambil resiko
Resiko yang seringkali tidak bisa dihitung dengan angka

Melakukan sesuatu yang tidak dari hati
Kebanyakan kita mungkin hidup seperti ini
Kehidupan yang kita labeli dengan kata 'normal'
Bukahkah kita harus bisa berkompromi dan bermain aman?
Boleh-boleh saja, bagaimanapun itu pilihan

Terakhir, jangan lupakan sang hati
Terutama ia yang paling kecil, yang paling pelan suaranya
Kapan terakhir kali kau mendengarnya bicara
Atau lebih tepatnya kapan terakhir kali kau meluangkan waktu, pikiran, dan rasa
Untuk diam dan mendengarkan, lalu menyimak tanpa membantah

mereka yang hidup dalam KEMAPANAN

Ada fenomena aneh yang kurasakan sekarang ini. Orang yang diawal-awal hidupnya, ketika kecil, masih sekolah sampai dengan kuliah, mungkin sampai di masa-masa karirnya merasakan hal-hal yang bisa dibilang pahit. Kekurangan secara ekonomi, harus berusaha jauh lebih keras dibanding mereka yang berada, rela hidup dengan standar konsumsi  yang kurang dibanding orang kebanyakan. Mereka merasa itu adalah sebuah perjuangan, pengorbanan, harga yang harus ditebus untuk lepas dari kondisi yang menahun mereka alami. Kondisi yang seringkali juga dialami oleh orang tua mereka. Entah kepahitan itu sebuah bentuk kutukan ataupun keharusan. Beberapa dari mereka berhasil mengubah yang pahit menjadi manis.Berhasil menjadi lebih dari sekedar pas-pasan. Berhasil keluar dari zona yang tidak enak. Yang entah bagaimana menggambarkannya, mereka akan bilang "kamu ga tahu bagaimana tidak enaknya."

Golongan ini, yang tidak jelek. Setelah menjalani apa yang mereka sebut masa-masa perjuangan, akhirnya mengalami masa-masa kemapanan. Yang tadinya meringkuk di angkot untuk menuju ke suatu tempat, sekarang duduk nyaman di mobil pribadi yang bisa jadi disupiri. Yang tadinya tidur di rumah petak atau kontrakan, sekarang bernaung di perumahan elit yang luasnya ratusan meter. Yang tadinya sengaja makan hanya satu kali sehari, sekarang bisa memilih mau makan apa dan dimana. Mereka tidak salah, sama sekali tidak salah.

Lagipula siapa yang mau berdesak-desakan di angkutan umum, siapa yang mau tidur di tempat sempit dan pengap, siapa yang mau makan apa adanya. Kebanyakan orang tidak mau. Kalau harus memilih antara naik angkot atau alphard, orang normal pasti memilih alphard. Lantas apa yang salah? .... Tidak ada yang salah, bukankah kubilang tadi bahwa tidak ada yang salah. Berhentilah berpikir dalam kerangka benar atau salah. Kita hanya sedang menceritakan suatu golongan orang. Golongan orang yang saat ini hidup dalam kemapanan, dimana sebelumnya mereka hidup dalam kesusahan. Setelah kemapanan didapat, lebih dari separuh hidup sudah selesai, misi utama terselesaikan.

Sekarang bagi mereka, adalah bagaimana mempertahankannya hingga anak cucu. Sehingga keturunan mereka tidak lagi merasakan kesulitan yang dulu mereka rasakan. Tidak perlu menahan lapar, tidak perlu menabung untuk sekedar makan di restoran, tidak perlu lagi diremehkan. Tujuannya mulai sedikit berubah bagi diri, anak, dan cucu mereka. Dari tadinya menggapai kemapanan, sekarang adalah untuk mempertahankan kemapanan. Untuk kembali hidup susah seperti dulu adalah suatu kegagalan, kemerosotan, keterpurukan. Kemapanan sudah menjadi suatu standar baru bagi kehidupan mereka. Kendaraan pribadi, tinggal di kawasan perumahan menengah keatas, makan tiga kali sehari, belajar di sekolah swasta, handphone high end, dan sebagainya.

Suatu kehidupan yang banyak orang impikan. Mereka menikmati pandangan-pandangan mata orang-orang disekelilingnya. Pandangan saudara dan handai taulan, pandangan mantan teman sekolah dan kuliah; pandangan tetangga atau bahkan siapapun. Pandangan mereka yang secara ekonomi kurang beruntung atau masih dalam masa-masa perjuangan. Pandangan mata yang entah hormat, kagum, atau iri. Toh semuanya mereka nikmati. Baginya pandangan-pandangan itu adalah bonus dari kemapanan yang sudah mereka dapat. Siapapun yang saat ini tidak mapan, bagi mereka terbagi dalam tiga golongan. Yaitu mereka yang masih dalam proses perjuangan, mereka yang tidak mau menjalani proses perjuangan, atau mereka yang memang bernasib malang.

Mapan, stabil, main aman, terencana, dapat diprediksi, sudah dipersiapkan, adalah kata dan frase yang mereka sukai. Entah apakah sempat ada terbesit dalam hidup mereka bahwa hidup yang mereka jalani itu membosankan. Entah apakah sempat terpikirkan bahwa kemapanan itu hanyalah seperti kamar mandi dalam sebuah rumah. Diperlukan tapi bukan itu tujuan sebuah rumah dibangun. Ada tujuan yang lebih besar, ada makna yang lebih dalam, ada rasa yang lebih luas, dari sekedar menjadi mapan. Tujuan, makna, dan rasa yang untuknya kemapanan siap untuk dikorbankan. Yang untuknya orang rela untuk kelaparan, kehilangan tempat tinggal, dan hidup dalam apa yang kebanyakan orang sebut sebagai kesengsaraan.

Sebagai penutup. Apakah pernah terbersit dalam hidupmu bahwa ada manusia yang hidup di desa terpencil, pengangguran, dan hanya bisa makan sekali sehari kemudian mendapati hidupnya bahagia, bermakna, dan damai. Jauh lebih bahagia, bermakna dan damai dibanding golongan mereka yang hidup mapan di kota. Tentu saja hidup tak bisa dinilai sebatas hitam atau putih. Hidup lebih berwarna dari itu, bahkan lebih berwarna dari pelangi sekalipun. Dan kemapanan berupa kecukupan harta benda duniawi hanyalah satu warna dari warna-warna pelangi kehidupan.

beban DOSA

Di awal hari ku merasa beratnya beban dosa yang kutanggung
Di akhir hari ku ingin beban ini berkurang meski sedikit
Walaupun dosa yang terisa masih amatlah menggunung
Setidaknya hari itu aku sudah berusaha dan ku dapat berkata
Ya Allah saya sudah berusaha, maka ampunilah sisanya

SHUTDOWN anyway

Bagi pengguna sistem operasi windows pasti tidak asing lagi dengan istilah shutdown anyway. Ya, frase tersebut muncul ketika kita mematikan PC (shutdown) tetapi ada file yang masih terbuka atau belum tersimpan, bisa juga karena ada aplikasi yang belum ditutup. Tapi tulisan ini bukan hendak membahas tentang kmputer. Tulisan ini mencoba menyentil kebiasaan buruk kita yang mungkin tidak disadari.

Pesan shutdown anyway mungkin ditulis oleh programmer Microsoft dengan tujuan mengingatkan orang sebelum mematikan komputer bahwa ada aktivitas yang belum selesai atau masih berlangsung. Seperti unduhan yang belum selesai, dokumen Microsoft Office yang masih belum tersimpan, atau ada halaman login yang belum ditutup. Maksudnya tentu baik, barangkali ada hal penting yang tertinggal ketika tanpa sengaja komputer dimatikan. Jika Anda adalah orang yang pernah mengklik tombol shutdown anyway. Pasti dalam hati Anda pernah bergumam "bodo amat gue matiin aja, ga ada pekerjaan yang penting" Iya kan? Karena ada hal lain yang lebih penting dari program atau file apapun yang masih terbuka di komputer. Entah itu ingin segera pulang kerja karena sudah terlalu lelah di kantor, atau sekedar ada janji dengan teman. Apapun itu adalah hal yang lebih penting daripada program ataupun file yang masih terbuka di PC.

Coba kondisi ini kita analogikan dengan situasi hidup sehari-hari. Dalam hidup kita punya prioritas, baik secara sadar ataupun tidak sadar, ada tersimpan tentang sesuatu yang penting, kurang penting, dan tidak penting. Ciri dari hal yang penting yaitu: Pertama, ketika kita sedang melakukan aktivitas yang kurang atau tidak penting, kemudian kita bersedia menunda atau menghentikan aktivitas tersebut demi aktivitas yang penting. Ciri kedua, ketika kita sedang melakukan aktivitas yang penting, kemudian muncul impuls atau pemicu untuk melakukan hal yang kurang penting, maka kita akan tetap melaksanakan aktivitas yang penting tersebut dan mengabaikan impuls dari aktivitas yang kurang penting tersebut.

Sebagai contoh; antara makan dan bekerja, tiap orang punya prioritas yang berbeda terhadap dua aktivitas tersebut. Anggaplah si Budi lebih memprioritaskan bekerja daripada makan, karena ia sedang meniti karir dan mengincar suatu jabatan, atau sekedar ingin cari muka. Maka ketika ada pekerjaan yang nanggung, maka ia akan memilih untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut baru kemudian makan. Kemudian ketika si Budi tadi sedang makan, lantas ada email dari bos atau klien penting, maka Budi dengan rela menunda makannya demi membalas email tersebut.

Tadi kita baru membandingkan prioritas antara kerja dan makan. Bagaimana jika sekarang kita menyandingkan dua aktivitas yaitu sholat dan kerja, atau sholat dan main game, sholat dan nonton TV, sholat dan ngerumpi. Jika Anda bertanya pada seorang muslim tentang mana dari dua hal tadi yang prioritas, yang lebih penting. Sebagian besar pasti akan menjawab sholat lah yang lebih penting dan prioritas. Tapi apakah benar di alam bawah sadarnya seperti itu? Apa benar sholat telah menjadi prioritas utama?

Contoh lagi, ketika sedang asik-asiknya mabar (main bareng) kemudian terdengar suara adzan; ketika kerjaan sedang nanggung-nanggungnya, menumpuk dan mendekati tenggat waktu; ketika adegan di fim atau di TV sedang seru-serunya ; ketika itu semua terjadi lalu sudah tiba waktunya shalat. Aktivitas mana yang di dahulukan? Aktivitas mana yang kita tunda? Jawabannya tentu menunjukkan prioritas asli hidup Anda. Seringkali tanpa disadari, seringkali memang kita yang malas untuk merenungkannya lebih dalam.

Untuk itu saya mengajak melalui tulisan ini. Untuk mengklik tombol shutdown anyway terhadap aktivitas-aktivitas selain sholat ketika waktu shalat telah tiba. Shutdown anyway bagi pekerjaan, game, film, TV, ngerumpi, chat, dan lain sebagainya. Tentu saja ada aktivitas yang dikecualikan, seperti aktivitas yang menyangkut nyawa manusia atau keamanan orang banyak. Selain itu pilih lah shutdown anyway terhadap semua aktivitas lain selain shalat.

Anyway we also gonna shutdown anyway ( meninggal ).

MERAYAP, melata, menggeliat

Suatu ketika, saat sedang duduk di tepi pantai. Saya mendapati seekor belatung atau ulat kecil. Warnanya putih seukuran mata pensil, panjangnya tidak sampai satu centimeter. Ia merayap, melata, menggeliat seperti sedang berupaya keras mencapai sesuatu. Sambil sesekali angin laut menghempaskan tubuhnya yang tanpa kaki tanpa lengan itu. Terus saja ia merayap, melata, menggeliat seakan tak peduli apakah hempasan tadi membuatnya menjadi lebih dekat atau lebih jauh dari tujuannya, itu pun kalau ia punya tujuan. Tak pula ia peduli akan resiko ombak yang bisa menenggelamkan serta mengakhiri hidupnya, hidup yang entah punya arti atau tidak.

Ia terus merayap, melata, menggeliat entah mau kemana, entah apa tujuannya. Karenanya mengundang diriku untuk bertanya kepada makhluk yang nampak remeh itu. Wahai ulat kecil! Engkau mau kemana? Apa yang engkau tuju? Angin begitu besar, ombak bisa datang kapan saja. Mengapa engkau tak diam saja menunggu rezeki yang sudah pasti dijamin Tuhanmu. Atau menunggu ajal yang pasti. Mengapa engkau seakan masih berupaya begitu keras, padahal usahamu tak seberapa. Sedari tadi kau bergerak, bahkan tak setengah meter pun kau capai. Mengapa kau tak menyerah saja? Berhenti merayap, melata, menggeliat.

Sudah jadi kebiasaanku untuk menyimak, merasa, dan meresapi apa yang alam coba ungkapkan. Sekalipun ia nampak remeh seperti seekor ulat ini, atau sehelai daun yang jatuh, atau sebatang rumput yang kering. Jika aku beruntung maka alam akan membisikkan rahasia-rahasia yang hanya dapat diengar oleh orang-orang yang mau mendengar. Rahasia-rahasia para orang suci. Jadi, apa yang hendak kau sampaikan wahai ulat kecil?

Seperti biasa juga alam tak lantas memberi jawaban. Alam ingin menguji, bukan hanya siapa yang bersedia mendengarkan, tapi siapa yang sabar. Sampai pada akhirnya alam kan memberi jawaban. Bukan melalui gelombang suara yang dapat didengar gendang telinga. Bukan pula melalui tulisan-tulisan. Jawaban itu langsung berupa pemahaman yang menyerap ke hati. Pemahaman baru yang ku yakin itu bukan datang dari diriku sendiri. Pemahaman itu terserap dalam jiwa langsung tanpa perantaraan kata dan pemikiran.Ibarat zat gizi yang langsung diserap oleh tubuh tanpa perlu dikunyah lewat mulut, melalui usus, dan dicerna oleh lambung.

Ulat kecil itu lantas mengajariku tentang makna mengapa ia merayap, melata, menggeliat seperti itu. Ia kemudian menjawab pertanyaan "Mengapa engkau tak menyerah saja?" Jawabannya bijak, dalam, dan menohok. Sekaligus ringkas, sederhana, dan lugas. Begini dia berujar :

"Aku tak diperintahkan untuk diam saja, aku diperintah untuk seperti ini, merayap, melata, menggeliat. Persoalan apakah angin kan menghempaskanu entah kemana. Atau persoalan resiko ombak yang berpotensi menenggelamkanku. Maka aku tak ada urusan dengan itu semua, aku tak peduli. Urusanku hanyalah menjalankan apa yang telah Allah perintahkan  untuk dijalankan. Yaitu merayap, melata, menggeliat". Dan hanya sebait paragraf itu yang ulat kecil itu ungkapkan.

Seorang sufi pernah ditanya oleh muridnya, mgengapa guru tak pernah menceritakan hikmah dari suatu cerita. Sang  guru balik bertanya kepada muridnya. Maukah kau memakan makanan yang dikunyahkan orang lain untukmu?

Terakhir terdengar sayup-sayup suara, yang sepertinya berasal dari ulat kecil itu; Wabidzalika umirtu wa ana minal muslimiin.

kapan

Kapan diri ini mulai menyadari bahwa segala sesuatu yang nampak ini ternyata bukan milik kita?
Rumah yang selama ini ditinggali ternyata bukan milik kita
Kendaraan yang STNK nya tertulis atas nama kita ternyata bukan miliki kita
Uang di rekening bank pun bukan milik kita

Bahkan ...
Keluarga yang sangat sangat dicintai juga bukan milik kita
Tubuh yang dari lahir bersama juga bukan milik kita
Waktu yang selama ini dijalani juga bukan miliki kita

Lalu apa yang milik kita? Jawabannya: tidak ada
Lalu kalau bukan milik kita bagaimana?
Lakukan apa yang kamu lakukan terhadap barang yang dititipkan padamu
Jaga tapi jangan merasa memiliki

Jumat, 11 Januari 2019

NOMADEN: no place to come home

Bila kamu bertanya kepadaku rumahku dimana? Aku akan menjawab sekarang aku bertempat tinggal di daerah ini. Adapaun jawaban langsung dari pertanyaan itu tak sangup ku jawab. Rumah, atau dalam bahasa inggrisnya ‘home’, telah lama hilang dari hidupku. Kemungkinan sejak aku mulai kuliah, aku telah kehilangan arti sebuah rumah. Hingga akhirnya aku bekerja, menikah, punya anak, tak kunjung pula ku temukan suatu bangunan, suatu tempat yang layak ku sebut rumah.

Aku merasa tidak ditakdirkan untuk tinggal di suatu tempat. Aku merasa tak punya rumah. Aku merasa tak punya tempat untuk pulang. Aku tak tahu di depan sana apakah ada suatu tempat atau suatu bangunan yang mau menampung diriku di masa tua nanti. Ataukah ku harus terus menerus berpindah dari suatu tempat ke tempat lain. Dari suatu bangunan ke bangunan lain. Iya, fisikku mungkin bisa berpindah-pindah, tapi hatiku memerlukan tempat berlabuh.

Mungkinkah ini kutukan, ataukah memang sudah takdir. Mungkinkah ada di antara manusia yang memang ditakdirkan untuk tidak tinggal menetap di suatu tempat? Mungkinkah itu aku? Tidak tahu juga, tidak ada yang tahu tentang takdir kecuali Ia yang menciptakan takdir itu sendiri. Tidak juga iblis atau malaikat. Namun Tuhan itu bijaksana, maha bijaksana. Memang ia tak memapukan kita sebagai manusia untuk mengetahui takdir, tapi Ia membuat kita manusia dapat merasakannya. Dan yang saat ini aku rasakan adalah; Ia tak mentakdirkanku untuk tinggal menetap di suatu tempat.

Bekasi, Depok, Cilegon, Surabaya, Serang, Tangerang, Jakarta, Bayah ... what next?