Selasa, 26 Januari 2016

There's No Growth in Comfort Zone and No Comfort in Growth Zone, Benarkah?

There is no growth in comfort zone, and no comfort in growth zone. Kalimat ini saya dapat dari buku Notes from Qatar-nya Muhammad Assad. Meskipun beliau lebih muda dari saya, akan tetapi saya lebih pantas memanggilnya sebagai beliau daripada menyebutnya sebagai 'dia'. Karena apa yang telah beliau lakukan, manfaat yang telah diberikannya kepada dunia lebih banyak dibanding apa yang sudah saya kerjakan dan saya berikan. Jangankan kepada dunia, kepada diri sendri dan keluarga pun saya masih merasa belum memberikan manfaat yang optimal. Belum mengerahkan seluruh kemampuan yang saya miliki.

Disini saya mencoba mengulas kalimat tersebut. Bagi saya kalimat tersebut quite true. Cukup benar dalam konteks tertentu, akan tetapi tidak bisa dimaknai secara umum. Benar karena saya pernah mengalaminya sendiri, ketika punya penghasilan cukup lumayan, ketika rezeki berupa harta sedang di lapangkan, ketika sedang berada di tengah-tengah keluarga. Ketika itu pula saya lalai untuk mengembangkan diri, malas belajar, terlena mempersiapkan masa depan yang lebih jauh lagi. Lupa untuk memperbanyak ibadah, lupa untuk berbagi ke sesama, lupa bahwa hidup itu bukan tujuannya untuk mendapatkan kenyamanan. My life was simply trap in comfortness.

Sampai suatu ketika Allah angkat kenyaman-kenyamanan tersebut, saya dikeluarkan dari pekerjaan. Yang tadinya kemana-mana diantar oleh supir dengan mobil dinas, sekarang kemana-mana harus bawa motor sendiri. Yang tadinya tidak peduli jika di luar hujan atau panas, sekarang cuaca menjadi faktor penentu untuk berpergian kemana-mana. Yang tadinya punya bawahan untuk disuruh-suruh, sekarang tidak ada lagi yang bisa disuruh-suruh. Hidup memang begitu, roda kehidupan pasti berputar, jadi ya tidak perlu terlalu heran dalam menghadapinya. Kalau tadinya di atas sekarang di bawah, yang sekarang di bawah pastinya juga nanti bisa ke atas lagi, iya kan? Yang penting kita tidak berhenti ikhtiar, beramal dan tawakal.

And when my life suddenly not in comfort zone again, I realize that there's the moment I'm growing much more. Ketika sudah tidak ada rutinitas ke kantor lagi, dari pagi hingga sore bahkan malam hari. Hari-hari saya diisi dengan lebih banyak shalat sunnah, menghafal quran, baca Al-Quran 1 juz per hari, olahraga pagi, membaca buku di perpustakaan, menulis, bertemu orang-orang baru, meluangkan waktu bersama keluarga, mengunjungi orang tua dan kerabat. Yang itu semua sedikit atau bahkan tidak sempat saya lakukan ketika masih bekerja. Aktivitas-aktivitas yang memperkaya pribadi saya secara spiritual, keilmuan, sosial, keluarga dan kesehatan. Itu semua malah jauh lebih baik meskipun harus ditimbang dengan menurunnya sisi finansial dari kehidupan saya. Yang saya yakin, segi finansial atau rezeki insyallah sudah dijamin.

Jadi hati-hati dengan comfort zone, jangan sampai kenyamanan membuat kita lupa bertumbuh. Memang hidup itu bukan untuk mencari kesengsaraan atau kesulitan, tetapi juga bukan untuk mencari kenyamanan semata. Tidak ada salahnya menjadi nyaman sesekali, juga jangan lupa untuk terus bertumbuh.

Mana yang Lebih Baik, Karyawan atau Pengusaha?

Banyak pertanyaan muncul mengenai apakah menjadi pengusaha lebih baik menjadi karyawan? Well, jawaban atas pertanyaan itu tidak bisa dijawab secara to the point. Banyak faktor lainnya yang menentukan apakah suatu pekerjaan lebih baik daripada pekerjaan lainnya. Dari sudut pandang Allah, Allah tidak melihat apa pekerjaan kita, apa profesi kita. Yang dilihat Allah adalah keimanan dan amal kita, jadi meskipun jadi karyawan, atau pengusaha, atau pemulung sekalipun, kalau ia beriman dan beramal soleh maka orang itu mulia, no matter what their profession.

Jadi berhenti menilai lebih baik atau tidaknya suatu profesi, semata dari profesi itu sendiri. Karena Allah saja melihat seseorang dari agamanya (iman dan amalnya), maka sudah seharusnya kita juga mencontoh Allah dengan menilai orang pertama kali dari agamanya. Kalau agamanya baik, maka baru kita bisa menilai profesinya, menilai dari kecerdasannya, melihat prestasinya dan lain-lain.

Seandainya ada dua orang yang memiliki agama yang baik, sama-sama rajin sholat, berbakit pada orang tua, rajin sedekah dan sebagainya. Orang pertama berprofesi sebagai karyawan, sedangkan yang kedua berprofesi sebagai pengusaha yang memiliki beberapa orang karyawan. Mana yang lebih baik? Dari sini kita baru bisa menilai, secara umum, bahwa orang yang menjadi pengusaha adalah lebih baik. Mengapa? Karena ia bekerja bukan hanya untuk dirinya sendiri, lebih lagi untuk kesejahteraan karyawannya, kesejahteraan keluarga karyawannya juga. Melalui dirinya, Allah membuka lapangan pekerjaan dan sumber nafkah bagi orang lain.

Meskipun penilaian mana yang lebih baik atau mana yang kurang baik itu selalu relatif, bergantung pada yang menilai dan yang dinilai, bergantung pula pada situasi dan kondisi, dan terlebih lagi bergantung pada hati yang tidak mungkin dinilai oleh orang lain. Secara umum, bagi saya pribadi, jika seseorang itu adalah orang yang soleh menjadi pengusaha adalah lebih baik. Karena dengan menjadi pengusaha, dengan jalan perniagaan, berarti kita telah mencari rezeki melalui 9 pintu, dibanding menjadi karyawan yang mencari rezeki hanya melalui 1 pintu. Dengan begitu peluang untuk mendapat rezeki yang lebih lapang, secara statistik, lebih terbuka lebar. Dengan rezeki yang lapang, dan berkah tentunya, kita bisa berbuat lebih banyak kebaikan. Bisa berzakat lebih besar, bisa bersedekah lebih banyak, bisa menyumbang untuk masjid dan pesantren, bisa memberikan pinjaman kepada yang membutuhkan, bisa pergi haji dan umroh, bisa memberangkatkan haji dan umroh orang lain, bisa berkurban, dan banyak lagi ibadah yang memerlukan harta dalam pelaksanaannya.

Dengan menjadi pengusaha, kita menjadi perantara Allah dalam menyalurkan rezeki ke orang lain melalui lapangan pekerjaan yang kita buka untuk saudara kita, melalui gaji yang kita berikan kepada karyawan, dan melalui berbagai bentuk tunjangan kesejahteraan yang mungkin kita berikan kepada para karyawan. Dengan menjadi pengusaha pula waktu kita tidak terikat karena bekerja untuk orang lain, kita bisa bebas melakukan ibadah pagi berdzikir, mempelajari quran, shalat dhuha hingga jam 8, bisa shalat dhuha 12 rakaat tanpa khawatir ada yang menegur, bisa mengunjungi orang tua tanpa harus menunggu weekend.

Kesimpulannya, jika ditanya mana yang lebih baik antara karyawan dan pengusaha, saya akan menjawab yang lebih baik adalah yang paling beriman kepada Allah dan paling ikhlas dan banyak amal solehnya.  Jadi pengusaha kalau suka melalaikan shalat percuma juga, hina juga statusnya di mata Allah. Jadi karyawan kalau rajin ke masjid jauh lebih menentramkan. Karyawan dan pengusaha adalah sama-sama mulia di sisi Allah jika keduanya bertakwa. Namun ada potensi-potensi kebaikan yang lebih besar yang bisa dilakukan oleh seorang pengusaha dibanding seorang karyawan. Pun ujiannya lebih besar menjadi pengusaha dibanding menjadi karyawan.

So, it's up to you, mau menjadi karyawan atau menjadi pengusaha, let your heart decide.

Apa Rezeki Kamu Hari Ini?

Kemarin saya menemukan postingan menarik dan inspiratif di Kaskus. Postingan yang memaksa saya mengingat kembali makna rezeki yang sebenarnya. Sebuah tulisan yang menyentil kesadaran saya betapa Allah Maha Pemberi Rezeki yang rezekiNya tidak akan habis dibagi kepada manusia dan seluruh makhluknya sampai hari kiamat. Postingan yang berjudul 'REJEKI GAK AKAN KEMANA GAN' diposting oleh akun mosesrio99. Semoga pahala kebaikan dari orang yang tergerak hatinya atas tulisan ini mengalir kepada beliau. Berikut postingan lengkapnya :

REJEKI BANYAK BENTUKNYA
Kemarin hujan mulai jam 9 pagi, seorang tukang rujak numpang berteduh di teras ruko saya.
Masih penuh gerobaknya, buah-buah tertata rapi. Kulihat beliau membuka buku kecil, rupanya Al Quran. Beliau tekun dengan Al-Qurannya. Sampai jam 10 hujan blm berhenti.
Saya mulai risau karena sepi tak ada pembeli datang.
Saya keluar memberikan air minum.
“Kalau musim hujan jualannya repot juga ya, Pak… ” .. “Mana masih banyak banget.”
Beliau tersenyum, “Iya bu.. Mudah-mudahan ada rejekinya.. .” jawabnya.
“Aamiin,” kataku.
“Kalau gak abis gimana, Pak?”. tanyaku.
“Kalau gak abis ya risiko, Bu.., kayak semangka, melon yang udah kebuka ya kasih ke tetangga, mereka juga seneng daripada kebuang. kayak bengkoang, jambu, mangga yang masih bagus bisa disimpan. Mudah-mudahan aja dapet nilai sedekah,” katanya tersenyum.
“Kalau hujan terus sampai sore gimana, Pak?” tanyaku lagi.
“Alhamdulillah bu… Berarti rejeki saya hari ini diizinkan banyak berdoa. Kan kalau hujan waktu mustajab buat berdoa bu…” Katanya sambil tersenyum.
“Dikasih kesempatan berdoa juga rejeki, Bu…”
“kalau gak dapet uang gimana, Pak?” tanyaku lagi.
“Berarti rejeki saya bersabar, Bu… Allah yang ngatur rejeki, Bu… Saya bergantung sama Allah.. Apa aja bentuk rejeki yang Allah kasih ya saya syukuri aja. Tapi Alhamdulillah, saya jualan rujak belum pernah kelaparan.
“Pernah gak dapat uang sama sekali, tau tau tetangga ngirimin makanan. Kita hidup cari apa Bu, yang penting bisa makan biar ada tenaga buat ibadah dan usaha,” katanya lagi sambil memasukan Alqurannya ke kotak di gerobak.
“Mumpung hujannya rintik, Bu… Saya bisa jalan ..Makasih yaa ,Bu…”
Saya terpana… Betapa malunya saya, dipenuhi rasa gelisah ketika hujan datang, begitu khawatirnya rejeki materi tak didapat sampai mengabaikan nikmat yang ada di depan mata.
Saya jadi sadar bahwa rizki hidayah, dapat beribadah, dapat bersyukur dan bersabar adalah jauh…jauh lebih berharga daripada uang, harta dan jabatan

Suatu pelajaran dan hikmah yang Allah berikan melalui tukang rujak. Tukang rujak yang beriman dan bijaksana sungguh lebih berharga di mata Allah daripada orang-orang berduit yang menjalani hidup tanpa makna dan seringkali lupa akan aturan Allah.

Memang selama ini kita cenderung memaknai rezeki hanya berupa hal-hal yang sifatnya materil semata. Jika kita mendapat uang, mendapat barang-barang, mendapat makanan, baru kita merasa mendapat rezeki dari Allah. Padahal rezeki itu tidak hanya sesuatu yang sifatnya materil, justru rezeki yang tingkatannya tinggi itu lebih banyak bersifat non materil, tidak dapat dilihat.

Teringat ceramah dari seorang ustadz yang nama, tempat dan waktunya saya tidak ingat. Yang tersisa di memori hanyalah pelajaran yang diambil dari ceramah beliau. Yang walaupun saya lupa namanya, tapi saya yakin Allah tak pernah lupa dan mengirimkan aliran pahala yang tidak terputus atas hikmah yang pernah beliau sampaikan kepada saya dan jamaah lainnya.

 Dari ceramah tersebut saya mengetahui bahwa rezeki itu ada tiga tingkatan, yaitu :

1. Rezeki dengan tingkatan yang paling rendah. Yaitu rezeki berupa materi, uang, makanan, harta, jabatan, bahkan keluarga pun merupakan rezeki yang paling rendah tingakatannya. Sesuatu yang sayangnya selama ini kebanyakan dari kita berusaha mendapatkannya dengan (hampir) mati-matian.

2. Rezeki dengan tingkatan yang menengah. Yaitu rezeki berupa kesehatan, baik itu kesehatan badan maupun pikiran. Kesehatan jasmani maupun kesehatan rohani. Kesehatan ini tidak terlihat, non materil, dan bahkan jarang disadari. Tanpa rezeki berupa kesehatan ini, rezeki tingkatan dibawahnya tidak akan terasa. Orang yang terbaring di rumah sakit tidak akan merasakan nikmatnya makanan, nikmatnya uang, nikmatnya jabatan, bahkan nikmatnya punya istri cantik dan seksi.

Dua tingkatan rezeki ini, yang rendah dan menengah; harta, keluarga dan kesehatan diberikan kepada orang yang beriman maupun orang yang tidak beriman, diberikan kepada orang muslim maupun orang non muslim. Disinilah sifat Rohman Allah, sifat Pengasihnya Allah. Bahwa Allah memberi rezeki (tingkatan rendah dan menengah) kepada semua makhluknya tanpa melihat apakah ia beriman atau tidak, apakah ia muslim atau bukan, sesuai dengan sunatullah yang telah ditetapkanNya. Siapa yang berusaha sesuai sunatullahNya maka ia akan diberi rezeki tingkat rendah dan menengah ini, siapapun ia, meskipun perilakuknya seperti Firaun.

3. Rezeki dengan tingkatan tertinggi. Yaitu rezeki berupa iman, ilmu, dan amal soleh. Orang yang yakin bahwa rezeki itu datangnya hanya dari Allah adalah orang yang diberi rezeki yang sangat besar, lebih besar dari orang yang diberi rezeki Pajero Sport sekalipun. Orang yang diberi ilmu dan pemahaman bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram, mana yang wajib, mana yang sunnah, itu adalah orang yang lebih beruntung daripada orang yang punya rumah mewah di Pondok Indah. Orang yang diberi hidayah untuk bisa shalat fardhu berjamaah, bisa shalat sunnah, bisa membaca quran, adalah orang yang lebih punya rezeki dibanding orang yang menjabat CEO di perusahaan besar.

Nikmat ini hanya diberikan Allah kepada hamba-hambanya yang beriman, hanya diberikan kepada hamba-hambanya yang disayang. Disinilah sifat Rahim Allah, sifat Maha Penyayangnya Allah. Tidak layak sama sekali orang yang telah diberi nikmat yang paling tinggi untuk iri kepada orang yang hanya diberi nikmat tingkat rendah dan menengah.

Jika bangun tidur tubuh dan pikiran kita masih sehat maka kita telah diberi rezeki. Jika di pagi hari kita masih menemukan makanan untuk sarapan dan pakaian untuk dipakai maka kita telah diberi rezeki oleh Allah. Jika kita diberi kesanggupan untuk shalat subuh berjamaah maka kita telah diberi rezeki. Jika setelah itu kita diberi hidayah untuk berdzikir, membaca quran, shalat dhuha, maka kita telah diberi rezeki yang banyak hanya dalam waktu pagi yang singkat.

Orang yang berakal manakala ia telah diberi uang satu milyar, maka ia tidak akan memusingkan apakah ia akan diberikan uang seratus ribu atau tidak. Orang yang beriman dan beramal soleh tidak akan
khawatir apakah ia akan diberi banyak harta atau tidak. Karena baginya, iman yang ada di dalam hati dan amal soleh yang ia kerjakan jauh lebih berharga daripada harta sepenuh dunia.

Dan jika besok kita ditanya oleh seseorang 'Kamu sudah dapat rezeki apa saja hari ini?' Semoga kita bisa menjawab 'Alhamdulillah, sudah diberi rezeki bisa bangun malam shalat tahajud, sudah diberi rezeki bisa berangkat ke masjid shalat qabliyah subuh dan shalat subuh berjamaah, sudah diberi rezeki bisa berdzikir di pagi hari, sudah diberi rezeki membaca quran ...'.

Dan jika besok kita gagal mendapat order, kehilangan harta benda atau jabatan, atau usaha sepi. Tetap ucapkanlah 'Alhamdulillah saya masih hidup, masih diizinkan untuk beribadah kepada Allah, masih diizinkan untuk bertobat dan meminta ampun atas dosa-dosa saya, masih diizinkan untuk shalat, dzikir, membaca quran, menuntut ilmu'

Terakhir saya ingin mengutip kembali perkataan tukang rujak yang bijaksana, semoga bisa mengingatkan kita.

Kita hidup cari apa, yang penting bisa makan biar ada tenaga buat ibadah dan usaha

Semoga kita semua diberi hidayah dan hikmah dari Nya, Allah Sang Maha Pemberi Rezeki. Aamiin.

Jumat, 11 Desember 2015

menjadi KONSULTAN

Paling tidak enak ketika kita menganggur lalu ada orang bertanya 'Pekerjaan bapak apa?', sepertinya ada harga diri kita yang hilang disitu ketika kita tidak punya pekerjaan, khususnya bagi kaum pria yang memang fitrahnya mencari nafkah melalui berbagai profesi. Meskipun saya sudah berhenti dari pekerjaan lama saya sebagai manajer koperasi, dan belum diterima di perusahaan manapun, saya bisa menjawab pertanyaan 'Pekerjaan bapak apa?'. Karena saya menciptakan pekerjaan bagi diri saya sendiri, dan insyaallah kedepannya bisa juga membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Pekerjaan saya saat ini adalah konsultan koperasi dan penulis, itu profesi saya sekarang. Konsultan koperasi, tidak kalah bergengsi dari manajer koperasi. Justru kata Pa Mario Teguh, konsultan adalah puncak dari segala profesi. Orang kalau sudah ahli, maka ujung-ujungnya menjadi konsultan. Menjadi konsultan itu mulia, membantu banyak orang keluar dari masalah-masalah yang dihadapi, membantu menjawab persoalan-persoalan orang banyak. Tidak seperti kita bekerja pada satu perusahaan yang manfaatnya terbatas pada perusahaan tersebut. Menjadi konsultan memungkinkan kita untuk memberi manfaat kepada lebih banyak orang. Orang yang bahkan belum kita kenal sebelumnya, orang yang jauh di seberang pulau sana.

Bahkan bisa dibilang saat ini saya sedang memulai pekerjaan impian saya. Meskipun awalnya uangnya tidak seberapa atau bahkan mungkin tidak cukup untuk kehidupan sehari-hari, tapi tidak apa-apa namanya juga baru merintis. Kata pepatah start small, dream big; think global, act local. Saya yakin usaha konsultan koperasi yang saya rintis ini, insyaallah dapat memberi manfaat bagi banyak orang, dapat menjadi sumber penghasilan yang cukup bagi saya dan keluarga. Saya bermimpi, melalui profesi konsultan koperasi ini saya bisa bertemu banyak orang dari seluruh penjuru nusantara, mendatangi tempat-tempat di pelosok Indonesia yang belum pernah saya kunjungi. Mimpi saya adalah travelling while working; sharing while you earn money. Profesi konsultan koperasi sangat memungkinkan untuk itu.

Alhamdulillah, semua sudah ada jalannya, semua sudah tertulis dalam takdir. Dan profesi baru yang saya jalani ini semoga berkah, semoga memberi manfaat bagi banyak orang, semoga saya diberi kekuatan untuk bertahan dan melewati segala tantangan yang pasti ada kedepannya. Semoga siapapun juga yang membaca tulisan ini diberi keberanian, diberi kesempatan untuk menjalani pekerjaan impiannya. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan pada pekerjaan yang salah, hidup ini terlalu singkat untuk tidak mengikuti kata hati. Uang hilang bisa dicari lagi, waktu hilang takkan pernah kembali. Lebih baik kita kehilangan uang daripada kehilangan waktu menjalani pekerjaan yang tidak sesuai kata hati.

Kamis, 10 Desember 2015

officially NGANGGUR

Hari Rabu tanggal 02 Desember 2015 ini saya resmi dipecat dari pekerjaan dari koperasi dimana saya telah bekerja selama tiga tahun. Singkatnya alasan saya dipecat adalah karena sudah tidak ada kecocokan dengan pengurus. Pendirian, sudut pandang, cara berpikir, cara bertindak saya dan pengurus sudah tidak sejalan. Jadi daripada diteruskan tapi satu sama lain gontok-gontokan, lebih baik berpisah secara baik-baik. Dan sejak hari itu saya secara resmi menjadi pengangguran.

Ini yang ke tiga kali saya menjadi pengangguran. Yang pertama ketika putus kuliah di tahun 2004, saya sempat menganggur hampir satu tahun. Masa itu bisa dibilang adalah masa-masa terpahit dalam hidup saya. Karena itulah pengalaman pertama saya sebagai pengangguran, yang ternyata sangat tidak enak. Stress karena tidak kunjung mendapat pekerjaan, tidak punya kegiatan, tidak punya aktivitas, hidup seakan tidak ada makna, ditambah stress karena harus DO dari kuliah.

Kemudian pengalaman kedua ketika saya memutuskan berhenti dari pekerjaan karena atasan dengan sewenang-wenang menurunkan gaji saya dan rekan-rekan, itu terjadi di tahun 2012. Waktu itu saya menganggur sekitar 3 bulan sebelum akhirnya bekerja sebagai staf marketing di salah satu developer perumahan. Meski cuma menganggur 3 bulan, namun pengalaman menganggur yang satu ini juga cukup berat. Karena posisi saya sudah punya istri dan anak yang harus dinafkahi, cicilan rumah dan motor yang harus tetap dibayar, dengan hanya mengandalkan uang tanda terima kasih (bukan uang pesangon)

Pekerjaan saya sebagai staf marketing hanya bertahan selama tiga bulan sebelum saya diterima sebagai staf di koperasi yang bisa dibilang belum punya apa-apa. Dari staf saya diangkat menjadi manajer koperasi, berhasil mengembangkan koperasi selama tiga tahun. Sampai akhirnya ada pergantian pengurus yang ternyata kami tidak mampu bersinergi karena sama-sama punya cara masing-masing yang berbeda. Dan akhir dari ketidakharmonisan tersebut berujung dengan pemecatan saya dari posisi manajer koperasi.

Sekarang saya menganggur lagi, pengalaman yang tidak mudah memang. Tapi menganggur kali ini beda dengan menganggur sebelum-sebelumnya. Lebih ringan kalau boleh dibilang, karena sebelumnya saya sudah punya pengalaman menjadi pengangguran, jadi sudah tidak kaget. Di tambah usaha-usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, itu terutama yang membuat hati menjadi tenang. Plus saat ini saya sudah lebih siap dengan wawasan, keterampilan, dan pengalaman dari pekerjaan sebelumnya.

Semoga pengalaman nganggur kali ini banyak hikmahnya, bisa kami (saya dan keluarga) jalani dengan sabar, ikhlas, dan tetap optimis. Dan yang paling penting, semoga pengalaman menganggur ini berakhir dengan pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan sebelumnya, dari sisi pekerjaannya itu sendiri maupun dari sisi penghasilannya.

Oh ya, satu lagi untuk kali ini saya menganggur cuma satu hari loh. Hari Rabu saya dipecat, hari Jumat saya sudah dapat klien untuk jasa saya sebagai konsultan koperasi. Now I'm officially working as cooperative consultant (konsultan koperasi).

Rabu, 04 November 2015

Workplace PRODUCTIVITY

Istilahnya keren 'Workplace Productivity", yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya produktivitas di tempat kerja. Emangnya penting? Penting banget, masalah produktivitas di tempat kerja bukan hanya urusan dunia tapi menyangkut urusan akhirat juga loh. Masa iya? Iya beneran, kalo ga percaya baca aja artikel ini sampe abis.

Produktivitas menurut saya pribadi, tanpa googling di internet, adalah terkait dengan hasil dan bagaimana kita menghabiskan waktu. Produktif itu kalau ada hasilnya, kalau ga da hasilnya, meskipun kelihatan sibuk, tetep aja ga bisa dibilang produktif. Betul ga gan? Seumpama ente disuruh bos buat bikin surat, terus sibuk browsing format surat di internet, cari format surat paling bagus, unduh format surat, di revisi, di rapihin paragraf, hurufnya, tanda bacanya, di cetak sampai akhirnya dua jam kemudian surat itu jadi. Setelah itu disodorin ke bos, pas itu bos bilang "Kelamaan lu, gue udah bikin sendiri suratnya udah gue email juga!". Nah produktif ga waktu dua jam yang tadi dihabisin untuk bikin surat?

Kedua 'dan'. Loh kok 'dan'? Iya soalnya 'dan' itu penting, beda dengan 'atau'. 'Dan' menandakan dua hal tersebut harus terpenuhi untuk mencapai suatu tujuan. Contohnya produktif itu mencapai hasil yang diinginkan dan menggunakan waktu secara efisien. Artinya kalaupun hasilnya tercapai tapi penggunaan waktunya ga efisien tetep ga bisa dibilang produktif. Kedua komponen tersebut harus ada.

Ok, jadi komponen yang kedua adalah menggunakan waktu dengan efisien. Waktu itu digunakan atau ga digunakan ya habis habis juga, lewat lewat juga. Contoh, jam kerja di kantor jam 07.00 sampai 16.00, dengan waktu istirahat 12.00 sampai 13.00. Itu berarti ada 8 jam kerja, tapi ga mungkin dong 8 jam itu full kita pake buat kerja, kan selama jam kerja (diluar jam istirahat) itu kita perlu ibadah sholat, perlu pergi ke toilet, perlu mungkin ngopi sesekali, merenggakan otot-otot badan yang pegel di bawa duduk, dan lain-lain. Para peneliti (ga tau ini peneliti yang mana n dari mana) menyatakan bahwa dari 8 jam kerja, 5 sampai 6 jam yang digunakan untuk melakukan aktivitas yang berhubungan langsung dengan pekerjaan, itu sudah ideal. Jadi kalau kita kerjanya menghasilkan, eh ternyata setelah kita itung-itung, jam kerja riil kita di kantor cuma 3 jam, 5 jam lainnya digunakan untuk hal-hal yang tidak terkait dengan kerjaan, mungkin terlalu sering ke toilet (ga tau ngapain), terlalu sering ngopi (malemnya begadang mungkin), kelamaan browsing (mumpung di kantor numpang internetan gratis), atau aktivitas lain yang perusahaan tidak membayar kita untuk itu. Itu tetap dibilang ga produktif meskipun hasil pekerjaannya ada.

Terus tadi dibilang produktivitas di tempat kerja itu ada hubungannya dengan akhirat, mana? Jadi begini, kita bekerja itu sama seperti orang berdagang. Cuma yang kita jual bukan barang tetapi jasa dan waktu. Kita menjual kemampuan dan waktu kita untuk perusahaan. Waktu kita yang 8 jam dari jam 7 sampe jam 4 sore sudah kita jual ke kantor, anggaplah tadi itu ga full 8 jam cuma 5 jam, karena emang kita perlu melakukan hal-hal yang sifanya manusiawi, ke toilet, bersosialisasi, makan/minum, dan lain-lain. Maka dari 8 jam itu kita harus bisa menjamin 5 jam benar-benar kita alokasikan untuk aktivitas terkait pekerjaan, work related activities kalo bahasa kerennya. Entah itu bener-bener ngerjain kerjaan, belajar supaya bisa mengerjakan pekerjaan dengan lebih cepat dan cerdas, belajar supaya bisa bantu kerjaan orang lain, berinovasi agar proses kerja lebih simple dan efisien, berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan di tempat kerja, atau hal-hal lainnya yang memberi nilai tambah bagi perusahaan. That's what we are hired for, untuk itu kan kita dipekerjakan.

Hubungannya dengan akhirat? Kerja itu berdagang, kalau kita tidak menggunakan waktu kita yang udah dibeli sama kantor untuk kepentingan kantor, tapi untuk kepentingan pribadi. Maka sama aja kita mengurangi takaran/timbangan. Iya kan? Dan mengurangi takaran/timbangan itu kan bisa menjerumuskan seseorang ke neraka. Jadi orang yang waktu produktifnya di kantor cuma 2 atau 3 jam, sisanya buat ngegosip, tidur, main game, browsing, ngerjain tugas kuliah or else. Coba merenung, introspeksi, jangan sampai waktu kerja kita justru dihitung dosa bukannya pahala.

TARGET 3 BUKU November 2015 ini

Bismillah, bulan November 2015 ini saya mentargetkan selesai menulis tiga buah buku mengenai koperasi. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi banyak orang dan mendapat ridho Allah. Ke tiga judul buku tersebut yaitu :

1. Jangan jadi koperasi ecek-ecek
Berisi tentang karakteristik yang dimiliki oleh koperasi yang tidak berkembang, atau istilahnya ecek-ecek. Jadi untuk koperasi yang ingin maju dan berkembang hindari karakteristik yang saya jelaskan dalam buku ini.

2. Kualitas seorang manajer koperasi yang oke bingits
Berisi tentang pengalaman, pengamatan, dan hasil pemikiran saya selama tiga tahun menjadi manajer koperasi. Semoga mereka yang saat ini menjadi pengelola koperasi dapat mengambil pelajaran dari buku ini sehingga dapat menjadi manajer koperasi yang TOP BGT. Syukur-syukur bisa menambah dan memperkaya isinya.

3. #KoperasiBungHatta
Buku ini rencananya berisi ringkasan pemikiran Bung Hatta yang tertuang dalam bukunya Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun. Buku aslinya tebal dan penuh berisi teks, buku ini mencoba meringkas dan menyajikan pemikiran Bung Hatta dengan lebih ringkas dan reader friendly, tentu dengan mempertahankan gagasan asli beliau, ditambah dengan pemikiran saya pribadi.

Isi dari buku-buku tersebut pada hakikatnya adalah dari Allah. Yang baik dan bermanfaatnya dari Allah dan yang kurang serta salahnya adalah dari kebodohan diri saya yang masih perlu banyak belajar. Buku tersebut terinspirasi dari pengalaman saya selama mengelola koperasi karyawan, sebagian terinspirasi karena kesalahan yang saya buat, sebagian terinspirasi dari kesalahan yang dibuat orang lain, sebagian lagi terinspirasi dari pemikiran dan renungan pribadi.

Doakan semoga bulan ini ke-tiga buku tersebut terealisasi, dapat bermanfaat bagi gerakan koperasi pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Syukur-syukur ada penerbit yang mau menerbitkannya, kalaupun belum ada maka akan saya terbitkan secara self-publishing. Edisi softcopy dari buku ini rencananya akan saya publish full version secara gratis di internet melalui web konsultankoperasi.com.

Semoga Allah meridhoi usaha saya ini. Amiin