Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Februari 2019

a grain of HOPE

Lagi-lagi menjalani hari tanpa arti
Rutinitas yang membuat jiwa kebas
Memintasi waktu dibumbui ragu
Menjelajah hidup yang sedikit redup

Meski cerah tak tahu kapan
Masih kusimpan sebiji harapan
Yang dengannya aku berteman
Dan lagi aku masih punya Tuhan

LIFE aint easy

Ketika hari ini diisi dengan hal yang tidak enak dan mengesalkan hati
Mungkin hasil kerjamu diremehkan dan tak dihargai
Atau kau mendapat celaan serta caci maki
Bisa jadi kau diperalat dan dikhianati
Atau kau melakukan kesalahan disrepair kebodohan

Beban hidup yang terlampau berat
Utang yang belum bisa dibayar
Sakit hati yang tak kunjung sembuh
Sakit fisik yang tak juga pulih
Atau sekedar rutinitas tanpa arah

Banyak lagi peristiwa dan perasaan yang tak mengenakkan di hati
Ketahuilah memang hidup seperti itu
Dan akan terus seperti itu
Menguji kesabaran dan keteguhan hati
Dengannya Tuhan hendak menakar siapa yang layak

Yang tetap tersenyum dan bahagia di akhir hari
Yang tetap bersyukur dan memaafkan atas apa yang terjadi
Mereka itulah para pemenang kehidupan
Yang layak atas piala dari Tuhan
Yaitu surga yang dijanjikan

Kamis, 14 Februari 2019

life is WEIRD

Tidakkah hidup itu aneh
Ada orang yang tidak bahagia dalam pernikahan
Ada orang yang bahagia dalam kesendirian

Tidakkah hidup itu aneh
Ada orang yang mencintai tanpa bisa memiliki
Ada orang yang memiliki tanpa punya rasa cinta

Tidakkah hidup itu aneh
Hal-hal yang dimiliki tak disyukuri
Lantas ketika ia hilang barulah dihargai

Tidakkah hidup itu aneh
Kita ingin menjadi kuat dan tegar
Namun tak ingin berhadapan dengan masalah

Hidup itu tidaklah aneh
Kata hidup itu sendiri
Justru kamu yang aneh

that SIMPLE

Hidup itu mudah jangan dipersulit
Hidup itu harus punya tujuan
Tujuannya pun sudah ditentukan
Yaitu beriman dan taat pada Allah
Misinyapun mudah, sudah ditentukan pula
Yaitu mengikuti Rasulullah
Semudah itu ...

Namun seringkali mengapa bisa serumit ini?

the lost PUZZLE

Ada sepotong puzzle yang salah masuk kardus. Ia harusnya tidak berada di kardus itu dan bukan menjadi bagian dari gambaran itu. Sayangnya, itu baru ia ketahui ketika potongan-potongan lainnya sudah tersusun rapih diatas meja. Pilihannya adalah memotong potongan puzzle tersebut agar sesuai dengan tempat kosong yang masih tersedia. Atau mencari kardus dan gambaran dimana potongan puzzle tersebut seharusnya berada.

Pilihan pertama tentulah lebih mudah dan tidak merepotkan, meskipun jadinya dipaksakan. Akan ada bagian dari potongan puzzle itu yang dibuang dan gambaran keseluruhan jadi tak sempurna. Tapi tidak mengapa, lagipula siapa yang mau memperhatikan tiap detailnya. Tapi bagi potongan puzzle tersebut, itu bukan hal kecil, ia akan menghabiskan sisa hidupnya di antara potongan puzzle lain yang bukan kawanannya. Belum lagi ia harus merelakan sebagian dirinya terpotong dan terbuang.

Pilihan kedua sangat-sangat merepotkan, kalau boleh dibilang mustahil. Mencari kardus puzzle hanya untuk satu potongan kecil puzzle tampaknya tidak efisien, buang-buang waktu, dan juga tenaga. Hanya satu alasan mengapa pilihan kedua layak dijalankan. Karena itu adalah pilihan yang benar.

Minggu, 05 April 2015

HIDUP ini luas

Secara fisik, secara pemikiran dan secara batin...
Hidup ini luas. Sebegitu luasnya hingga pikiran seluruh umat manusia sejak dari Nabi Adam hingga sekarang belum mampu membuka misteri, menjelajahi seluruh kehidupan ini
Hidup ini luas, sebegitu luasnya hingga Allah mengibaratkan ilmu yang diberikan kepada manusia itu ibarat air yang menempel pada jarum yang dicelupkan ke samudra
Hidup ini luas, sebegitu luasnya sehingga berbagai jawaban dari pertanyaan dan permasalahan manusia justru memunculkan banyak pertanyaan dan permasalahan baru

Hidup ini luas, lalu masihkah kita ingin menghabiskan sisa waktu di satu tempat seumur hidup kita?

Sabtu, 04 April 2015

hidup ini SEMENTARA

Hidup ini sementara, akhirat selama-lamanya. Seorang sufi pernah duduk diam di sebuah jembatan, ia makan tidur di jembatan itu. Kemudian ada orang yang terusik dengan tingkah laku sufi tersebut kemudian bertanya 'wahai syekh mengapa kamu makan tidur di jembatan? bukankah lebih nyaman jika kamu melanjutkan perjalananmu dan makan tidur setelah kamu sampai di rumah? Syekh itu menjawab, aku hanya menirukan apa yang dilakukan orang banyak terhadap kehidupan dunia ini, bukankah kehidupan dunia ini laksana jembatan, dan akhirat laksana rumah kita yang sebenarnya. Banyak orang yang lupa rumahnya dan justru nyaman berada di jembatan, tidak sadar bahwa jembatan tersebut sudah ditakdirkan untuk dirubuhkan suatu saat.

Ada lagi cerita mengenai seorang sufi yang mendapat tamu dari negeri yang jauh, kemudian tamu tersebut heran di rumah sufi tersebut tidak banyak perabotan, hanya alas tidur dan pakaian serta alat makan seadanya. Kemudian sang tamu bertanya, wahai tuan, dimanakah perabotanmu? kulihat rumahmu kosong. Kemudian sang sufi balik bertanya, dimanakah perabotan kamu? sang tamu dengan refleks menjawab, saya kan hanya bertamu disini, saya tidak perlu membawa perabotan. Sang sufi langsung menyahut 'begitupun aku, aku juga seorang tamu di dunia ini'


Imam Ghazali pernah ditanya mengenai selama-lamanya itu seperti apa? Kemudian ia membuat perumpamaan seperti ini: Seandainya bumi ini dipenuhi biji jagung, dari palung laut terdalam hingga puncak gunung tertinggi. Dan setiap seribu tahun sekali ada seekor burung yang turun dari langkit ke bumi kemudian mematuk satu biji jagung, kemudian kembali lagi seperti itu pula setiap seribu tahun. Sampai dengan biji jagung di muka bumi ini habis sama sekali, maka akhirat itu lebih lama dari itu.

Kamis, 19 Maret 2015

karena saya bukan KELEDAI

Ada orang yang hidupnya berjalan dari satu kesalahan ke kesalahan yang lain
Kesalahan yang sama dalam bentuk yang sedikit berbeda
Atau bahkan kesalahan yang sama persis
Kesalahan yang sudah terprogram di pikiran bawah sadar

Orang itu tahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan
Orang itu tahu bahwa ia tidak boleh mengulanginya lagi
Orang itu tahu bahwa keledai pun tidak mengulangi kesalahan yang sama
Namun, tetap ia mengulangi kesalahan yang sama lagi

Orang itu tidak dapat menjelaskan kenapa mengapa
Hanya entah mengapa ia berbuat seperti itu lagi
Orang itu hanya tersenyum kecut dan berkata ...

Karena saya bukan keledai

Minggu, 16 Februari 2014

Got 30

Hari ini gue berulang tahun yang ke 30. Sudah kepala tiga, bukan dua puluhan lagi, kalau kemarin masih bisa ngaku umur dua puluhan, walaupun 29 tapi judulnya masih dua puluhan. Tapi sekarang sudah 30, iya 30, sepertinya masih ga percaya sekarang umur gue udah 30 tahun. kayanya masih kemarin lulus SMA, umur 17 tahun, ga kerasa 13 tahun terlewat sejak saat itu. Ga kerasa? Emang loe kemana aja sampe sekarang umur 30 ga kerasa!

Well, pastinya banyak yang terjadi sejak usia 17 tahun sampai dengan sekarang usia 30 tahun. Mengapa usia 17 tahun yang dijadiin patokan? Karena di usia segitu saya baru mengenal dunia, maksudnya dunia yang penuh dengan warna-warni, pahit-manis, sukses-gagal, hitam-putih, bukan empat mata, tonight show....loh kok malah jadi kesini. Anyway, sampai dengan usia 17 tahun yang gue tahu hanya sekolah dan sekolah, dan pulang ke rumah tentunya. Pergi ke mall dalam setahun aja bisa dihitung dengan hitungan jari, sebelah tangan, minus jempol, maklum anak kampung dan waktu itu mall di Bekasi masih satu. Usia 17 tahun gue mulai jatuh cinta, mulai sering ke mall, mulai ikut ekskul, mulai ke Jakarta (tanpa orang tua), dan yang terpenting mulai kuliah. Sejak saat itu kehidupan mulai menunjukkan bentuknya.


Dan saat ini, di usia 30, kehidupan memang belum menunjukkan sepenuhnya wujud aslinya. Namun setidaknya gue udah tahu dan memahami kehidupan jauh lebih dewasa dibanding 13 tahun lalu. Banyak hal lebih baik dibanding 13 tahun lalu, banyak hal-hal baru yang saya lakukan, banyak tempat-tempat baru yang saya kunjungi, film yang telah ditonton dan buku yang telah dibaca tak terhitung banyaknya. Sudah selayaknya gue bersyukur dan tidak terlalu memanding-bandingkan.